Beranda Gerakan Apa Itu Ideologi Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani?

Apa Itu Ideologi Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani?

Harakah.idKonsep ini mengajarkan agar semua umat Islam seluruh dunia bersatu, untuk mengentaskan mereka dari perbudakan asing. Kendati bersatu bukan berarti meleburnya pemerintahan-pemerintahan Islam menjadi satu, tapi mereka harus mempunyai paradigma yang sama.

Sepak-terjang al-Afghani dalam menyuarakan pembebasan umat Islam dari Kolonialisme dan Imperialisme Barat, membuat dirinya tergolong kepada pemikir politik terkemuka pada masanya. Kendati demikian, pemikiran politiknya tak bisa dipisahkan dari pemikiran keagamaannya. Sebab, konstruksi ideologi politik al-Afghani banyak diilhami pemikirannya tentang pembaharuan Islam khususnya.

Di antara pemikiran pembaharuan al-Afghani ialah; Pertama, musuh utama umat Islam adalah penjajahan Barat yang merupakan kelanjutan dari perang salib. Kedua, umat Islam harus menentang penjajahan di mana dan kapan saja. Ketiga, untuk mencapai tujuan itu, umat Islam harus bersatu, yang dalam bahasa al-Afghani disebut Pan-Islamisme.

Konsep Pan-Islamisme yang digaungkan al-Afghani, merupakan gagasan pembaharuannya dalam bidang politik. Konsep ini mengajarkan agar semua umat Islam seluruh dunia bersatu, untuk mengentaskan mereka dari perbudakan asing. Kendati bersatu bukan berarti meleburnya pemerintahan-pemerintahan Islam menjadi satu, tapi mereka harus mempunyai paradigma yang sama.

Gagasan perjuangan yang kerap dilontarkan al-Afghani di setiap kesempatan, adalah bentuk perlawanannya kepada Kolonialisme dan Imperialisme Barat terhadap umat Islam, dengan tetap berpegang teguh kepada tema-tema ajaran Islam sebagai tendensi utamanya. Diskursus tema-tema ajaran Islam tersebut meliputi; melawan absolutisme para penguasa, melengkapi sains dan teknologi modern, kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya, melawan kolonial asing, dan persatuan umat Islam. Inilah Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani.

Kendati demikian, persatuan umat Islam dapat dicapai apabila berada dalam kesatuan pandangan dan kembali kepada ajaran Islam yang murni (Alquran dan al-Hadis). Artinya, umat Islam harus mampu menangkap kembali ajaran agamanya yang lebih dinamis, sekaligus lebih otentik.

Lahirnya Gagasan Pan-Islamisme

Konstruksi pemikiran al-Afghani tentang Pan-Islamisme, Pan-Islamisme Jamaluddin Al-Afghani berangkat dari sosio-kondisi umat Islam yang pada saat itu mengalami kemunduran. Kemunduran umat Islam bukan disebabkan Islam sendiri, atau menganggap Islam tak lagi relevan dengan perubahan zaman. Namun, kemunduran tersebut menurutnya karena umat Islam tengah meninggalkan ajaran-ajaran Islam sebenarnya dan mengikuti ajaran-ajaran yang datang dari luar Islam nan asing bagi Islam.

Ajaran-ajaran asing itu dibawa oleh sekelompok orang yang berpura-pura bersikap suci, bahkan mempunyai keyakinan yang menyesatkan. Misalnya, paham qadha dan qadar disalahartikan bahkan diubah menjadi fatalisme yang membawa umat Islam kepada keadaan statis. Padahal, ajaran Islam sendiri, bersifat dinamis dan selalu mengikuti perubahan zaman. Sehingga ajaran Islam yang demikian, menjadi buah bibir semata dan tetap eksis di atas kertas.

Selain itu, kemunduran umat Islam disebabkan oleh lemahnya persaudaran Islam. Nilai-nilai persaudaraan umat Islam tengah terputus, bukan hanya dikalangan orang awam saja, tetapi juga dikalangan alim-ulama. Usaha memperbaiki umat Islam yang demikian, menurut al-Afghani ialah dengan cara melenyapkan pemahaman keliru yang dianut umat pada umumnya, dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya.

Oleh karena itu, al-Afghani menyerukan agar segenap negeri Islam perlu bersatu dalam suatu pertahanan bersama guna membela kedudukan mereka dan dari keruntuhannya. Namun untuk mencapai hal tersebut, umat Islam harus mempunyai pengetahuan teknik dalam kemajuan Barat dan wajib mempelajari rahasia kekuatan orang Eropa.

Selain itu, cara lain yang perlu ditempuh untuk memajukan dunia Islam dan mengejar ketertinggalan dari Barat, menurut al-Afghani, adalah kembali ke teologi sunnatullah dengan pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah. Kepercayaan kepada sunnatullah akan membawa kepada pemikiran ilmiah dan sikap dinamis sebagaimana ajaran Islam sendiri. Menurutnya, sains yang berkembang dengan pesat di Eropa, perlu dikuasai kembali oleh ulama dan kaum terpelajar Islam sebagaimana kejayaan Islam di masa lalu. Namun, apakah umat Islam mampu mengejar ketertinggalannya? Wallahu a’lam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...