Apakah Arab Saudi Akan Bergabung dalam Poros Normalisasi Arab-Israel

0
277

Harakah.idPihak pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk tidak melakukan normalisasi dengan Israel. Tetapi, Arab Saudi berupaya mencoba untuk menghapus dan mengganti isi buku pelajaran sekolah dan khotbah yang penuh kebencian merupakan usaha ”normalisasi” dan perubahan radikal yang tengah coba dilakukan di internal Arab Saudi.

Pihak pemerintah Arab Saudi memutuskan untuk tidak melakukan normalisasi dengan Israel. Tetapi, Arab Saudi berupaya mencoba untuk menghapus dan mengganti isi buku pelajaran sekolah dan khotbah yang penuh kebencian merupakan usaha ”normalisasi” dan perubahan radikal yang tengah coba dilakukan di internal Arab Saudi. Hidup berdampingan dengan orang-orang Yahudi dan golongan lain adalah tujuan akhir dari upaya tersebut.

Dalam hal ini, Arab Saudi tidak gegabah memutuskan untuk menormalisasi dengan Israel seperti UEA dan Bahrain. Meski sebenarnya pihak Arab Saudi telah melakukan kerjasama dengan Israel melalui “bawah tanah”. Arab Saudi juga masih menimbang-nimbang apakah mereka bakal menormalisasi atau tidak. 

Bagi pihak Israel, jika membangun hubungan diplomatik resmi dengan Arab Saudi berhasil, maka ini merupakan sebuah kesuksesan bagi mereka. Sebab notabene Arab Saudi sebagai negara terkemuka di dunia Arab dan menjadi pusat rujukan bagi umat Islam dunia. Hal ini tentu saja menjadi sasaran utama negara tersebut. Namun, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi masih belum final membuka hubungan diplomatik secara resmi dengan negara Israel mengikuti poros normalisasi Arab-Israel. Banyak warga Arab Saudi juga bersimpati pada perjuangan rakyat Palestina. 

Upaya yang tengah gencar dilakukan oleh Arab Saudi adalah mengubah substansi dan isi pengajaran tentang orang Yahudi dan non-Muslim di buku pelajaran sekolah. Dari sebelumnya sikap merendahkan martabat orang-orang di luar Islam. Kini berubah menjadi sikap saling menghormati dan menghargai dengan kelompok mereka. Upaya ini adalah bagian dari kampanye Putra Mahkota Kerajaan Arab Muhammad bin Salman (MBS) untuk memerangi ekstremisme dan radikalisme di pendidikan.

Pelibatan Ulama

Usaha dan kampanye yang dilakukan oleh pemerintah kerajaan Arab Saudi dengan melibatkan para ulama di masjid-masjid. Salah satu perubahan ini sudah terlihat yakni dilakukan oleh salah satu ulama terkemuka Arab Saudi, Abdulrahman as-Sudais. Ia dikenal sebagai Imam Masjidil Haram, tempat suci umat Islam dan ia membahas mengenai hubungan persahabatan antara Nabi Muhammad SAW dan orang-orang Yahudi. 

Pesan yang menjadi ramai diperbincangkan adalah ketika ia menguraikan masalah hubungan antar agama, hubungan anak-orang tua yang berbeda agama, dan Nabi Muhammad SAW yang bertetangga baik dengan orang-orang Yahudi di Madinah. Tujuannya, yakni untuk mendukung toleransi beragama. 

Isi khotbah yang disampaikan oleh as-Sudais pun mendapatkan perhatian publik dan ramai di media sosial Arab Saudi. Tidak hanya itu, Mohammed al-Issa, ulama Arab Saudi lainnya dan pemimpin Liga Muslim Dunia, mencoba hal yang selama ini dirasa tabu oleh Arab Saudi, yakni dengan melawat Polandia untuk acara peringatan 75 tahun kamp Nazi di Auschwitz. 

Selanjutnya, di awal tahun ini, Riyadh juga mengumumkan pemutaran film bertema Holocaust untuk pertama kalinya di sebuah festival film di Arab Saudi. Namun, pemutaran itu tak jadi diselenggarakan sebab pandemi Covid-19.

Tindakan nyata juga dilakukan oleh MBS yang kontroversial bagi masyarakat Arab Saudi. Ia menjamu seorang rabi, pemuka agama Yahudi, David Rosen, Februari lalu. Perjamuan tersebut merupakan peristiwa pertama kalinya dalam sejarah modern Arab.

Beberapa peristiwa tersebut mengindikasikan bahwa berbicara tentang normalisasi hubungan Arab-Israel tinggal menunggu waktu saja siapa yang bakal membuka hubungan diplomatik tersebut. Hal ini menguatkan bahwa sebenarnya pelbagai upaya yang dilakukan adalah bagian dari sebuah proses yang telah dan sedang dilakukan oleh semua negara Teluk, yakni mendorong hubungan yang lebih hangat antara umat Islam dan Yahudi. Setelah itu, negara-negara tersebut akan memutuskan kebijakan penting dan lebih berani untuk membahas normalisasi hubungan Arab-Israel.

Menunggu Waktu

Berdasar pada orientasi Arab Saudi yang berubah. Ada beberapa spekulasi yang muncul, yakni akankah Arab Saudi bakal melakukan normalisasi dengan Israel? Ini yang masih ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia. Melihat situasi dan kondisi yang tengah bergulir. Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman (MBS) masih menimbang-nimbang keputusan yang bakal dieksekusi.

Pasalnya, ia dihadapkan pada persoalan sulit, apakah ia akan melanggar kesepakatan Prakarsa Damai Arab 2002 yang menyoal tentang pengentian aneksasi Israel atas Tepi Barat. Jika, Israel tak mematuhi kesepakatan damai tersebut, maka negara-negara Arab, termasuk Arab Saudi tak akan melakukan normalisasi Arab-Israel.

Tetapi, MBS juga dihadapkan pada bujukan AS, melalui Donald Trump untuk segera membuka hubungan diplomatik secara resmi dengan Israel. Kondisi ini juga membuat MBS bingung. Maka, satu-satunya jalan yang tengah ditempuh yakni menunggu proses politik berjalan. MBS juga tengah menunggu pemenang Pemilihan Presiden AS yang sudah mulai debat terbuka bulan ini dan bakal dihelat pemilihannya pada November mendatang.

Jika kemungkinannya Donald Trump kembali memenangkan pemilihan. Maka, bisa ditebak bahwa MBS akan segera membuka hubungan diplomatiknya dengan Israel. Meski dengan pelbagai konsekuensi yang diterima. Namun, jika Joe Biden yang unggul atas Trump. Tentu peta perpolitikan AS juga berubah dan keputusan Arab Saudi menormalisasi dengan Israel mungkin akan ikut berubah.

Kita tunggu saja proses politik tengah berjalan. Apakah MBS akan segera melakukan normalisasi dengan Israel? Atau bahkan MBS bakal tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel? Meski kerjasama “bawah tanah” kedua negara telah terjalin. Kita nantikan!