fbpx
Beranda Keislaman Muamalah Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.idApakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang yang wajib zakat. Ketika dia membayar zakat, maka dia telah menjatuhkan dirinya dalam bahaya. Ini tidak diperbolehkan dalam Islam.

Zakat fitrah diwajibkan bagi orang yang memiliki kemampuan. Imam Abu Syuja’ mengatakan bahwa zakat fitrah menjadi wajib hukumnya dengan sebab tiga sebab yaitu, beragama Islam, terbenamnya matahari di akhir bulan Ramadhan, dan adanya kelebihan makanan pokok seseorang dan keluarganya pada hari itu (wujudul fadhli ‘an qutihi wa quti ‘iyalihi fi dzalikal yaum). Dari sini jelas bahwa orang yang tidak memiliki kelebihan makanan pokok tidak wajib zakat fitrah.

Bagaimana jika seseorang masih punya hutang, apakah wajib membayar zakat fitrah? Menurut keterangan Syekh Taqiyyuddin Al-Hishni dalam kitab Kifayatul Akhyar, para ulama mazhab Syafi’i berbeda pendapat. Ada yang mengatakan hutang menyebabkan seseorang tidak wajib mengeluarkan zakat fitrah. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa hutang tidak berpengaruh apapun terhadap kewajiban zakat fitrah.

Sampai di sini jelas bahwa orang yang berhutang kepada rentenir untuk membayar zakat fitrah diperselisihkan statusnya, apakah termasuk wajib zakat atau tidak wajib zakat. Mengikuti pendapat yang tidak mewajibkan zakat atas orang yang punya hutang, maka orang yang punya hutang ke rentenir tergolong orang yang tidak wajib membayar zakat fitrah. Bahkan, bisa jadi ia tergolong orang yang berhak menerima zakat. Dalam fiqh, golongan ini disebut gharimin.
Akan tetapi tidak semua orang yang memiliki hutang masuk dalam kategori gharim, ada beberapa syarat dan ketentuan terkait gharim.

Imam al-Thabari menjelaskan dalam tafsirnya bahwa orang yang berhutang dapat dikatakan gharim jika sesuai dengan ketentuan-ketentuan di bawah ini:

1. Utangnya tidak untuk maksiat.
Gharim adalah orang yang berhutang untuk kepentingan bukan maksiat, dan dia tidak menemukan barang atau harta untuk melunasi hutangnya.

2. Berhutang karena sedang mengalami musibah yang membuat hartanya habis dan harus berhutang untuk memenuhi nafkah keluarga.
Imam Mujahid berpendapat bahwa gharim adalah orang yang terkena musibah, rumahnya terbakar atau terkena banjir dan hartanya semuanya ludes habis. Kemudian dia berhutang untuk menafkahi keluarganya. Orang seperti ini disebut gharim.

3. Utang tidak untuk hal-hal yang berlebihan atau boros.
Abu Jafar berkata bahwa gharim adalah orang yang berhutang dengan tidak bermaksud berlebih-lebihan. Batasan berlebihan di sini adalah qadrul wajib, yaitu lebih dari kebutuhan wajibnya, maka disebut saraf (berlebihan).

4. Orang yang susah melunasi hutang sebab dia khawatir terjerumus pada hal yang fasad dan merusak agama.
Imam Qatadah menilai bahwa yang dimaksud gharim adalah orang yang terbelit hutang yang diambil dengan maksud bukan untuk tabdzir (berlebih-lebihan) dan fasad (merusak).

Berdasarkan penelusuran riwayat tafsir di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan gharim adalah “Orang atau pihak yang terbelit hutang untuk memenuhi kebutuhan wajibnya, baik karena habis terkena musibah atau tidak, dan hutang tersebut tidak ditujukan untuk maksiat kepada Allah dan tabdzir serta perbuatan fasad lainnya. ”

Jika demikian, maka orang yang hendak berzakat namun hartanya masih bukan menjadi milik dia sepenuhnya sebab hutang maka dia tidak dikenai hukum wajb zakat. Para ulama sepakat bahwa orang yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya atau keluarganya jika dia sudah berkeluarga, lalu terpaksa berhutang dan dia tidak mampu membayarnya, maka orang itu berhak mendapatkan harta dari zakat (mustahiq zakat), bukan justru wajib mengeluarkan zakat. Namun sekali lagi, harus memenuhi syarat-syarat dan ketentuan yang sudah dipaparkan di atas.

Terkait dengan pertanyaan, apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang yang wajib zakat. Ketika dia membayar zakat, maka dia telah menjatuhkan dirinya dalam bahaya. Ini tidak diperbolehkan dalam Islam. Selain itu, perlu diingat bahwa zakat fitrah dalam mazhab Syafi’i adalah dengan makanan pokok, bukan dengan uang. Membayar zakat fitrah dengan uang, tidak sah menurut mazhab Syafi’i.

- Advertisment -

REKOMENDASI

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Khutbah ‘Idul Fitri 1441 H.: Ketakwaan Sosial dan Iman yang Melahirkan Kasih Sayang

Khutbah pertama السلام عليكم ورحمة الله وبركاته اللهُ أَكبَر (7 x)  لَا إلهَ إِلا...

Kaidah “al-Khuruj Minal Khilaf Mustahab” dan Logika Pembentukan Komite Hijaz

Harakah.id - Komite Hijaz memiliki perannya sendiri ketika kondisi politik Arab Saudi dikhawatirkan berdampak ke segala lini. Dengan logika kaidah al-Khuruj...

Mengembala dan Berdagang Adalah Dua Camp Pelatihan Para Nabi Sebelum Diterjunkan, Tak Terkecuali Nabi...

Harakah.id – Dunia gembala dan perdagangan secara tidak langsung memberi pelajaran awal kepada Muhammad sebelum diangkat menjadi Nabi. Di sana kejujuran,...

TERPOPULER

Jumlah Takbir Shalat Idul Fitri, 7 di Rakaat Pertama dan 5 di Rakaat Kedua

Harakah.id - Penjelasan singkat mengenai jumlah rakaat dan takbir pada shalat sunnah Idul Fitri. Dua rakaat dengan tujuh takbir di rakaat...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...

Bacaan Setelah Takbir Zawaid dalam Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Harakah.id - Pada umumnya, dalam shalat wajib dan sunnah dikenal dua takbir, yaitu takbiratul ihram dan takbir intiqal. Takbiratul ihram adalah takbir...

Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Harakah.id - Ketika kita hendak menyerahkan bahan pokok seperti beras kepada amil zakat, penitia zakat atau penerima zakat secara langsung, kita...