fbpx
Beranda Khazanah Apakah Benar Sekarang Ini World War III dan Corona Sebagai Senjata Biologisnya?

Apakah Benar Sekarang Ini World War III dan Corona Sebagai Senjata Biologisnya?

Harakah.id – Penggunaan senjata kimia sudah ada sejak Perang Dunia I dan II. Apakah berarti virus corona merupakan senjata biologis, yang berarti saat ini sedang terjadi Perang Dunia atau World War III?

Berawal dari runtuhnya kekaisaran Turki Ottoman (Turki Usmani) pada tahun 1912 oleh negara bekas jajahanya yang memerdekakan diri, Bulgaria, Yunani, Montenegro dan Serbia. Pada 1913, negara-negara tersebut saling berperang untuk memperebutkan wilayah. Saat itu, Serbia berambisi memerdekakan etnis Slavia di Bosnia dan Herzegovina yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Astro-Hongaria, Austria. Serbia meyakini bahwa ambisi tersebut dapat terwujud dengan membunuh putra mahkota kerajaan Astro-Hongaria, Archduke Franz Ferdiano.

Maka pada penyelenggaraan inspeksi militer di Sarajevo, ibukota Bosnia, pada 28 Juni 1914, Franz Ferdinand dan Sophie (istrinya) ditembak mati oleh Gavrilo Princip yang merupakan warga Bosnia keturunan Serbia. Semenjak itu, Astro-Hongaria mengirim ultimatum, ultimatum Habsburg. Namun, Serbia tidak menanggapinya dengan baik dan membuat permasalahan ini semakin panas.

Karena hal tersebut, 28 Juli 1914 Astro-Hongaria mendeklarasikan perang melawan Serbia. Astro-Hongaria mendapat jaminan perlindungan dari Kaisar Wilhelm II, Jerman. Sedangkan Kekaisaran Rusia memberi dukungan kepada Serbia. Hal ini meluas hingga terbentuk dua aliansi besar, yaitu blok sekutu (triple entente) yang terdiri dari Prancis, Kekaisaran Britania dan Kekaisaran Rusia, dan Inggris dan blok sentral (triple allientie) terdiri dari kekaisaran Jerman, Austria , Hongaria dan Italia.

Baca Juga: Ragam Keberagamaan Muslim Indonesia Di Masa Pandemik Corona

Pada Perang Dunia I ini, sudah ada penggunaan senjata kimia berupa gas klorin. Jerman menembakkan lebih dari 150 ton gas klorin yang mematikan dua divisi kolonial Prancis di Ypres, Belgia pada 22 April 1915. Sir John French menyatakan bahwa setiap manusia yang terpapar gas tersebut akan merasa lumpuh dan mengalami kematian yang menyakitkan.

nucare-qurban

Selain itu, pada Perang Dunia I ini juga telah digunakan gas fosgen dan mustard sebagai senjata kimia. Sebanyak 1,25 juta jiwa korban dari penggunaan senjata kimia ini dan 91 ribu orang meninggal karenanya.

Penggunaan senjata kimia tidak hanya pada Perang Dunia I, hal serupa juga terjadi pada Perang Dunia II. Jika pada Perang Dunia I hanya melibatkan negara-negara Eropa dan Amerika, Perang Dunia II melibatkan hampir seluruh negara di dunia.

Perang ini dimulai dari konflik antara Jepang dan Jerman. Setelah Perang Dunia I, Jerman dan Italia mengalami krisis ekonomi. Perang menyebabkan masyarakat menjadi sengsara dan hancurnya industri-industri.

Dalam kekacauan ini, Adolf Hitler membentuk Partai Nazi dan membuat propaganda bahwa kesengsaraan warja Jerman diakibatkan oleh kekalahan Perang Dunia I. Menurut Hitler, masalah tersebut dapat diatasi dengan membatalkan perjanjian Versailles, perjanjian perdamaian yang secara resmi mengakhiri perang dunia I, dan mengusir komunis serta orang Yahudi dari Jerman.

Baca Juga: Tha’un ‘Amwas, Wabah Penyakit Pada Masa Khalifah Umar Ibnu Khatthab

Pada April 1993, Hitler memegang kekuasaan penuh atas Jerman. Dia mengangkat dirinya sebagai fuhrer (pemimpin). Pada 1935, Jerman membatalkan Perjanjian Versailles dan berambisi menyatukan Jerman dan Austria. Pada 13 Maret 1938 ambisi tersebut terwujud dan Hitler semakin memperluas wilayah jajahanya.

Di samping itu, Perang Dunia II juga disebabkan oleh faham fasisme Italia. Faham fasisme merupakan prinsip kepemimpinan dengan otoritas mutlak, di mana perintah pemimpin harus dipatuhi tanpa pengecualian.

Sebenarnya, Italia merupakan salah satu pemenang dalam Perang Dunia I. Namun, Italia mengalami kekecewaan karena hanya mendapatkan keuntungan yang relatif sedikit. Kondisi politik dan ekonomi mereka lambat laun semakin hancur. Hingga pada tahun 1922 Benito Amilcare Andrea Mussolini memenangkan pemilu Italia dan mengangkat dirinya sebagai Il Duce (Sang Pemimpin).

Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [1]

Penyebab berikutnya dari perang ini juga ialah paham fasisme kekaisaran Jepang. Setelah menang dari Rusia dalam perang tahun 1905, Jepang berkembang menjadi negara dengan militer yang sangat kuat. Namun, di kemudian hari Jepang mengalami masalah ekonomi dan diperparah oleh kekacauan politik.

