Apakah Perempuan Zaman Rasulullah Bekerja? Keterlibatan Perempuan dalam Bidang Perekonomian

0
261

Harakah.idPerempuan punya perhatian terhadap kaum perempuan. Ada pertanyaan, apakah perempuan zaman Rasulullah bekerja seperti sekarang ini? Bagaimana keterlibatan perempuan dalam bidang perekonomian? Inilah ulasannya.

Perempuan adalah sosok istimewa lagi mulia. Islam pun mengangkat status perempuan yang dulunya perempuan bagaikan barang mainan dan seperti piala bergilir yang dapat dimiliki siapapun, namun setelah Islam datang perempuan diberikan hak-hak sepenuhnya yaitu mendapat hak atas harta warisan, memberikan kepemilikkan penuh terhadap dirinya, diberi kebebasan untuk menuntut ilmu, dan lain sebagainya.

Begitu istimewa sosok perempuan. Hal ini selaras dengan perkataan Muhammad Abu Syuqqah dalam bukunya Tahrir Al-Mar’ah fi ‘Ashri Ar-Risalah bahwa perempuan adalah patner (pasangan dan saudara) bagi laki-laki, sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dikatakan sama dengan laki-laki. Jika terdapat perbedaan, itu hanya akibat fungsi dan tugas utama yang dibebankan Tuhan kepada mereka, sehingga perbedaan yang ada tidaklah mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan dari yang lain.

Di balik kewajiban perempuan sebagai istri yakni mengurus anak dan suami, ia mampu mengemban tugas lain seperti bekerja sebagai buruh tani, pedagang sayur, penjahit, dan lainnya. Bahkan perempuan juga mampu bekerja di berbagai perusahaan untuk membantu perekonomian dalam keluarga. Hal ini tentunya telah dibuktikan oleh sejumlah perempuan pada masa Rasulullah yang terlibat dalam kegiatan ekonomi, di antaranya :

  1. Khadijah binti Khuwailid

Mengenai sosok Khadijah, Muhandis Az-Zuhri mengatakan dalam bukunya Khadijah binti Khuwailid bahwa ia merupakan perempuan karier, pekerja tangguh, dan mempunyai insting bisnis yang memukau. Ia  beberapa kali melakukan perjalanan bisnis ke Syam (Syiria) serta ke beberapa kota di berbagai negara. Bahkan Rasulullah pun ikut andil besar dalam mengembangkan bisnisnya.

Khadijah yang hidup pada masa jahiliyah, di mana saat itu perempuan tidak dihormati dan dihargai justru dengan potensi bisnis yang dimilikinya menjadi bukti bahwa ia mampu menjadi pengusaha. Selain kepiawaiannya dalam berbisnis, ia juga merupakan sosok perempuan yang dermawan. Ia selalu menolong orang dan gemar menyantuni mereka yang hidup dalam kekurangan dengan harta yang dimilikinya.

  1. Zainab binti Jahsy

Zainab binti Jahsy, salah satu istri Rasulullah yang paling mungil badannya. Akan tetapi, justru Zainab lah yang disebut Rasulullah sebagai orang yang paling panjang tangannya. Ini disebabkan karena sifat kedermawanan yang dimilikinya. Meskipun status sosialnya meningkat, itu sama sekali tidak membuat perilakunya berubah. Ia tetap rajin bekerja dan hasilnya ia sedekahkan di jalan Allah. Sebagaimana termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar.

“…Aisyah berkata, suatu hari dikisahkan bahwa Rasulullah berkata kepada istri-istrinya: ‘Yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya.’ Setelah itu, jika berkumpul kami saling mengukur tangan-tangan kami di tembok sambil melihat mana yang paling panjang.

