Beranda Gerakan Apakah Punk Hijrah Harus Selalu Belok ke Kanan?

Apakah Punk Hijrah Harus Selalu Belok ke Kanan?

Akhmad Zakky, Dosen Sastra Inggris, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Harakah.id – Sejak kelahirannya di Inggris pada pertengahan abad 20, punk adalah skena musik yang kental dengan nilai-nilai subversif. Punk lahir sebagai bentuk respon terhadap sesuatu yang dianggap telah mapan di masyarakat pada saat itu.

Dalam dunia musik, punk melakukan pemberontakan terhadap dominasi Rock N Roll yang pada saat itu sedang berada di puncak industri musik. Secara budaya, punk tidak hanya melawan dominasi dalam dunia musik, namun juga melawan sesuatu yang telah dianggap mapan (establish) di dalam masyarakat.

Dick Hebdige menyebut punk sebagai skena musik yang mensubversi banyak wacana yang telah menjadi arus utama di masyarakat. Oleh karena itu, sering kali punk diidentikkan dengan perlawanan.

Baca Juga: Ketika Orang yang Berhijrah Mengharamkan Musik, Ternyata Rasulullah SAW Membolehkan, Ini Hadisnya

Menariknya, punk adalah skena musik yang memiliki ideologi yang khas; DIY (DoItYourself), kolektifitas, dan anti-struktur adalah nilai dasar berpikir yang melekat dalam identitas punk.

Di Indonesia, sebagian banyak dari kita, terutama yang tinggal di perkotaan, akan sering melihat komunitas punk sebagai kelompok yang urakan dan berkumpul di sudut perempatan jalan.

Kesan buruk kemudian melekat pada komunitas punk yang menganggap mereka sebagai orang-orang yang menggangu, tidak disiplin, dan berbagai hal buruk lainnya. Hal seperti ini membuat masyarakat, secara umum, melihat anak-anak punk sebagai kelompok masyarakat yang meresahkan.

Pada akhir 1990-an, gelombang fenomena hijrah mulai masuk ke dalam dunia musik. Skena punk tidak luput dari gelombang ini. Kondisi ini agaknya sedikit berbeda dengan rekan mereka di Barat. Di sana, gereja sebagai representasi agama, sering kali dijadikan target kritik.

Baca Juga: Dulu Lagu Indonesia Raya Dianggap Selera Musik yang Buruk Oleh Kaum Kolonial Saat Pertama Kali Mendengar

Ketegangan ketegangan dapat dilihat sebagai bentuk subversi yang dilakukan skena punk di Barat terhadap gereja atau agama yang dianggap salah satu institusi represif yang ada di masyarakat. Sedangkan di Indonesia, menurut Ariel Heryanto, fenomena hijrah tidak dapat dilepaskan dari bangkitnya Islam politik yang di masa Orde Baru direpresi oleh rejim.

Dengan kata lain, pasca otoritariansme memberi energi besar bagi kelompok Islam politik untuk melakukan penetrasi terhadap berbagai kelompok masyarakat, termasuk skena musik.

Setelah 1998, hubungan antara kelompok Islam politik dan Islam konservatif dengan dunia musik memang tidak dapat dinafikan.

Hikmawan Saefullah mencatat kemunculan Islamic Underground Movement yang di dalamnya banyak berkumpul musisi hijrah dari skena musik bawah tanah, termasuk metal dan punk, adalah bentuk keberhasilan kelompok Islam konservatif dalam melakukan penetrasi pada komunitas musik di Indonesia. Penetrasi kelompok ini, antara lain, melahirkan Punk Muslim yang anggotanya tersebar dari Jakarta sampai ke Surabaya.

Baca Juga: Di Tengah Perdebatan Keharaman Musik, Kitab Alat Musik Karya Ulama Madura Ini Penting Ditelaah

Di Indonesia, punk dengan berbagai stigma yang melekat pada dirinya, menampilkan sesuatu yang baru dan berbeda dengan arus utama skena punk di dunia. Oleh sebab itu, selain Punk Muslim, muncul juga Punkajian dan Hijra Core sebagai salah dua komunitas yang eksis sebagai kelompok punk hijrah.

Munculnya fenomena hijrah pada skena punk tidak hanya persoalan transformasi individu menjadi lebih islami atau kembali mempelajari Islam. Lebih dari itu, fenomena hijrah pada skena punk juga menunjukkan bagaimana identitas sebagai punk dan muslim dapat dinegosiasikan.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Rahmat Hidayatullah, kita dapat melihat bagaimana di tengah pusaran budaya global, komunitas Punk Muslim masih mampu berpegang pada identitas Islam yang ortodoks.

Artinya, sebagai bagian dari subkultur dalam musik dan masyarakat urban, Punk Muslim mampu merespon globalisasi dan sekularisasi. Kesimpulan tersebut senada dengan Jim Donaghey yang menyimpulkan bahwa sebagian besar komunitas punk di Indonesia mencoba untuk mengafiliasikan diri dengan identitas keagamaan di tengah stigma dan diskriminasi dari masyarakat.

Persebaran komunitas punk hijrah yang meluas berkaitan erat dengan nilai solidaritas dan kolektifitas yang ada dalam skena punk. Nilai-nilai tersebut menjadi penghubung gagasan dan gerakan yang berada di berbagai kota. Misalnya saja, diseminasi nilai-nilai konservatif yang ada dalam Punk Muslim, yang pertama kali muncul di Jakarta, bisa direspon oleh skena punk lain di berbagai kota.

Baca Juga: Musik Dalam Islam dan Hukum Bernyanyi Menurut Para Ulama

Di samping itu, perkembangan teknologi informasi dan media sosial mempunyai peran yang tidak kalah signifikan. Bagi komunitas punk hijrah, seperti Punk Muslim, Punkajian, dan Hijra Core, media sosial adalah bagian dari jalan dakwah.

Penetrasi dan kedekatan beberapa skena musik punk dengan kelompok Islam politik dan Islam konservatif melahirkan tren baru dalam skena musik punk.

Dalam sejarahnya, karakteristik skena musik punk, secara politik, cenderung memiliki ideologi kiri. Nilai-nilai seperti anti-struktur dan subversif terhadap budaya arus utama compatible dengan nilai-nilai yang ada dalam ideologi kiri. Sedangkan gerakan dan ideologi yang ada pada kelompok Islam politik dan Islam konservatif berdiri di sisi yang berbeda.

Oleh karena itu, Elise Imray Papineau menyebut tren punk muslim yang berkembang di Indonesia membuat pendulum ideologi yang semula hanya berada di kiri, sekarang bergeser ke kanan. Setidaknya itu adalah kesimpulan yang diambil setelah Papineau berkeliling pulau Jawa untuk melakukan riset antropolgis tentang punk dan kesalehan.

Perubahan tren ideologi seperti ini memperlihatkan fenomena hijrah bukan hanya persoalan seorang individu atau sebuah kelompok yang kembali mendalami Islam. Lebih dari itu, ada kontestasi ideologi dan politik yang masuk secara bersamaan melalui kelompok yang melakukan penetrasi.

Jika melihat relasi antara kondisi pasca otoritarian, Islam politik, Islam konservatif, dan fenomena hijrah dalam skena punk yang telah dipaparkan di atas, apakah itu artinya menjadi punk hijrah berarti selalu menjadi kanan?

Pertanyaan tersebut dapat dijawab setelah kita mau memperhatikan dan mempertimbangkan kemunculan komunitas Tasawuf Underground.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...