Apakah Orang Yang Memiliki Tanggungan Cicilan Mobil, Rumah, Kartu Kredit Wajib Membayar Zakat?

0
221

Harakah.id Ia tetap wajib zakat, terlepas dari statusnya yang memiliki cicilan rumah, mobil, dan kartu kredit. Sehingga selagi seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dan memiliki harta yang memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat tetap diwajibkan.

Kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan primer, sekunder, maupun tersier. Selain kebutuhan primer yang meliputi sandang, pangan, papan. Terdapat banyak kebutuhan lain seperti kendaraan, pakaian bermerk dan sebagainya.

Banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Terkadang kebutuhan itu dipenuhi dengan cara berhutang, mencicil atau lainnya. Masyarakat pada umumnya memiliki cicilan rumah, mobil, hingga kartu kredit.

Kartu kredit merupakan salah satu sistem pembayaran yang muncul sebagai penolong seseorang yang membutuhkan suatu barang, namun belum memiliki uang cash untuk membayarnya. Kasus ini menimbulkan pertanyaan terkait kewajiban zakat seseorang yang memiliki tanggungan cicilan mobil, rumah, hingga kartu kredit. Apakah mereka tetap wajib membayar zakat?

Orang yang masih memiliki tanggungan hutang disebut gharim. Ia justru berhak menerima zakat.

Namun apakah seseorang yang memiliki tanggungan cicilan rumah, mobil, maupun kartu kredit tersebut dikategorikan sebagai gharim? Ada beberapa ketentuan yang perlu diketahui dalam mengelompokkan seseorang menjadi gharim, yaitu:

a. Utangnya tidak untuk maksiat
Gharim adalah orang yang berhutang untuk kepentingan non maksiat, dan ia belum memiliki harta untuk melunasi hutang tersebut.

b. Utang sebab hartanya habis terkena bencana, sementara ia berkewajiban menanggung nafkah keluarga.

c. Utang untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan di luar itu dan tidak pula tergolong perkara pemborosan. Jika hal ini tidak dikecualikan dari pengertian gharim, maka akan banyak orang kaya pemegang kartu kredit berlomba-lomba mengaku sebagai mustahiq zakat, disebabkan karena utangnya. Batasan boros ini lebih tepatnya adalah melebihi qadrul wajib (kebutuhan pokok). Lebih dari kebutuhan wajibnya, maka disebut saraf (pemborosan).

Dalam salah satu syarat tersebut dijelaskan bahwa berhutangnya seseorang tidak dimaksudkan untuk memenuhi di luar kebutuhan pokok, hal yang berlebihan dan boros. Dalam hal ini, masuk kategori kredit. Seseorang yang memiliki tanggungan kartu kredit, tidak kemudian membuat orang tersebut berstatus gharim dan tidak wajib membayar zakat.

Selain itu zakat didasarkan pada equitas dan bukan atas status libilitas. Artinya zakat adalah dilihat dari sisi selisih harta asset yang dimiliki seseorang dengan kewajiban, bukan pada hutang yang harus dilunasi. Misalkan seseorang memiliki cicilan rumah mobil dan kartu kredit yang wajib dilunasi 100 juta, namun penghasilannya 1 M, maka kewajiban zakatnya dihitung dari 1 M dikurangi 100 juta tersebut.

Jika yang dikeluarkan adalah zakat tijarah atau zakat hasil dagangan, maka cukup memenuhi syarat nishab dan haul. Ia tetap wajib zakat, terlepas dari statusnya yang memiliki cicilan rumah, mobil, dan kartu kredit. Sehingga selagi seseorang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya dan memiliki harta yang memenuhi syarat wajib zakat, maka zakat tetap diwajibkan. (Ratu Buana).