Beranda Gerakan Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf?

Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf?

Harakah.idIbnul Jauzi juga punya kitab yang mengkritik seorang Sufi-Hanbali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf? Biasanya, kita cenderung melihat gerakan-gerakan keagamaan Islam sebagai kelompok-kelompok massa yang homogen, namun kenyataannya saling berlawanan satu sama lain. Setiap kelompok massa memiliki karakteristik yang keras seperti batu padang pasir. Ia dengan cepat akan berbenturan dengan kelompok massa lain.

Lalu, kita mencoba memulai pengamatan setelah itu, untuk menemukan karakteristik paling menonjol pada setiap gerakan. Pengamatan itu seringkali didasarkan pada posisi dan pendapat tokoh yang dinilai merepresentasikan kelompok massa tertentu. Sejak itu, menjadi pernyataan tak berguna bahwa pikiran-pikiran kita terkadang menjadi salah karena, sejatinya tokoh-tokoh itu lebih mencerminkan perspektif pribadi sang tokoh sebagai salah satu tokoh pemikir Muslim yang menjadi panutan bagi pemikir Muslim lainnya. Mereka tidak dapat ditempatkan dalam satu tempat yang sama.

Kecenderungan ini sangat disayangkan, khususnya karena itu terjadi di dalam studi kita tentang Islam. Tidak ditemukan kajian general tentang satu gerakan, dari gerakan-gerakan Islam, yang didasarkan pada kajian monograf terdahulu yang fokus pada tokoh yang menjadi representasi utama bagi sebuah gerakan, selama berabad-abad sejak gerakan tersebut timbul. Disebabkan tak adanya kajian monograf ini, kita beralih pada generalisasi, deskripsi dasar, dan kesaksian-kesaksian literatur yang penulisnya memiliki kepentingan yang berbeda-beda, dan digunakan untuk kepentingan yang berbeda-beda. Kita menganggap cukup mendeskripsikan seseorang sebagai ulama dengan didasarkan kepada afiliasinya kepada suatu gerakan tertentu. Sekalipun sejatinya, ia sulit untuk dilepaskan dari pengaruh di luar kelompok afiliasinya.

Kita ambil sebagai contoh, sikap para ulama Muslim dalam bidang studi Kalam. Sebagian kelompok ulama Islam menolak disiplin ilmu ini. Pada saat yang sama kelompok lain menerimanya. Tetapi, ini tidak dapat ditolerir jika kita mengatakan bahwa setiap pendukung kelompok akan selalu sepakat dalam satu persoalan. Terkadang, juga terjadi, ada salah satu ulama yang terjerembab dalam pengaruh akidah kelompok yang sedang ditentangnya. Goldziher telah membuktikan dalam kajian yang cukup mendalam, bagaimana akidah kaum Muktazilah yang dimusuhi oleh teolog Asy’ari terkemuka, Fakhruddin Al-Razi (w. 606 H./1209 M.), sejatinya telah mempengaruhinya lebih banyak dan lebih dalam.

Contoh lain, kita temukan dalam pemikiran teolog sekaligus yuris bermazhab Hanbali, Abul Wafa’ Ibnu Aqil (w. 513 H./1119 H.), yang terpengaruh akidah Muktazilah ketika bermur 25 tahun sampai 35 tahun, dimana ia mengkaji akidah tersebut kepada dua guru besar teologi Muktazilah. Sekalipun ia adalah seorang Hanbali, tetapi ia sangat rasional, bersemangat, dan terbuka dalam mengakses ilmu dan pengetahuan.

Karena itu, mungkin ada kontradiksi besar dalam persoalan akidah, tidak hanya antara ulama-ulama dalam satu gerakan, tetapi juga antara pendapat-pendapat yang dimiliki satu individu dalam fase-fase yang berbeda-beda dalam hidupnya yang linear. Ini, menuntut kita untuk mengkaji pemikiran sesuai fase zaman karya-karya tulis mereka. Ini adalah persoalan yang tidak selalu mungkin dilakukan. Jadi, kita dapat mengkategorikan kepada sang ulama dengan metode selain historis, pemikiran-pemikiran yang dilontarkannya pada masa hidupnya yang linear, tetapi terkadang kita lepaskan kategori tersebut untuk era setelahnya. Kita perlu tambahkan juga, bahwa para ulama yang umumnya terafiliasi dengan kelompok-kelompok yang berbeda-beda, mungkin tunduk pada beragam pengaruh yang kuat. Kita, dengan demikian, berharap ada pendukung sebuah gerakan atau mazhab, berhasil menyadari dirinya dalam kontradiksi internal dalam perndapat-pendapat atau kepentingan-kepentingan.

