fbpx
Beranda Keislaman Ibadah Apa Itu Badal Haji? Inilah Definisi dan Panduan Badal Haji Era...

Apa Itu Badal Haji? Inilah Definisi dan Panduan Badal Haji Era Covid-19

Harakah.idBadal haji adalah haji yang dilakukan seseorang atas nama orang lain yang sudah meninggal atau karena uzur sehingga dia tak dapat melakukan sendiri.

Haji sebagaimana pembaca harakah.id ketahui merupakan rukun Islam yang kelima. Dikutip dari laman kantorurusanhaji.com, haji ini berbentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslimin sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji. Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang biasa dilaksanakan sewaktu – waktu.

Dalam catatan sejarah, kewajiban haji ditetapkan Allah SWT jauh sebelum Rasulullah saw melaksanakan haji wada’, maka menurut sementara ulama haji diwajibkan pada tahun ke 3 Hijrah. Ada juga yang berpendapat pada tahun ke 9, sedang Rasul melaksanakan haji beberapa bulan sebelum beliau wafat pada tahun 11 Hijrah. 

M. Quraish shihab menjelaskan di dalam Tafsir al-Mishbah, Vol 2 (Lentera hati, 2005), sebelum adanya kewajiban haji – yakni ketika Rasul di Makkah  – dua kali beliau melaksanakan Haji, tetapi ketika itu, bukan berdasar perintah Allah yang tegas mewajibkannya, tetapi hanya mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS, dan sebagai pendekatan diri kepada Allah swt.

Tahun 2020, pemerintah melalui Kementerian agama RI memutuskan tidak mengadakan pemberangkatan haji ke Mekkah, dengan dalih merebaknya wabah Covid-19.

Hal ini berimbas kepada ribuan calon Jamaah haji dan juga sejumlah orang yang mendapat amanah membadalkan haji orang lain. Terkait membadalkan haji, saya teringat tugas makalah semasa strata satu di Fakultas Syariah UIN Malang. 

Badal haji adalah haji yang dilakukan seseorang atas nama orang lain yang sudah meninggal atau karena uzur sehingga dia tak dapat melakukan sendiri.

Dari definisi ini, ada dua macam badal haji yaitu, badal haji untuk orang yang sakit/uzur dan badal haji untuk orang yang sudah meninggal.

Namun ditegaskan dalam buku Tanya jawab Manasik haji yang dirilis Kemenag, orang yang membadalkan haji harus memenuhi syarat wajib haji dan sudah melakukan haji untuk diri sendiri.

Perlu juga memperhatikan kriteria “mampu” (Istitha’ah). Punya bekal haji dan biaya transportasi (pulang-pergi) di samping nafkah untuk keperluan keluarga yang ditinggal dan yang bersangkutan tidak terbelit atau terbebani hutang. Tak mungkin ahli waris bingung membadalkan haji ayah atau ibunya, sementara dirinya terbelit hutang yang tak sedikit.

Badal haji tidak sah jika yang melakukan anak kecil, walaupun dengan izin walinya” tulis Sa’id bin Abdul Qadir Basyanfar dalam Al-Mughnie : Tuntunan haji dan umroh (2009).

Badal haji juga tidak sah jika orang yang diberi amanah badal haji menyalahi perintah.

Misal si mayit itu sewaktu hidupnya memerintahkan supaya dihajikan dengan cara ifrad tetapi orang yang diperintah tadi melakukan dengan cara qiran dan tamattu’. Berarti ia telah menyalahi dan harus menanggung pembiayaan yang telah dikeluarkan.

Badal haji termasuk hal yang terdengar akrab di telinga warga Nahdliyin. Terkenal dengan istilah “haji Amanat”.

Umumnya bagi warga nadhliyin yang strata ekonominya rendah, haji merupakan rukun Islam yang paling berat ditunaikan, ibadah yang paling didambakan.

Tak berlebihan jika ada istilah haji “wahyu” sebab sawahnya payu, “Abidin” (atas biaya dinas), atau “pilas” (sapinya bablas atau dijual). Sampai ada juga yang telah menabung 20 hingga 30 tahun, dan biasanya mereka menabung di gerabah atau di bawah kasur.

Di kemudian hari , sebelum wafat ia berpesan : “Kalau saya tak mampu lagi pergi haji, atau sudah dipanggil Allah, tolong tabunganku dititipkan untuk ongkos hajiku”. Inilah haji amanat yang disinggung KH. Munawwir abdul Fattah dalam Tradisi-tradisi orang NU, (2006).

Munawwir juga menegaskan bahwa dalil badal haji bersandar pada dua Hadis Nabi. pertama, “Dari Luqaith bin Amir, ia pernah datang kepada Nabi dan menyampaikan ayahku sudah tua, ia tak bisa berangkat haji atau umroh. Rasulullah menjawab: berhaji dan berumrohlah engkau untuk ayahmu.” (HR. Abu dawud dan At-Tirmidzi).

Hadis berikutnya, Ibn Abbas meriwayatkan ; ada seorang perempuan bertanya pada Nabi tentang ayahnya yang meninggal dunia dan belum menunaikan haji, “Apakah saya harus menghajikannya?”. Rasul menjawab :”Jika ayahmu punya utang tidak sukakah kau melunasinya?”. Dijawabnya :”Ya, justru utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (HR. An-Nasa’i).

Diperkuat hasil keputusan Bathsul masail NU yang tercantum dalam buku Ahkamul fuqaha: Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, (2010), memutuskan bahwa apabila seseorang yang meninggal tersebut sudah istiqrar (berkewajiban haji) dan ia memiliki harta peninggalan (tirkah), maka ahli warisnya wajib menghajikannya. Dan apabila tidak memiliki harta kekayaan, maka sunnah bagi ahli waris menghajikannya. 

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...