Beranda Keislaman Akidah Antara Adzab dan Ujian, Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menyikapi Corona?

Antara Adzab dan Ujian, Bagaimana Seharusnya Seorang Muslim Menyikapi Corona?

Harakah.idTakdir Allah berupa musibah memang selalu penuh misteri. Kita tidak pernah tahu apakah musibah tersebut adalah ujian, atau justru adzab Allah. Karena memang selalu misteri, sudah sepatutnya manusia selalu berbaik sangka dan mengupayakan semaksimal mungkin dengan ikhtiar untuk mendapatkan takdir yang baik. Kalau sudah usaha dan hasilnya tidak menyenangkan, ya gak papa.

Merebaknya Virus Corona tidak hanya mengundang kekhawatiran, namun juga kepanikan dan ketakutan-ketakutan. Salah satu ketakutan yang banyak dialami oleh kaum Muslimin didorong oleh beberapa statement yang mengatakan bahwa virus Corona adalah adzab Allah Swt. Beberapa di antaranya bahkan membayangkan kedatangan virus Corona sebagai penanda Kiamat. Khawatir tentu boleh, namun ketika berlebihan, ia juga tidak baik bagi kesehatan, baik fisik maupun mental.

Lalu apakah benar Virus Corona adalah Adzab Allah Swt? Atau ia adalah ujian bagi seluruh umat Manusia?

Kita yakin bahwa seluruh musibah yang ada datang dari Allah Swt. Dan kita juga harus yakin bahwa ada hikmah di balik musibah yang datang dan Allah Swt tidak akan pernah memberikan musibah di luar kemampuan manusia. Prinsip ini harus dipegang agar manusia senantiasa optimis dalam menghadapi kesulitan-kesulitan.

Salah satu faidah turunnya musibah adalah untuk menghapus dosa-dosa dan media belajar serta introspeksi dari kesalahan yang sudah dilakukan. Sebagaimana firman Allah Swt:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah akan memaafkan sebagian besar (dosa-dosa).” (QS. Asy Syura: 30)

Nabi Muhammad Saw juga bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ ؛ وَلَا نَصَبٍ ؛ وَلَا هَمٍّ ؛ وَلَا حَزَنٍ ؛ وَلَا غَمٍّ ؛ وَلَا أَذًى – حَتَّى الشَّوْكَةُ يَشَاكُهَا – إلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit, rasa capek, kekhawatiran, kesedihan, kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti bahkan duri yang menusuknya, melainkan [ia menjadi alasan] dihapusnya dosa-dosanya oleh Allah SWT.” (HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573)

Mewabahnya Virus Corona hendaknya dijadikan media introspeksi atas kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukan. Menjaga kebersihan, mengembalikan ekosistem alam dengan menjaga habitat hewan dan tumbuh-tumbuhan serta hidup sederhana adalah beberapa hal yang bisa kita petik dari kasus virus Corona. Dengan adanya musibah, manusia kembali diingatkan oleh Allah Swt. Dengan kata lain, musibah sejatinya adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat manusia.

Kasih sayang dalam bentuk musibah dibuktikan juga oleh sebuah riwayat yang berbunyi;

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَفَّى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Jika Allah menginginkan kebaikan pada diri hamba, Dia akan menyegerakan hukumannya di dunia. Jika Allah menghendaki kejelekan padanya, Dia akan mengakhirkan balasan atas dosa yang ia perbuat hingga hari kiamat kelak.” (HR. Tirmidzi No. 2396)

Hadis ini, sekali lagi menunjukkan bahwa musibah apapun datang sebagai cambuk pelajaran bagi umat manusia agar mereka mampu memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Jika mereka bersabar, selalu optimis dan berupaya belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut, tentu saja Allah Swt akan menaikan derajatnya dan mengganjarkan dengan kemuliaan kelak di Hari Kiamat.

Singkat kata, fenomena wabah Virus Corona harus dilihat dari sudut pandang kemanusiaan dan optimisme. Yang perlu dilakukan hari ini bukanlah menyebar ketakutan mengenai adzab Allah Swt dan lain sebagainya. Lebih penting dari itu, kita harus menebar optimisme dan saling bahu-membahu untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut. Dan semuanya dimulai dari menempatkan fenomena wabah ini dalam satu keyakinan bahwa hal tersebut merupakan kasih sayang Tuhan, media belajar manusia dan keyakinan bahwa ia akan berakhir.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...