Apakah Nabi Butuh Didoakan? Penjelasan Mengapa Kita Membaca Shalawat

0
3731

Harakah.idMungkin sebagian kita ada yang bertanya, mengapa kita mendoakan Nabi? Apakah Nabi membutuhkan doa kita? Inilah penjelasan Syaikh Izzudin bin Abdissalam, Sulthanul Ulama, mengenai hal ini. 

Bulan rabi’ul awal adalah salah satu bulan bahagia bagi kaum muslimin. Di bulan ini, manusia agung dilahirkan, yakni Nabi Muhammad Saw. Dia adalah pembawa risalah keislaman. Dia adalah makluk paling mulia di muka bumi ini. Dia adalah manusia yang diharapkan syaafa’atnya kelak di hari akhir. 

Banyak cara untuk memperingati bulan kelahiran Nabi. Cara termudahnya adalah dengan memperbanyak membaca shalawat (meski juga harus diakui, bahwa membaca shalawat juga tidak harus menunggu bulan rabi’ul awal). Bahkan sebagian umat Islam menggelar acara seremonial khusus dalam membaca shalawat. Biasanya juga disertai dengan pengajian, santunan anak, atau yang lainnya. 

Membaca shalawat memang adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Allah Swt berfirman, 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”. (Al-Ahzab/33:56)

Dalam tafsir al-Qurthubi dijelaskan bahwa makna shalawat dari Allah kepada Nabi adalah memberi rahmat dan ridla; shalawat dari malaikat berarti doa dan memohonkan ampun untuk Nabi; dan shalawat dari umat Islam adalah doa dan pengagungan terhadap perintahnya. Ayat ini juga menjadi landasan diperintahkannya kita untuk juga membaca shalawat dan salam kepada Nabi (Tafsir Al-Qurtubi, jilid 14, hlm. 232). 

Bacaan shalawat yang paling popular, salah satunya, yaitu “Allahumma shalli ‘ala sayiidina Muhammad…” Kalimat ini memiliki arti “Ya Allah, berilah rahmat kepada Nabi Muhammad” (Tafsir Al-Baghari, jilid 6, hlm. 372). 

Mungkin sebagian kita ada yang bertanya, mengapa kita mendoakan Nabi? Apakah Nabi membutuhkan doa kita? Dalam kitab Syarah Ratib al-Haddad karya al-Habib al-‘Allamah ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin Abdillah bin ‘Alawi al-Haddad Ba’alawi, disebutkan penjelasan dari Syaikh Izzudin bin Abdissalam mengenai hal ini. 

Ulama yang mendapat julukan “Sultanul ‘Ulama” ini mengatakan bahwa shalawat yang kita baca bukanlah sarana untuk memberi syafaat pertolongan kepada Nabi. Pasalnya, menurutnya, tidak ada orang yang bisa memberi syafaat kepada selainnya. 

Ia menambahkan, mengapa kita membaca shalawat yang kita baca adalah sebagai bentuk upaya membalas kebaikan Nabi, karena dia adalah orang yang telah berbuat baik kepada kita yakni dengan telah menunjukkan jalan (agama) meraih kebahagiaan, baik di dunia maupun  akhirat. Bukankah kita selalu diperintahkan untuk membalas kebaikan orang lain?. Adapun alasan mengapa bentuk balasan kita “hanya” berupa shalawat adalah karena memang kita tidak mampu membalasnya dengan yang lebih dari itu. 

Dari penjelasan di atas, terbaca dengan jelas bahwa alasan mengapa kita membaca shalawat adalah cara kita berterimakasih kepada Nabi. Ini sama halnya ketika kita diberi oleh suatu barang oleh seorang yang sangat kaya dan kita tak dapat membalasnya dengan balasan yang setimpal. Maka sat itu, kita hanya bisa membalasnya denagn ungkapan doa. Misalnya, “Semoga Allah balas kebaikan Anda dengan balasan yang berlimpat!”, atau “Semoga Anda dilancarkan rezekinya, dipanjangkan umurnya, dan diberi keberkahan dalam hidupnya!”, atau sejenisnya. 

Walhasil, Islam mengajarkan setiap umatnya untuk pandai berterimakasih. Jika kepada manusia biasa saja yang memberi kita suatu barang, kita harus berterimakasih, maka sudah barang tentu kepada Nabi, karena dia adalah sosok yang dengannya kita bisa mengenal Islam. Cara termudah untuk berterimakasih adalah dengan membaca shalawat. Sudahkan kita bershalawat hari ini?. Allahu shalli wa sallim ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.