Tidak henti-hentinya kami melakukan itu sampai saat meninggalnya Zainab. Padahal, ia adalah wanita yang pendek dan tidaklah tangannya yang paling panjang di antara kami. Maka tahulah kami saat itu bahwa yang dimaksud Rasulullah panjang tangan adalah yang paling banyak bersedekah. Zainab adalah seorang wanita yang biasa bekerja dengan tangannya. Ia biasa menyamak dan menjahit, kemudian menyedekahkan hasil kerjanya di jalan Allah.” (H.R. [Bukhari dan Muslim])

  1. Zainab binti Abdullah

Zainab merupakan istri dari Abdullah bin Mas’ud yang memiliki kemampuan dalam bidang kerajinan tangan. Saat keluarganya diuji dengan kemiskinan dan Ibnu Mas’ud tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya, Zainab dengan kemampuannya bangkit untuk menafkahi suami dan anak-anaknya sampai-sampai ia tidak memiliki harta untuk disedekahkan.

Kegelisahannya ini pun menghantarkannya pada Rasulullah dan mengadu perihal keadaannya yang tidak mampu bersedekah karena menghidupi keluarganya. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dari Abi Sa’id al-Khudry.

“…Zainab berkata: ‘Wahai Nabi Allah, sesungguhnya pada suatu hari engkau memerintahkan kami untuk bersedekah. Aku memiliki perhiasan dan aku ingin menyedekahkannya, namun Ibnu Mas’ud menganggap bahwa ia dan anaknya lebih berhak untuk mendapatkan sedekah itu.’ Kemudian Rasulullah menjawab: Ibnu Mas’ud benar, suami dan anak engkau adalah orang yang lebih berhak mendapatkan sedekah perhiasan itu.” (H.R. [Bukhari])

  1. Asma’ binti Abu Bakar

Asma’ binti Abu Bakar merupakan istri dari Zubair bin Awwam. Ia bekerja membantu suaminya mengurus kebun kurma miliknya sendiri untuk membantu perekonomian rumah tangganya. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Asma’ binti Abu Bakar.

“…Zubair bin Awwam menikahiku. Saat itu, ia tidak memiliki harta dan tidak juga memiliki budak serta tidak memiliki apa-apa kecuali alat penyiram lahan dan seekor kuda. Maka, akulah yang memberi makan dan minum kudanya, menjahit timbanya serta membuatkan adonan roti. Padahal, aku bukanlah seorang pembuat roti…” (H.R.[Bukhari])

Demikian di antara perempuan pada zaman Rasulullah yang turut serta dalam bekerja. Beberapa kisah di atas menjadi bukti bahwa tidak ada larangan bagi perempuan untuk terlibat dalam perekonomian dan juga bisnis. Apalagi dalam keadaan khusus, seperti perempuan janda yang menghidupkan anaknya sendiri, suami yang sedang sakit dan tidak mampu lagi menafkahi keluarga, atau penghasilan suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Keadaan inilah yang mendorong perempuan untuk bekerja di luar rumah.

Islam pun tidak melarang perempuan untuk bekerja selama ia tidak melupakan tugasnya sebagai istri dalam mengurus rumah tangga, mengurus suami, dan juga anak-anaknya. Perempuan yang berstatus sebagai istri boleh membantu suaminya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebagaimana potongan ayat dalam QS. at-Taubah [09]: 71.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ…

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…”

Ayat di atas jelas mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan dapat saling bantu-membantu, bahu-membahu, dan tolong-menolong terlebih dalam urusan rumah tangga demi membantu suaminya dalam memenuhi kebutuhan hidup berumah tangga. Ini dapat menjadi ladang pahala bagi suami dan istri.

Selaras pula dengan perkataan Jamaluddin Muhammad Mahmud yang terdapat dalam buku Membumikan Al-Quran karya Prof. Quraish Shihab menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela dan penuntut dalam berbagai bidang. Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya, perempuan mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan tertinggi.

Demikian ulasan singkat tentang apakah perempuan zaman Rasulullah bekerja. Sederhananya, iya. Wallahu a’lam.