Pada kondisi tersebut, terbentuklah kalangan militer yang menguasai pemerintahan. Pemerintahan ini mampu menanamkan rasa patriotisme dan kedisiplinan pada masyarakat Jepang. Jepang berusaha memperluas wilayah jajahanya dengan menyerang Cina pada 1931.

Untuk melancarkan ambisinya, Jepang beraliansi dengan Jerman dan Italia. Usaha lain dilakukan Jepang dengan menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Hawai. Keesokan harinya, Amerika pun menyatakan perang kepada Jepang. Semenjak itulah terjadinya perang dunia antara Amerika Serikat dengan aliansi Jepang, Jerman dan Italia.

Senjata yang sangat mematikan pada perang dunia ini yaitu ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, Jepang. Bom atom sering disebut sebagai bom nuklir. Ledakan pada bom ini disebabkan oleh pembelahan inti unsur radioaktif yang diikuti dengan pelepasan energi. Proses ini dikenal sebagai proses fusi. Prinsip kerja dari bom atom berdasarkan bidang ilmu kimia dan fisika yang mengikuti teori albert Einstein, E = MC2

Baca Juga: Agama Itu Mudah, Dalam Kondisi Wabah Hukum Fikih Berubah Menyesuaikan dengan Masalah

Agustus 1939, Einstein menulis surat untuk Presiden Amerika Serikat saat itu, Franklin Roosevelt bahwa Nazi sedang mengerjakan senjata baru yang disebut bom atom. Desember 1941 pemerintahan Amerika meluncurkan proyek ambisius tersebut yang dinamakan “Proyek Manhattan” yang dikoordinir oleh Robert Oppenheimer bersama 3000 ilmuan fisika lainnya. Akhirnya bom ini dijatuhkan di Nagasaki dan Hiroshima pada Agustus 1945 yang menewaskan 200 ribu jiwa.

Kita mengetahui bahwa keilmuan sains merupakan sebuah pedang yang didasarkan pada penggunanya. Jika penggunanya adalah ibu rumah tangga, maka akan digunakan untuk memotong sayuran sebagai bahan makanan. Jika penggunanya adalah pembunuh, maka nyawa orang tersebut akan melayang dari pisau itu.

Virus Corona, penyebab utama runtuhnya ekonomi dunia saat ini. Pandemik akibat virus ini menyebabkan banyaknya nyawa terenggut, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan tidak ada yang tahu kapan pandemic ini akan selesai.

Mengingat konspirasi Amerika dan China, Robert O’brien, yang merupakan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat, bilang bahwa Beijing dianggap terlalu lamban dalam penanganan virus ini.

Pernyataan itu menyebabkan juru bicara Kementrian Luar Negeri Cina, Zhai Lijian beranggapan bahwa militer Amerika yang membawa virus ini ke Wuhan. Ia berkata melalui The Straint Times (12/03/2020), “mungkin saja militer AS yang membawa wabah ini ke Wuhan. Ayolah transparan! Beberkan data kalian ke publik! AS berutang penjelasan!”.

Baca Juga: Ibn Sina, Covid-19, dan Tumbuhan Obat Penangkal Wabah

Terlepas dari mana virus tersebut berasal, namun corona merupakan virus lama yang mengalami modivikasi struktur RNA-nya. Awal mula virus ini pada tahun 1937 yang menyebabkan penyakit bronkitis pada unggas. Namun apakah benar virus ini merupakan perwujudan perang dari kedua negara super power tersebut?

Apakah benar virus tersebut dibawa oleh militer AS ke Wuhan, Cina? Ataukah kebocoran dari laboratorium virologi Cina? The Washington Post melansir bahwa virus SARS-CoV-2 atau corona virus tidak direkayasa oleh manusia. Hal ini dipertegas penelitian yang dipimpin oleh Shan-Lu Lio di Ohio State University bahwa virus corona termasuk dalam kelompok virus SARS dan MERS yang berasal dari hewan. Jadi tidak mungkin bahwa virus ini buatan manusia di laboratorium, dengan kata lain virus ini berasal dari alam.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Berpotensi Besar Melahirkan Kecongkakan Sosial, Para Sufi Kritik Ritual Ibadah Haji

Harakah.id - Ketika berhaji diniatkan hanya untuk mendapatkan status sosial, maka sejatinya ia telah hilang dari visi awal ibadah haji itu...

Meskipun Kontroversial, Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

Harakah.id - Sedang marak berita penahanan Vicky Prasetyo. Meski kontroversial, Vicky tetap bisa kita jadikan acuan soal etika beragama. Dalam sebuah...

Ada Pahala Besar di Balik Anjuran Berpuasa di 10 Hari Pertama Bulan Dzul Hijjah

Harakah.id - Ada amalan lain yang disunnahkan bagi umat Islam pada bulan Dzul Hijjah, yaitu berpuasa. Di Bulan ini, kita sangat...

Lima Nilai Keutamaan Bulan Dzul Hijjah yang Harus Kamu Ketahui!

Harakah.id - Pada dasarnya, semua hari maupun bulan itu sama. Hanya kualitas perbuatan pribadi masing-masing saja yang membedakannya. Akan tetapi, Islam...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Satu Kata dalam Al-Quran Yang Cara Bacanya Aneh

Harakah.id - Di antara kata Alquran terdapat kata yang cara bacanya tidak lazim. Berikut adalah contohnya. Membaca Alquran harus...

Jangan Tertipu, Ini 10 Ciri-Ciri Al-Mahdi yang Datang di Akhir Zaman

Harakah.id ­- Keterangan datangnya dan ciri-ciri Al-Mahdi bersumber dari hadis-hadis Nabi Saw. Di antara tanda-tanda akhir zaman adalah...