Beranda Khazanah Apakah Islam Selalu Identik Dengan Arab Dan Berislam Berarti Ber-Arab? Nggak Gitu...

Apakah Islam Selalu Identik Dengan Arab Dan Berislam Berarti Ber-Arab? Nggak Gitu Juga! Simak Penjelasannya…

Harakah.idIslam selalu Identik dengan Arab, masa sih? Lalu mengapa keduanya selalu diidentikkan? Apa betul berislam harus mirip dengan Arab? Sejak kapan logika rasistik semacam itu lahir, padahal Islam sejak awal mengajarkan kesetaraan umat manusia? Dan Bagaimana kita harus menyikapinya? Simak penjelasannya…

- Advertisement -

Hari ini kita mengalami satu syndrome yang sebenarnya merupakan syndrome kebudayaan di masa-masa awal kedatangan Islam. Yakni syndrome primordialisme dan rasisme. Hari ini, entah kenapa, perdebatan soal apakah Islam selalu identik dengan Arab menjadi titik tikai yang membuat banyak sesame muslim saling bertengkar. Tak jarang, persoalan ras dan perbedaan-perbedaan lainnya menjurus pada satu tindak kekerasan yang menyakiti dan mengucurkan darah.

Islam sebagaimana yang kita tahu, datang dengan membawa misi persamaan dan kesetaraan. Islam memposisikan semua orang sama dan setara. Mau pedagang, pengemis, tukang becak, bahkan presiden dan pejabat sekalipun, di dalam Islam posisinya setara; yakni sebagai hamba Allah. Islam tidak mengukur kelebihan berdasarkan unsur-unsur fisik dan non substansial. Islam mengukur kualitas seseorang berdasarkan takwa, tingkah laku dan kontribusinya bagi sesama. Mereka yang berada di kasta paling hina sekalipun, akan memiliki posisi yang spesial di sisi Allah ketika ia bertakwa, betingkah laku baik dan punya kepedulian terhadap sesama.

Salah satu contoh yang sangat jelas bahwa Islam datang dengan misi kesetaraan adalah kasus Bilal bin Rabah. Seorang budak berkulit hitam yang dihargai 1 dirham oleh Safwan bin Umayyah. Sebagai budak, Bilal bin Rabah hampir merasakan semua jenis penyiksaan dan penghinaan. Di mata orang-orang Quraisy, Bilal tak ubahnya hewan yang menjijikkan dan sama sekali tidak dipandang sebagai seorang manusia.

Sejak dibebaskan oleh Sahabat Abu Bakar al-Shiddiq, Rasulullah SAW memberika posisin yang mulia kepada Sahabat Bilal. Meski fisiknya yang kurus hitam legam, Bilal punya suara yang merdu nan indah. Kelebihannya itu membuat dirinya dipilih sebagai muadzin oleh Rasulullah SAW. Melalui jabatan itu, Bilal bin Rabah punya kesempatan bertemu Rasulullah dan dekat dengan Nabi lebih banyak dibanding sahabat-sahabat lainnya.

Dari kasus Bilal, kita cukup menyaksikan bagaimana Islam sedari awal selalu konsisten menolak rasisme. Sebaliknya, Islam sedari awal juga konsisten memperjuangkan misi penyetaraan posisi manusia dalam tatanan sosial. Islam menyusun standart kualitas individu tidak berdasarkan fisik, posisi sosial, nasab, jabatan maupun kekayaannya. Islam mengukur kualitas seseorang melalui amal perbuatan, ketakwaan dan kontribusinya bagi banyak orang.

Maka tidak heran ketika Islam dan Nabi Muhammad SAW menjadi inspirasi bagi seluruh gerakan kesetaraan dan anti rasisme di dunia hingga hari ini. Malcolm X misalnya, mendapatkan arah perjuangan anti rasismenya setelah melakukan ibadah haji. Malcolm X menyaksikan, bagaimana ribuan bahkan jutaan umat manusia, yang berbeda warna kulit dan status sosialnya, dapat berkumpul dengan damai tanpa menyakiti satu dengan lainnya, dan fokus beribadah kepada Allah SWT. Kenyataan dan gambaran semacam itu yang membuat Malcolm X berkeyakinan, kalau gerakan anti rasisme harus dibangun dari melihat manusia dalam keberagamaan, bukan berdasarkan kebencian pada manusia kulit putih.

Jadi kembali ke persoalan di atas, mengungkit soal asal usul dan identitas Arab dalam berislam sejatinya adalah isu lapuk yang tidak akan membawa perubahan positif bagi kemajuan umat Muslim. Kita memang harus mengakui kalau Islam turun di Arab, dibawa Nabi Muhammad dan al-Quran ditulis dalam Bahasa Arab. Tapi hal itu bukan berarti yang tidak Arab tidak identik dalam keberislamannya. Bukan berarti Islamnya non Arab adalah Islam tidak asli. Bukan!

Belajar problem rasisme dan primordialisme semacam ini memang rumit. Butuh banyak buku dan referensi. Tapi video berikut ini akan membantu kamu memahami sekaligus menyadari nilai-nilai humanisme dan agenda anti rasisme yang dibawa Islam lho!

Sekali lagi, standar ukuran keberislaman seseorang bukan berdasarkan ras. Bukan berdasarkan apakah ia Ngarab atau tidak. Islam selalu identik dengan Arab? Belum tentu juga kok. Kualitas keberislaman dan keimanan seseorang nyatanya diukur melalui ketakwaan dan dampaknya dalam amal perbuatan serta tingkah laku seseorang.

So, mulai sekarang, kita semua harus belajar dan mendalami persoalan-persoalan dalam Islam. Ini dilakukan agar kita tetap kritis dan tidak terseret arus pemahaman yang salah tentang Islam. Nah kalian bisa belajar Islam dengan asyik dan unik via @benergitu? Selain disajikan dengan menarik, video-video dalam @benergitu? Juga relevan dengan persoalan keseharian dan terbaru yang kita temukan setiap hari lho!

REKOMENDASI

Di Bulan Ramadan, Bekerja Untuk Menafkahi Keluarga Tetap Lebih Baik Daripada I’tikaf Di Masjid

Harakah.id – I'tikaf di masjid memang menjadi opsi ibadah yang dianjurkan dilakukan di Bulan Ramadan. Tapi, yang harus jadi catatan, bekerja...

Pas Sahur, Masih Bolehkah Kita Makan dan Minum Ketika Imsak Sudah Diumumkan? Ini Penjelasan...

Harakah.id - Ketika Imsak sudah diumumkan, mungkin sebagian dari kita masih bertanya; masih bolehkah kita menelan makanan dan menyeruput minuman? Apa...

Orang Mulia Meninggal Di Bulan Mulia, Ini Daftar Ulama-Ulama Nusantara yang Wafat di Bulan...

Harakah.id - Wafat di Bulan Ramadan konon merupakan keberkahan tersendiri bagi seseorang. Meninggalkan dunia di waktu mulia adalah satu tanda kemuliaan...

Larangan Berpuasa di Hari Syak, Hari Meragukan Apakah Ramadan Sudah Masuk Atau Belum

Harakah.id - Berpuasa di hari syak adalah praktik berpuasa yang dilarang oleh Islam. Hal itu dikarenakan, hari syak adalah hari yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...