Agar kita dapat mengambil pemikiran lawan yang mungkin ditemukan di antara ulama-ulama satu mazhab, cukuplah kita kembali kepada kritik-kritik yang tidak ditutup-tutupi, dan kepada penolakan-penolakan yang terus-menerus dan terang-terangan, pada umumnya, dan secara mutawatir di kalangan mereka.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, kondisi sejarahwan Al-Subki dan permusuhannya kepada gurunya yang berorientasi pada salafi, Al-Dzahabi. Kami melihat di sana posisi seorang ulama Syafi’iyyah yang melawan ulama Syafi’iyyah lain, karena ia berafiliasi dengan dengan kelompok teologi Kalam yang berbeda. Di sana, juga, ada situasi seperti Al-Maziri (bermazhab fikih Maliki) yang mengkritik dengan tajam Al-Juwaini dan Al-Ghazali, karena keduanya dinilai menyimpang dari akidah asli Imam Al-Asy’ari. Permusuhan ini tidak berhenti dalam batas-batas mazhab Syafi’i saja. Mazhab Hanbali yang dinilai dalam fase yang cukup lama sebagai kelompok-gerakan yang homogen, juga punya fenomena yang sama dalam isu ini.

Sebagai contoh, Ibnu Qudamah menyerang Ibnu Aqil disebabkan kecenderungan-kecenderungan kalam-nya yang dinilai cenderung pada Asy’ariyah. Ibnu Qudamah menyerang Ibnu Aqil dalam kitabnya yang berjudul “Tahrim Al-Nazhar Fi Kutub Al-Kalam”. Ini adalah kitab yang kami temukan pada lebih dari lima tahun lalu dalam judul lain yang bukan miliknya. Tetapi hanya ada isyarat kepada isinya. Judul lain itu adalah “Al-Radd Ala Ibni Aqil”. Contoh lain dari mazhab Hanbali adalah Ibnul Jauzi.

Kami mengenalnya punya kitab yang mengkritik tiga orang pendahulunya di lingkungan Hanbali; Ibnu Hamid (w. 304 H./1012 M.), Al-Qadhi Abu Ya’la (w. 458 H./1066 M.) dan Abul Hasan Ibnu Al-Zaghuni (w. 527 H./1132 M.). Yang disebut terakhir adalah guru penulis sendiri. Sebagaimana Ibnul Jauzi juga punya kitab yang mengkritik seorang Sufi-Hanbali, Syekh Abdul Qadir al-Jilani. Kitab ini tidak sampai kepada kita, berbeda dengan kitab sebelumnya. (Ibnul Jauzi menulis kitab berjudul “Kitab Fi Dzamm Abdil Qadir”, lihat dalam “Dzail Ibnu Rajab”).

Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf?

Jadi, kita tidak bisa menilai bahwa gerakan Hanbali adalah homogen secara total, tidak pula gerakan Asy’ari. Kedua kelompok gerakan ini memiliki tokoh besarnya masing-masing; yang kita perlu kaji satu per satu, secara mandiri, dengan asumsi bahwa karya-karya itu memiliki spesifikasinya sendiri dan setelah kita mendalami rangkaian waktu untuk setiap karya-karya tersebut. Ini adalah langkah sulit, dan terkadang mustahil karena kerja identifikasi-filologis yang lemah. Kita, selamanya, jauh untuk bisa sampai pada tujuan ini. Bahkan dalam kasus Asy’ariyah yang kajian-kajian banyak diarahkan kepada mereka cenderung lebih banyak dibanding yang lain. Pengetahuan kita tentang gerakan-gerakan sosial-keagamaan maju sangat lambat. Khusus gerakan kelompok Hanbali, kebutuhan mendesak sekarang berada dalam posisi mengintifikasi pemikiran-pemikiran pendahulu, yang kita warisi, sejak masa setengah abad lalu, dan saat ini memenuhi koleksi kita tentang Islam.

Bersambung.. Apakah Ulama Mazhab Hanbali Memusuhi Tasawuf? Bagian ke-2.

Baca Juga: Sejarah Permusuhan Islam Mazhab Hanbali dan Sufisme, Hubungan Ambigu [2]
Baca Juga: Mazhab Hanbali dan Tarekat Sufi, Para Hanabilah Pengamal Tasawuf [3 – Habis]

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...