Beranda Keislaman Ibadah Apakah Petunjuk Hasil Istikharah Selalu Berupa Mimpi? Begini Penjelasannya...

Apakah Petunjuk Hasil Istikharah Selalu Berupa Mimpi? Begini Penjelasannya…

Harakah.id Menurut Syaikh Ali, keyakinan menjadikan media tertentu yang tidak ada landasan syariat sebagai jawaban dan hasil istikharah, seperti mimpi, tulisan pada kertas, biji tasbih, batu,dan lain sebagainya adalah pengaruh dari orang-orang syiah.

Ada sebuah pemahaman yang jamak diyakini oleh banyak orang awam, tidak jarang hal ini juga disampaikan dalam kajian ilmu agama, bahwasanya bentuk hasil istikharah itu akan tergambarkan melalui mimpi ketika tidur, seolah-olah memang prosedur shalat Isttikharah itu memang demikian, jadi selama belum ada mimpi yang datang, maka shakat istikharah harus terus dilakukan.

Syaikh Ali jum’ah dalam kitab beliau yang berjudul: Madā Ḥujjiyat al-Ru’yat ‘Inda al-Ushūliyīn, sebuah kitab yang membahas seputar mimpi dan kaitannya dengan Ushul fikih turut menyinggung masalah korelasi mimpi dengan istikharah yang merebak di tengah masyarakat. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada petunjuk syariat atau keterangan ulama muktabaryang mengatakan bahwa syarat atau hasil istikharah itu harus melalui mimpi. Bahkan menurut beliau, keterangan syariat dalam masalah shalat istikharah tidak sama sekali menyinggung masalah mimpi sedikitpun.

Memang ada berbagai keterangan mimpi Rasulullah dan para sahabat yang sifatnya benar, namun ini merupakan sebuah wujud kecil dari nubuwah dan tidak perlu disangkut pautkan dengan istikharah, jika kita membaca penjelasan para ulama tentang shalat Istikharah, maka mereka hanya membahas seputar tatacara dan adab-adabnya dan tidak menyinggung persoalan mimpi-mimpi.

Beberapa penjelasan para ulama tentang hasil istikharah dan jawabannya adalah sebagai berikut:

