Beranda Keislaman Muamalah Apakah Cuka Termasuk Benda Najis? Berikut Ini Penjelasan Hukum Fikihnya

Apakah Cuka Termasuk Benda Najis? Berikut Ini Penjelasan Hukum Fikihnya

Harakah.idCuka adalah cairan yang terbuat dari etanol yang biasa ada dalam minuman keras. Apakah berarti cuka adalah benda najis dan haram dikonsumsi?

Cuka merupakan benda yang biasa ada di dapur kita. Atau juga di warung-warung bakso yang ada di sekitar kita. Cuka biasa digunakan untuk menambah aroma dan rasa makanan agar terasa asam. Ada pula fungsi-fungsi lain dari cuka selain itu.

Menurut informasi Wikipedia, cuka adalah larutan yang utamanya mengandung campuran 3 asam asetat dan air. Asam asetat ini dihasilkan dari fermentasi etanol oleh bakteri asam asetat. Cuka saat ini sering digunakan sebagai bahan tambahan memasak. Menurut sejarah, cuka adalah golongan asam lemah yang paling mudah didapat. Demikian tulis Wikipedia.

Jika diperhatikan, definisi cuka di atas menyebut bahwa asam asetat yang merupakan bahan cuka dihasilkan dari etanol. Etanol sendiri merupakan cairan yang biasa terdapat pada minuman beralkohol, produk kecantika hingga larutan pembersih. Jika etanol sangat terkait dengan minuman beralkohol (baca; miras), apakah dengan demikian hukum cuka najis seperti minuman keras seperti pada umumnya?

Dalam sejarahnya, cuka memang dibuat dari fermentasi minuman beralkohol. Di Arab di masa lalu, cuka dibuat dari khamr. Imam Muslim meriwayatkan,

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: سُئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن الخمر تُتَّخَذ خلًّا؟ فقال: ((لا))

Dari Anas bin Malik RA, dia berkata, “Rasulullah SAW ditanya soal khamr yang dijadikan cuka. Beliau menjawab, ‘Tidak boleh.’” (HR. Muslim).

Hadis ini memotret praktik di masyarakat saat itu. Mereka biasa membuat cuka dari Khamr. Khamr adalah minuman keras yang dibuat dari perasan anggur yang difermentasi. Berdasarkan hadis ini, ada yang berpendapat bahwa membuat cuka hukumnya haram. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah menulis,

تَخْلِيل الْخَمْرِ بِعِلاَجٍ: – قَال الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَابِلَةُ، وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ مَالِكٍ لاَ يَحِل تَخْلِيل الْخَمْرِ بِالْعِلاَجِ كَالْخَل وَالْبَصَل وَالْمِلْحِ، أَوْ إِيقَادُ نَارٍ عِنْدَهَا، وَلاَ تَطْهُرُ حِينَئِذٍ، لأِنَّنَا مَأْمُورُونَ بِاجْتِنَابِهَا، فَيَكُونُ التَّخْلِيل اقْتِرَابًا مِنَ الْخَمْرِ عَلَى وَجْهِ التَّمَوُّل، وَهُوَ مُخَالِفٌ لِلأْمْرِ بِالاِجْتِنَابِ، وَلأِنَّ الشَّيْءَ الْمَطْرُوحَ فِي الْخَمْرِ يَتَنَجَّسُ بِمُلاَقَاتِهَ

Membuat cuka dari khamr dengan intervensi. Ulama Syafi’iyyah dan Hanabilah, satu riwayat dari Imam Malik mengatakan bahwa tidak boleh memproses pembuatan cuka dari khamr dengan intervensi tertentu, seperti memasukkan cuka, bawang dan garam, atau dengan menyalakan api di dekat khamr. Cuka yang terbuat dari khamr itu tidak menjadi suci. Hal ini karena kita diperintahkan menjauhi khamr. Karena itu, membuat cuka merupakan bentuk mendekati khamr dengan cara membuatnya menjadi barang komoditas. Ini merupakan perbuatan yang bertentangan dengan perintah menjauhi. Selain itu, juga karena benda yang dimasukkan ke dalam khamr selama proses pembuatan cuka, akan menyebabkan najis disebabkan pertemuan benda tersebut dengan cuka.

