Beranda Khazanah Apa Itu Ka’bah, Mengenal Kiblat Umat Islam Yang Disebut dalam Al-Quran

Apa Itu Ka’bah, Mengenal Kiblat Umat Islam Yang Disebut dalam Al-Quran

Harakah.id Al-Qur’an hanya menyebutkan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama bagi manusia untuk beribadah kepada Allah SWT.

Dalam buku berjudul Ilmu Falak karya Susiknan Azhari dijelaskan bahwa Ka’bah menurut bahasa adalah Bait Al-Haram di Mekah, Al-Ghurfah (kamar), kullu baitin murabba’in (setiap bangunan yang berbentuk persegi empat). Nama lainnya adalah Bait Allah, Bait al-‘Atīq atau rumah tua yang di bangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS dan puteranya Nabi Ismail AS atas perintah Allah SWT. 

Penelusuran yang dilakukan oleh kaum mufassirin dan lainnya mengatakan tidak ditemukan teks yang menyebutkan siapa pendiri pertama dari Ka’bah. Al-Qur’an hanya menyebutkan bahwa Ka’bah adalah rumah pertama bagi manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. 

Nabi Ibrahim AS bersama putranya Nabi Ismail AS hanya membangun kembali atau meninggikan dasar-dasar Baitullah. Karena Ka’bah sudah ada sebelum manusia pertama tiba di Bumi, seperti dijelaskan dalam surat Ali Imran ayat 96. Yang artinya: “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”

Dari ayat ini dapat diketahui bahwa rumah atau Ka’bah tersebut dibangun untuk manusia, bukan manusia yang membangunnya. Di zaman Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, Allah SWT memerintahkan untuk meninggikan kembali pondasi Ka’bah. Sebagaimana terdapat dalam surat Ali Imran ayat 127.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ۝

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Syekh ‘Ala Musthofa Na’imah menjelaskan bahwa Ka’bah yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim AS merupakan Ka’bah yang telah ada sejak zaman Nabi Adam AS yang dibangun oleh malaikat. Saat banjir besar melanda Bumi pada zaman Nabi Nuh AS, Allah SWT mengangkat Ka’bah ke atas langit dan hanya menyisakan fondasi yang tertimbun pasir selama ratusan tahun. 

Berkat petunjuk dari Allah SWT, Nabi Ibrahim AS berhasil menemukan fondasi Ka’bah yang tertimbun dan membangunnya kembali bersama anaknya Nabi Ismail AS. Hingga saat ini Ka’bah yang dibangun kembali itu menjadi tempat ibadah haji dan menjadi arah kiblat umat islam.

Kiblatnya Umat Islam

Kiblat umat Islam memiliki arti arah pertemuan dan berhubungan dengan tempat bersejarah Islam. Pada awal kemunculan Islam, umat Muslim bebas menghadap kiblat ke mana saja untuk melaksanakan shalat. Hal itu berdasarkan firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 115. 

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ ۝

“Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke manapun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”

Sejarah mencatat bahwa shalat lima waktu yang pertama kali diwajibkan pada Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabatnya yang sudah memeluk Islam pada tahun 11 kenabian Muhammad SAW. Pada masa itu, shalat yang pertama kali dikerjakan Nabi SAW adalah shalat Zhuhur.

Saat itu Ka’bah merupakan kiblat shalat. Sekitar tahun 14 kenabian, Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah yang waktu itu masih bernama Yatsrib dan menjadi awal hijrah Nabi SAW. Pada bulan Rajab tahun ke-2 hijriah, barulah Nabi Muhammad SAW dan umat Muslim mengalihkan kiblat shalat ke arah Baitul Maqdis selama 16 bulan. 

Dalam beberapa keterangan disebutkan, ketika Allah SWT memerintahkan shalat dan menghadap ke Masjid Al-Aqsa dimaksudkan agar Nabi Muhammad SAW dan umatnya menghadap ke tempat yang suci, bebas dari berbagai macam berhala dan sesembahan. Karena ketika itu kondisi Masjidil Haram (Ka’bah) masih dipenuhi berhala-berhala yang jumlahnya mencapai ratusan dan masih disembah oleh orang Arab Jahiliyyah.

 Menurut penjelasan Ibnu Katsir, pada masa awal diperintahkannya shalat menghadap kiblat ke Masjidil Aqsa, ketika di Mekah Nabi Muhammad SAW shalat di antara rukun Yamani dan rukun Syami. Sehingga Ka’bah berada di hadapannya dan menghadap ke Masjidil Aqsa. 

Sementara itu, di Yatsrib mayoritas penduduknya adalah Yahudi. Kaum Yahudi dalam ritualnya atau ibadahnya menghadap ke Baitul Maqdis. Maka berbahagialah kaum Yahudi ketika melihat Nabi Muhammad SAW dan umatnya juga menghadap ke Baitul Maqdis.

Karena sejatinya, Nabi Muhammad SAW sangat menginginkan shalat menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram. Kiblat nenek moyangnya, Nabi Ibrahim AS. Maka Nabi Muhammad SAW seringkali berdoa dan bahkan menghadapkan wajahnya ke langit, memohon agar dapat berkiblat ke Ka’bah.

Maka turunlah perintah yang ditunggu-tunggu oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu perpindahan  kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram. Hal ini disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 144.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ ۝

“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Saat itu Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah. Kemudian turun wahyu untuk memindahkan arah kiblat. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sempat shalat dua rakaat menghadap ke Baitul Maqdis dan dua rakaat berikutnya berpindah menghadap Ka’bah.

Hingga sekarang, masjid tersebut masih mempertahankan dua mimbar, satu menghadap ke Ka’bah dan lainnya menghadap ke Baitul Maqdis, yang disebut dengan Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat) di pinggiran kota Madinah.  

Perubahan arah kiblat memberikan suasana gembira di hati Nabi Muhammad SAW, karena Allah SWT mengabulkan do’anya. Sebaliknya, bagi kaum Yahudi perubahan ini merupakan pukulan bagi mereka. Karena dugaan mereka selama ini terbantahkan.

Pemindahan arah kiblat ini, selain sebagai jawaban atas do’a Nabi Muhammad SAW, juga merupakan ujian keimanan saat itu, mana yang tetap istiqomah kepada Nabi SAW dan mana yang ragu. Hal ini tergambar dalam surat Al-Baqarah ayat 143.

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ ۝

“…dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...