Beranda Keislaman Ibadah Apakah Keputihan Membatalkan Wudhu? Inilah Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i

Apakah Keputihan Membatalkan Wudhu? Inilah Penjelasan Ulama Mazhab Syafi’i

Harakah.idApakah keputihan membatalkan wudhu? Persoalan ini menjadi salah satu dari banyak pertanyaan yang diajukan kaum perempuan. Para ulama juga telah mengulasnya dalam kitab-kitab mereka puluhan hingga ratusan tahun lalu.

Apakah keputihan membatalkan wudhu? Persoalan ini menjadi salah satu dari banyak pertanyaan yang diajukan kaum perempuan. Para ulama juga telah mengulasnya dalam kitab-kitab mereka puluhan hingga ratusan tahun lalu.

Salah satu ulama mazhab Syafi’i yang telah mengulasnya adalah Sayyid Abdurrahman Al-Masyhur Hadrami dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin. Dalam kitabnya tersebut beliau menulis sebagai berikut:

حاصل كلامهم في رطوبة فرج المرأة التي هي ماء أبيض متردد بين المذي والغرق أنها إن خرجت من وراء ما يجب غسله في الجنابة يقينا إلى حد الظاهر ، وإن لم تبرز إلى خارج نقضت الوضوء أو من حد الظاهر وهو ما وجب غسله في الجنابة أعني الذي يظهرعند قعودها لقضاء حاجتها لم تنقض

Kesimpulan pendapat para ulama mengenai keputihan yang keluar dari kemaluan perempuan, yaitu cairan bening yang berada di antara madzi dan cairan kemaluan, bahwa jika cairan itu keluar dari bagian dalam kemaluan yang tidak wajib dibasuh ketika mandi junub secara meyakinkan, meskipun tidak tampak sampai bagian luar, maka hal itu membatalkan wudhu. Atau keluar dari bagian luar kemaluan perempuan, yaitu bagian yang wajib dibasuh ketika mandi junub atau bagian kemaluan yang tampak ketika perempuan duduk saat buang air besar, maka hal itu tidak membatalkan wudhu.

Intinya, menurut Sayyid Abdurrahman, cairan keputihan punya ketentuan yang berbeda. Jika keputihan berasal dari bagian dalam kemaluan seorang perempuan, maka ia membatalkan wudhunya. Jika berasal dari bagian luar kemaluan perempuan, keputihan tidak membatalkan wudhu. Bagian dalam kemaluan artinya bagian yang tak terlihat ketika jongkok. Bagian ini tidak wajib dibasuh saat bersuci. Sedangkan maksud bagian luar adalah bagian yang tampak ketika seorang perempuan jongkok saat buang hajat. Bagian ini wajib dibasuh saat bersuci.

Menjadi pertanyaan tentang bagaimana seorang perempuan bisa membedakan keputihan yang keluar dari dalam vagina atau luar vaginanya. Tidak ada metode untuk membedakannya kecuali oleh si perempuan yang mengalami. Baik dengan cara memeriksanya atau merasakan sumbernya. Jika seorang perempuan ragu-ragu, maka keputihannya dinilai tidak membatalkan wudhu. Dewan Fatwa Kerajaan Jordania mengatakan,

 أما إذا شكت المرأة ولم تعرف إن كانت هذه الإفرازات خرجت من ظاهر الفرج أم من باطنه: ففي هذه الحالة حكمها الطهارة، ولا تفسد الوضوء؛ لأن اليقين لا يزول بالشك.

Ketika seorang perempuan ragu-ragu, dan dia tidak tahu, apakah keputihan itu keluar dari bagian luar atau dalam kemaluan, maka dalam kondisi seperti ini hukum keputihan itu suci dan tidak membatalkan wudhu. Hal ini karena kaidah, keyakinan tidak hilang karena keraguan.

Berdasarkan keterangan ini, jika seorang perempuan tidak sulit mengetahui asal keputihan –dari dalam atau luar kemaluan, maka ia dinilai tidak membatalkan wudhu. Hal ini didasarkan kapada kaidah istishab, yaitu memberlakukan hukum asal sesuatu. Seorang perempeun, ketika telah berwudhu, maka ia dihukumi telah berstatus suci. Lalu jika timbul keraguan, apakah ia telah mengalami keputihan yang membatalkan wudhu atau yang tidak membatalkan wudhu, maka ia harus memilih status awalnya; yaitu masih dalam keadaan punya wudhu. Kesimpulannya, ia masih belum batal wudhunya.

Demikian ulasan singkat tentang apakah keputihan membatalkan wudhu atau tidak. Semoga dapat menambah wawasan kita bersama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...