Bolehkah Suami Memukul Isteri yang Nusyuz, Inilah Penjelasan Ulama

0
360

Harakah.idPukulan yang dimaksud dalam ayat ini, bukanlah pukulan yang dipenuhi nafsu amarah dan dendam kepada isteri. Perintah memukul isteri yang terdapat dalam ayat nusyuz ini bukanlah keharusan atau kewajiban. Namun, hanyalah sebuah kebolehan dan itupun dalam kondisi darurat.

Banyak masyarakat yang masih belum terlalu memahami konsep nusyuz dalam Islam. Sehingga perbuatan nusyuz dianggap hal sepele dan biasa dilakukan dalam kehidupan rumah tangga, antara suami dan isteri. 

Nusyuz sendiri berkaitan dengan pola hubungan antara suami dan isteri. Ayat yang berbicara mengenai Nusyuz terdapat dalam QS. an-Nisa (4) : 34 yang berbunyi :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).

Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Tafsir Q.S an-Nisa ayat 34

Letak permasalahan terkait ayat di atas ialah نُشُوزَهُنَّ yang berasal dari bahasa Arab “nasyaza” yang bermakna nampak lebih tinggi dari permukaan bumi. Sedangkan dalam penggunaannya, kata nusyuz juga bermakna membangkang dan sikap kedurhakaan. Ibn Manzur memaknai nusyuz sebagai rasa kebencian salah satu pihak terhadap pasangannya sendiri. Jadi, nusyuz dapat diartikan sebagai sikap ketidakpatuhan terhadap salah satu pasangan.

Nusyuz sendiri dalam tafsir al-Khazin, dapat berbentuk kata-kata atau perbuatan. Bentuk nusyuz yang sering dilakukan istri terhadap suaminya seperti menjawab panggilan suami dengan tidak sopan dan acuh, tidak memberikan perhatian dan sibuk dengan dunianya sendiri, mencaci suami ketika diberi nasihat, menganggap diri benar dan menyalahkan suami ketika diberi solusi, mengabaikan nasihat suami ketika diperintahkan untuk menutup aurat, atau perintah agama lainnya.

Sikap nusyuz seorang istri memiliki 3 tingkatan. Pertama, seorang isetri tidak patuh terhadap Allah SWT merupakan nusyuz tingkat tinggi. Allah saja tidak dipatuhinya, apalagi suaminya. Kedua, ketidakpatuhan isteri kepada suami sebagai pemimpinnya. Ketiga, mengabaikan hak dan kewajiban dirinya sebagai isteri.

Langkah-Langkah Ketika Menghadapi Isteri yang Nusyuz

Al-Quran merupakan kitab suci yang relevan untuk setiap zaman dan solusi bagi setiap permasalahan yang ada. Solusi yang al-Quran berikan juga tertera dalam ayat ini. Di antaranya :

  1. Menasehatinya (فَعِظُوهُن)

Cara yang pertama kali jika suami melihat isterinya bersikap nusyuz maka nasihatilah ia. Para ahli tafsir mengemukakan pemberian nasehat juga dibarengi dengan kata-kata yang lemah lembut, memberi pencerahan yang mudah difahami oleh isteri, dan tidak langsung menyimpulkan apalagi menyudutkannya. 

  1. Pisahkan mereka dari tempat tidurnya (وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ )

Cara kedua ini dilakukan setelah menasehati isteri ternyata dirinya masih saja membangkang dan tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh suaminya. Maka hal inilah yang dilakukan oleh sang suami. Menurut Ibnu Abbas, Ikrimah, maksudnya ialah diperintahkan untuk berpisah ranjang dan tidak saling bertegur sapa. 

Bukan berarti harus seorang suami meninggalkan rumah. Namun dibolehkannya tidur dalam satu tempat yang sama hanya saja suami membelakangi isteri. Bukan pula memisahkan isteri dengan anak-anak. Melainkan hanya tidak menghadap kepadanya. Seorang isteri akan bersedih dengan cara ini apalagi masih ada rasa cinta di antara keduanya. Menurut para fuqaha, dan para mufassir hanya boleh dilakukan selama tiga hari tiga malam.

  1. Pukullah mereka (وَاضْرِبُوهُنَّ )

Jika kedua langkah di atas telah dilakukan oleh suami, namun masih saja isteri tidak mengindahkan dan membangkang kepada suaminya hal ini boleh dilakukan. Pukulan bagaimanakah yang dimaksudkan dalam ayat ini ? Menurut Ibnu Abbas bahwasanya yang dimaksudkan ialah pukulan yang tidak keras. Yakni pukulan “ghair mubarrih” yang mana tidak menimbulkan luka, tidak mematahkan tulang, atau pukulan dengan siwak (gosok gigi) seperti tongkat atau kayu. Sedangkan menurut Hasan al-Bashri yaitu pukulan yang tidak membekas, tidak boleh dimuka umum, dan tidak boleh dibagian wajah.

Pukulan yang dimaksud dalam ayat ini, bukanlah pukulan yang dipenuhi nafsu amarah dan dendam kepada isteri. Perintah memukul yang terdapat dalam ayat nusyuz ini bukanlah keharusan atau kewajiban. Namun, hanyalah sebuah kebolehan dan itupun dalam kondisi darurat. 

Dalam tafsir al-Azhar Buya Hamka berkata ”keizinan memukul jika sudah darurat, tetapi orang yang berbudi tinggi tidak akan memukul isterinya”. Hamka juga mengatakan pada kasus tertentu perempuan ada yang harus dihadapi dengan kasar, karena wataknya memang keras dan kasar dan tidak bisa diperbaiki dengan langkah lainnya.

Secara subtansial kebolehan memukul isteri sebenarnya bukanlah sesuatu yang direkomendasikan oleh al-Quran untuk wajib dilakukan kepada isteri, melainkan sedapat mungkin dielakkan. Sebagaimana Rasulullah yang tidak pernah memukul isterinya. Maka, menurut imam al-Syafi’i tidak memukul isteri lebih baik dibandingkan melakukannya. Semoga kita semua dijauhkan dari sikap nusyuz terhadap pasangan dan selalu dalam keridhaan Allah SWT.