Berbeda dengan pendapat di atas, ulama Hanafiyah dan riwayat yang kuat dalam mazhab Maliki mengatakan bahwa halal mengkonsumsi cuka yang dibuat berdasarkan intervensi seperti di atas. Proses pembuatan cuka secara interventif juga diperbolehkan. Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah menulis,

وَظَاهِرُ الرِّوَايَةِ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، وَالرَّاجِحُ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ أَنَّهُ يَحِل شُرْبُهَا، وَيَكُونُ التَّخْلِيل جَائِزًا أَيْضًا، لأِنَّهُ إِصْلاَحٌ، وَالإْصْلاَحُ مُبَاحٌ، قِيَاسًا عَلَى دَبْغِ الْجِلْدِ، 

Pendapat yang terang dari Mazhab Hanafi dan pendapat yang rajih dalam mazhab Maliki adalah bahwasannya halal meminum cuka. Proses pembuatan cuka secara sengaja juga boleh. Hal ini karena pembuatan cuka adalah proses ishlah (memperbaiki). Ishlah adalah perbuatan yang diperbolehkan. Alasan lainnya adalah karena dikiaskan dengan menyamak kulit.

Dalam pembahasan ini, terdapat silang pendapat di kalangan ulama ahli fikih. Terkait dengan sejauhmana intervensi langsung yang dilarang yang menyebabkan cuka menjadi najis dan haram, juga terjadi ikhtilaf.

Jika seseorang memindahkan khamr dari tempat teduh ke tempat yang terik, atau sebaliknya, lalu khamr itu berubah menjadi cuka, maka hukum cuka tersebut adalah halal. Ini menjadi pendapat para ulama dari mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i. Menurut para ulama mazhab Syafi’i, alasan ia menjadi suci dan halal adalah karena aroma menyengat yang menjadi indikator memabukkannya suatu benda telah hilang. Unsur menyengat yang memabukkan itu merupakan illat (alasan) diharamkannya khamr. Ketika unsur itu hilang, maka hilang pula hukum haramnya. Selain itu, tidak ada benda yang terkena najis khamr dalam proses semacam itu.

Intervensi sangat berpengaruh terhadap hukum cuka yang dihasilkan. Bagaimana jika hanya mendiamkan khamr hingga menjadi cuka, apakah diperbolehkan? Al-Mausu’ah menjelaskan,

 اخْتَلَفُوا فِي جَوَازِ إِمْسَاكِ الْخَمْرِ بِقَصْدِ تَخْلِيلِهَا. فَذَهَبَ الْحَنَفِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ إِلَى جَوَازِهِ، وَهَذَا الْخَل عِنْدَهُمْ حَلاَلٌ طَاهِرٌ. وَذَهَبَ الْحَنَابِلَةُ إِلَى تَحْرِيمِ إِمْسَاكِ الْخَمْرِ بِقَصْدِ تَخْلِيلِهَا، لَكِنْ يَحِل عِنْدَهُمْ لِلْخَلاَّل إِمْسَاكُ الْخَمْرِ لِيَتَخَلَّل، لِئَلاَّ يَضِيعَ مَالُهُ

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah kebolehan menyimpan khamr untuk tujuan membuat cuka. Para ulama Hanafiyah dan Syafi’iyyah menyatakan kebolehan tindakan tersebut. Cuka yang dihasilkan hukumnya halal dan suci. Ulama Hanabilah berpendapat bahwa haram menyimpan khamr untuk tujuan dijadikan cuka. Tetapi, menurut mereka, diperbolehkan bagi tukang cuka menyimpan khamr agar menjadi cuka. Hal ini agar tidak digolongkan perbuatan menyia-nyiakan harta.

Demikian ulasan singkat tentang Apakah Cuka Termasuk Benda Najis. Para ulama terdahulu telah membahas Apakah Cuka Termasuk Benda Najis dalam kajian-kajian mereka. Semoga ulasan hukum cuka ini bermanfaat bagi kita semua.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...