  1. Imam Ghazali dalam kitab al-Ihyā’ menjelaskan: sesiapa yang merasa gusar tentang sesuatu pilihan, mana yang terbaik baginya diantara semua pilihan yang ada, maka Rasulullah Saw memerintahkan agar ia shalat dua rakaat, pada rakaat pertama membaca surah al-Kafirun dan pada rakaat kedua membaca surah al-Ikhlash. Kemudian usai shalat ia membaca doa yang telah warid dalam hadis. Imam Ghazali tidak menyingung pembahasan tentang gambaran dari jawaban istikharah.
  2. Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkār dan Syarḥ al-Muhadzdzab mengatakan bahwa setelah shalat istikharah, sesorang itu bisa menganggap pilihan dimana hatinya paling merasa condong itu sebagai jawaban dari istikharahnya.
  3. Al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalany mengatakan ada perbedaan pendapat terkait apa yang harus diikuti oleh seseorang setelah ia selesai melakukan istikharah. Namun beliau mengikuti pendapat Imam Nawawi yaitu mengikuti kecendrungan hatinya, namun beliau mengatakan pilihan hati yang layak diikuti itu adalah yang dirasa tidak terkontaminasi oleh hawa nafsu.
  4. Ibn ‘Ilān, salah seorang ulama yang mensyarah kitab al-Adzkār menyatakan: setelah melakukan Istikharah, seseorang dapat mengikuti kecenderungan hatinya setelah itu, jika tidak ada hal yang terbersit dalam perasaannya setelah itu, maka ia dapat mengulangi shalat istikharah. Jika setelah diulang beberapa kali masih belum nampak, maka ia memilih pilihan terakhir yang muncul diantara beberapa pilihan, atau memilih mana yang jalannya terasa mudah, karena itu boleh jadi juga menjadi izin dan petunjuk dari Allah untuknya.
  5. Ibn Hajar al-Haitamy juga mengiyakan keterangan di atas, beliau menambahkan bahwa selayaknya, jika tidak ada kecenderungan hati yang muncul, maka ia dapat mengulangi shalat istikharah hingga 7 kali.
  6. Hal yang sama juga dijelaskan oleh al-Syarqawy dalam hasyiyahnya untuk kitab al-Taḥrīr. Beliau membuat penekanan bahwa yang layak diikuti adalah kecenderungan hati nurani saat dirasa ia telah dapat dihindari dari pengaruh hawa nafsu.
  7. Syaikh al-Bajury dalam hasyiyah beliau untuk kitab Fatḥ al-Qarīb menjelaskan: Shalat istikharah intinya adalah memohon kebaikan pada Allah pada beberapa pilihan. Ia harus disertai dengan pengarapan dan tawakkal pada Allah, artinya seseorang harus menyucikan hatinya dari hawa nafsu. Sehingga setelah shalat istikharah ia dapat memilih apa yang terbersit dalam hati yang telah bersih tersebut. Jika belum, maka ia dapat mengulangi shalat dan doa istikharahnya. Seperti inilah wujud dari istikharah yang syar’iy.
  8. Syaikh al-Shāwy dalam hasyiyah beliau untuk Tafsir jalalain menjelaskan: shalat istikharah adalah bentuk mendahulukan kepentingan akhirat daripada dunia, sehingga dalam pilihannya seseorang itu melibatkan peran Allah dan Syariat. Itulah Istikharah syariat. Namun sekarang ada keyakinan sebagian orang yang melakukan istikharah dan menjadikan media tertentu sebagai jawabannya misalnya dengan mengunakan biji-bijian atau batuan, atau mengunakan media tulisan dan kertas atau tidur dan berharap pada mimpi. Ini bukanlah istikharah syar’iy, bahkan sebagian ulama memandangnya makruh karena menyerupai bentuk tathayur.

Masih ada beberapa kutipan dan keterangan para ulama dalam masalah ini yang disebutkan oleh Syaikh Ali Jum’ah. Beliau mengatakan para ulama tidak mengatakan mimpi sebagai jawaban dari Istikharah, seandainya benar demikian, tentu mereka akan menyebutkannya.

Syaikh Ali Jum’ah kemudian menyebutkan diantara keterangan yang beliau peroleh tentang menjadikan mimpi sebagai jawaban istikharah. Beliau menemukannya dalam tulisan Ibn ‘Abidin (salah satu pemuka mazhab Hanafy) dalam kitab Hasyiyah Ibn ‘Abidin: “terdengar dari beberapa guru kita, bahwa setakh berdoa istikharah, seseorang harus tidur dalam keadaan berwudhu dan menghadap kiblat. Kemudian jika dalam mimpinya ia melihat warna putih atau hijau, maka pilihan itu baik. Jika ia dalam mimpinya melihat warna hitam atau merah, maka pilihan itu buruk dan harus ditinggalkan”.

Namun perlu diperhatikan bahwa Ibn ‘Abidin hanya dalam posisi menukil keterangan orang lain dan bukan sedang mengajukan pendapat beliau secara pribadi. Ibn ‘Abidin juga tidak berkomentar apapun tentang nukilan tersebut. Selain itu, Ibn ‘Abidin juga mengatakan bahwa itu adalah apa yang sebatas apa yang beliau pernah dengar, artinya itu bukan apa yang beliau kutip dari nash tulisan kitab para ulama tertentu. Menurut Syaikh Ali, keyakinan menjadikan media tertentu yang tidak ada landasan syariat sebagai jawaban istikharah, seperti mimpi, tulisan pada kertas, biji tasbih, batu,dan lain sebagainya adalah pengaruh dari orang-orang syiah. Mereka mengajukan riwayat-riwayat dari Imam Jafar al-Shadiq dalam masalah ini, meski penisbatan nya pada diri Imam Ja’far juga bermasalah dan tidak dapat dipercaya sepenuhnya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...