Beranda Gerakan Apel Akbar NU 1992 dan Gugatan Terhadap Dominasi Politik Rezim Orde Baru

Apel Akbar NU 1992 dan Gugatan Terhadap Dominasi Politik Rezim Orde Baru

Harakah.idApel Akbar NU 1992 bukan hanya sekedar apel atau pertemuan. Ia merupakan sikap NU yang ditujukan untuk mengkritisi kekuasan dan dominasi politik pemerintahan Soeharto.

Islam tidak memiliki tawaran spesifik dan jelas mengenai konsep negara. Islam hanya memberikan panduan umum kepada umatnya dalam menjankan roda pemerintahan. Hal ini menunjukan bahwa persoalan pemerintahan dan kenegaraan diserahkan sepenuhnya kepada manusia. Mereka diberi wewenang untuk membuat sistem pemerintahan apapun selama tidak bertentangan dengan nilai dasar syariat Islam.

Di antara panduan umum bernegara menurut Islam adalah pemerintah harus mampu menjamin keadilan, kesejahteraan, dan kemaslahatan warganya. Ketiga hal ini merupakan tujuan dasar dari pembentukan negara. Buat apa bernegara kalau keadilan tidak ditegakkan, masyarakat bertambah susah dan hanya memprioritaskan kesejahteraan kelompok tertentu, dan kejahatan terjadi di mana-mana. Maka dari itu, dalam kaidah fikih ditegaskan bahwa kebijakan seorang pemimpin harus berujung pada kemaslahatan rakyatnya:

تَصَرُّفُ الْإِمَامِ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

“Kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berorientasi kepada kemaslahatan”

Al-Syafi’i mengibaratkan posisi kepala negara seperti halnya wali anak yatim. Orang yang diberikan amanah untuk mengurus harta anak yatim tidak boleh mengambil harta mereka untuk kepentingan pribadi. Apabila dia dalam kondisi darurat dan sedang membutuhkan uang boleh menggunakannya dan wajib dikembalikan. Sahabat Umar Ibnu Khatab mengatakan:

إنِّي أَنْزَلْتُ نَفْسِي مِنْ مَالِ اللَّهِ بِمَنْزِلَةِ وَالِي الْيَتِيمِ، إنْ احْتَجْتُ أَخَذْتُ مِنْهُ فَإِذَا أَيْسَرْتُ رَدَدْتُهُ فَإِنْ اسْتَغْنَيْتُ اسْتَعْفَفْتُ

Aku memberlakukan baitul mal seperti halnya harta anak yatim: aku mengambilnya bila ada kebutuhan mendesak dan mengembalikannya pada saat dimudahkan, dan aku berusaha menahan diri ketika tidak dibutuhkan.      

Pada Muktamar Cipasung tahun 1994, NU sudah menegaskan bahwa kemaslahatan umum harus menjadi acuan dalam pembangunan nasional dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemaslahatan umum yang terdapat dalam setiap kebijakan dan undang-undang harus diwujudkan secara nyata dan benar oleh pemerintah. Sementara itu, rakyat secara keseluruhan, harus memberikan dukungan positif dan sekaligus kontrol kritis secara berkelanjutan terhadap lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Dengan demikian pelaksanaan Apel Akbar NU 1992 sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kritis NU terhadap pemerintahan. Soeharto pada waktu itu dianggap sudah tidak memberikan maslahat lagi kepada masyarakat. Apel Akbar ini diinisiasi oleh Gus Dur pada 1 Maret 1992 dan tujuannya adalah mengkritik dominasi politik Soeharto dan menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden.

Tema Apel Akbar NU 1992 memang tidak secara langsung mengkritik Pak Harto, sebab acara ini dalam konteks memperingati Harlah NU ke -66. Wacana yang diangkat pun sebenarnya adalah menegaskan dukungan NU terhadap pancasila dan UUD 45. Namun bila dicermati lebih dalam, tujuan pelaksanaan Apel Akbar NU 1992 tidak sebatas itu, tetapi lebih kepada mengkritik Soeharto yang selama ini dianggap oleh Gus Dur tidak konsisten dalam mangamalkan Pancasila dan menegakkan UUD.

Apel Akbar NU 1992 merupakan lanjutan dari sikap kritis Gus Dur pada tahun sebelumnya. Sebagaimana dikatakan Greg Barton, menjelang akhir dasawarsa 1980-an, kekuasaan Soeharto mulai dipertanyakan oleh banyak pihak. Gus Dur termasuk intelektual muslim yang berada pada garda depan mengkritik Soeharto. Kritikan tersebut dilontarkan secara terbuka dan terang-terangan di depan publik. Oleh sebab itu, tidak mengherankan bila sebagian besar tulisan Gus Dur pada periode 1990-2000 lebih banyak mengkritik pemerintahan, khususnya Pak Harto, yang oleh sebagian orang masih dianggap tabu.

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...