Beranda Keislaman Hadis Anti-Vaksin Berbasis Narasi Hadis, Kajian Hadis "Summu Sanatin"

Anti-Vaksin Berbasis Narasi Hadis, Kajian Hadis “Summu Sanatin” [3 – Habis]

Harakah.idPandangan yang menolak vaksin dengan didasarkan pada narasi hadis, dengan segenap model penafsirannya, merupakan bentuk paham anti-vaksin yang berbasis pada pandangan teologi atau agama. Ini bukan perkara aneh sejak teknologi vaksin muncul seratus tahun lalu.

Kandungan hadis “Summu sanatin” juga bermasalah. Seperti disinggung di muka, hadis ini tergolong hadis mauquf. Yaitu hadis yang hanya sampai pada para sahabat. Selain itu, dalam teks hadis ditemukan pernyataan “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak berlalu satu tahun sampai keduanya mati, pada hari yang sama, di akhir tahun itu.”

Jika dipertanyakan, ini pernyataan siapa? Abu Bakar, Ibnu Kaladah, lelaki pemberi hadiah, atau Ibnu Syihab Al-Zuhri? Dari berbagai kemungkinan, diduga kuat bahwa pemilik pernyataan tersebut adalah Ibnu Syihab Al-Zuhri. Pernyataan itu menunjukkan seakan Ibnu Syihab Al-Zuhri sudah lahir, hidup dan menyaksikan peristiwa Abu Bakar dan Ibnu Kaladah memakan daging rebus itu, lalu juga menyaksikan kematian keduanya setahun kemudian. Padahal, sebagaimana diulas sebelumnya, Ibnu Syihab Al-Zuhri baru lahir tahun 50-an hijriah. Jika benar itu adalah kesaksian Ibnu Syihab, maka kesaksian ini tidak bisa diterima begitu saja. Karena, ia bukan saksi mata kejadian tersebut. Pernyataan ini tergolong sesuatu yang disisipkan dalam teks matan hadis (baca: idraj, hadis mudraj).

Masalah lain adalah soal makna shafhah min khazirah (semangkuk daging rebus). Khazirah adalah masakan yang terbuat dari daging yang dicincang kecil-kecil dan diberi kuah yang banyak. Semacam sup di negeri kita. Inilah makna khazirah. Jadi, jelas bahwa khazirah bukan vaksin. Ia adalah nama menu masakan di Arab pada zaman itu.

Secara tekstual, pernyataan Ibnu Kaladah “Fiha summu sanatin” (Terdapat racun satu tahun di dalamnya) dapat berarti bahwa terdapat unsur dan elemen yang dapat berfungsi sebagai racun dalam makanan tersebut. Bisa jadi, ini adalah elemen alami seperti minyak dan lemak yang menyebabkan kolesterol, atau elemen garam yang dapat memicu hipertensi/darah tinggi. Kedua berpotensi mengganggu kinerja jantung. Organ vital manusia.

Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa maksud ucapan Ibnu Kaladah adalah ada pihak tertentu yang menaruh racun dalam makanan tersebut. Dalam riwayat lain memang disebutkan bahwa Abu Bakar wafat seperti cara Rasulullah SAW wafat, yaitu diracun.  Ada pula riwayat yang menyebut bahwa Abu Bakar wafat karena diracun.  Tetapi, sekalipun demikian, tidak jelas siapa yang menaruh racun dalam makanan yang disantap oleh Abu Bakar tersebut.  

Dengan asumsi bahwa makanan tersebut telah dibumbui racun, berarti ada jenis racun yang baru bereaksi satu tahun setelah dikonsumsi pada zaman Abu Bakar. Bisa jadi, sudah ada sejak zaman Nabi SAW. Karena digambarkan bahwa Nabi SAW wafat karena diracun setahun sebelum beliau meninggal. Pembuatan racun tersebut –meminjam istilah sang narator dalam video, berarti berdasarkan suatu teknologi tertentu.

Baiklah, kita andaikan bahwa sudah ada teknologi yang berfungsi membuat racun yang baru tampak efeknya setahun kemudian. Apakah teknologi itu, atau racun tersebut, adalah teknologi yang sama dengan teknologi vaksin? Apakah vaksin adalah racun?

Sebagaimana kita tahu, logika ini tidak bisa diterima. Karena, vaksin adalah teknologi baru yang  muncul di era modern. Belum ada pada zaman Nabi SAW. Tujuan racun dan vaksin jelas berbeda. Vaksin bukan untuk memusnahkan manusia, seperti fungsi racun pada umumnya. Tetapi, justru vaksin bertujuan menciptakan sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus dan penyakit. Racun punya fungsi korosif atau merusak sistem kesehatan tubuh.

Dengan demikian, memaknai “Summu sanatin” sebagai vaksin adalah pemahaman yang berusaha mencocok-cocokkan antara apa yang ada dalam hadis dengan kondisi saat ini yang jelas berbeda. Di sisi lain, jika disebut bahwa vaksin adalah racun pembunuh yang sudah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW, ini jelas penyesatan informasi. Karena, pernyataan “Fiha summu sanatin” adalah perkataan Ibnu Kaladah, yang belum jelas status sahabatnya.

Selanjutnya, dalam akhir video dinyatakan bahwa vaksin merupakan rekayasa orang kafir untuk mengurangi populasi dunia dan kita diajak meminta perlindungan kepada Allah agar selamat dari tipu daya mereka. Ini tentu saja menjadi pandangan yang berbeda dengan pandangan Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah dan MUI Pusat, yang justru menganjurkan vaksin. Vaksinasi merupakan usaha dan ikhtiar dalam menangani pandemi.

Pandangan yang menolak vaksin dengan didasarkan pada narasi hadis, dengan segenap model penafsirannya, merupakan bentuk paham anti-vaksin yang berbasis pada pandangan teologi atau agama. Ini bukan perkara aneh sejak teknologi vaksin muncul seratus tahun lalu. Gerakan anti-vaksin selalu ada di setiap negara karena beragam faktor; misalnya, ketidakpercayaan pada pemerintah, anti-sains, dan karena pandangan agama atau budaya.

Beberapa Kesimpulan

Artikel akan ditutup dengan beberapa kesimpulan. Pertama, kualitas hadis “Summu sanatin” adalah dhaif. Hadis ini tergolong hadis mauquf, yaitu hadis yang dinisbatkan kepada sahabat Nabi, bukan kepada Nabi SAW. Jadi, kejadian yang diceritakan dalam hadis, bukan pada zaman Nabi. Tetapi pada zaman sahabat. Kedua, khazirah bukan berarti vaksin. Khazirah adalah sup daging dengan kuah. Ketiga, “Summu sanatin” tidak berhubungan dengan vaksin. Tetapi, berhubungan dengan racun yang bersifat korosif (merusak). Bukan seperti fungsi vaksin yang bertujuan menciptakan kekebalan tubuh terhadap virus atau penyakit.

Terakhir, pandangan narator yang anti-vaksin ini jelas berseberangan dengan pandangan Pemerintah, Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan MUI yang melihat vaksin(asi) sebagai langkah yang tepat untuk menyelamatkan masyarakat dari ancaman virus di era pandemi seperti sekarang ini.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...