fbpx
Beranda Gerakan Arab Saudi Menangkap Ulama-Ulama Wahabi, Reformasi dan Politik Demokratisasi Arab ala Pangeran...

Arab Saudi Menangkap Ulama-Ulama Wahabi, Reformasi dan Politik Demokratisasi Arab ala Pangeran Salman

Harakah.idArab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi demi langkah reformasi dan demokratisasi Arab Saudi. Muhammad bin Salman atau Pangeran Salman adalah orang yang berada di balik agenda tersebut.

- Advertisement -

Terjadi lagi, pemerintah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi. Kali ini ulama dan qori’ terkenal, Syeikh Abdullah Basfar ditangkap oleh pihak otoritas Arab Saudi. Beberapa kasus penangkapan ulama dilakukan oleh Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir ini. 

Syeikh Abdullah adalah seorang profesor di departemen Sharia dan Islamic Studies di King Abdul Aziz University di Jeddah. Ia juga merupakan mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Kitab dan Sunnah Dunia. Sebelumnya, Arab Saudi dikabarkan sudah menahan Syekh Saud Al-Funaisan. Ia ditangkap pada bulan Maret kemarin. Al-Funaisan sendiri adalah seorang profesor universitas dan mantan dekan fakultas Syariah di Universitas Al-Imam di Riyadh.

Langkah Arab Saudi menangkap ulama-ulama Wahabi menguatkan asumsi terkait upaya pemerintah Arab Saudi untuk mengamankan dan mereformasi Arab Saudi atas inisiasi Muhammad bin Salman (MBS). 

Baca Juga: Sejarah Terbentuknya Kerajaan Arab Saudi Modern

Penangkapan Ulama dan Reformasi MBS

Beberapa kasus penangkapan ulama yang dilakukan oleh Arab Saudi menjadi semacam “pembersihan” pahak keagamaan. Kini MBS melakukan reformasi di dalam negaranya. Ia ingin mengubah citra Arab Saudi dengan paham moderasi Islam. 

Ulama-ulama yang ditangkap oleh pihak kerajaan dianggap melakukan tindakan dan ceramah-ceramahnya mengganggu stabilitas kerajaan. Oleh karena itu, pihak MBS dan para pendukungnya menindak mereka agar tidak mengganggu dan menjadi ancaman kepentingan internal kerajaan. 

MBS melakukan berbagai kebijakan penting dan kontroversial. Ia tengah mereformasi Arab Saudi. Kebijakan kontroversial yang dilakukannya, diantaranya yakni memperbolehkan perempuan untuk menyetir mobil, menonton sepak bola di lapangan, dan beberapa kebijakan yang mengarah pada reformasi birokrasi Arab Saudi. 

Bagi kaum muda dan perempuan Arab Saudi, MBS adalah sosok pembaruan di tubuh kerajaan Arab Saudi. Ia menjadi tumpuan mereka ditengah kungkungan kebijakan Arab Saudi yang rigid dan kaku. 

Tetapi, bagi kaum ulama Wahabi Arab Saudi, MBS telah melanggar pemahaman keagamaan Arab Saudi yang sudah tumbuh subur di negara “Penjaga Dua Kota Suci”. Kondisi ini membuat otoritas kerajaan harus melakukan tindakan tersebut.

Baca Juga: Catatan Manuver Politik Saudi: Di Balik Narasi Islam Moderat Arab Saudi [15]

Moderasi Beragama Arab Saudi

Kebijakan MBS yang dinilai banyak pihak memiliki dua sisi yang berseberangan. Di salah satu sisi, kebijakan reformasi Arab Saudi memiliki dampak besar dan memberikan kebebasan bagi kaum muda Arab Saudi dan melonggarkan mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka inginkan selama ini. 

Moderasi beragama menjadi kebijakan dan keputusan yang diinisiasi MBS. Hal ini dilakukan ditengah paham Wahabisme yang dianggap terlalu kaku dan tidak memberikan ruang bagi banyak kaum muda dan perempuan Arab Saudi.

Kebijakan Arab Saudi lainnya yang berusaha menggemakan moderasi beragama yakni melakukan diskusi intens dengan salah satu organisasi massa Islam moderat di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). 

Pihak Arab Saudi dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel, telah melakukan diskusi terkait moderasi beragama tersebut. Diskusi ini juga menunjukkan bahwa Arab Saudi ingin melakukan reformasi keagamaan dengan menggemakan moderasi beragama. Sikap MBS melalui pelbagai kebijakan kontroversial di Arab Saudi dianggap sebagai tindakan “out of the box”. Ia juga tengah mempersiapkan menuju visi Arab Saudi 2030. 

Melalui persiapan dan usaha mensukseskan visi tersebut. Upaya telah dilalukan untuk mengurangi ketergantungan Arab Saudi pada minyak. Arab Saudi juga tengah melakukan diversifikasi ekonomi dan pengembangan di sektor publik, seperti kesehatan, pendidikan, wisata dan infrastruktur.

Baca Juga: Sejarah Singkat Kerajaan Hijaz Al-Hasyimiyah, Potret Kebangkitan Nasionalisme Arab di Tangan Sayid

Memang, selama ini Arab Saudi telah memprioritaskan pendapatan dalam negerinya melalui sektor minyak. Bahkan, minyak telah memberikan sumbangan besar yakni 30 hingga 40 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Arab Saudi. Tetapi proporsi ekonomi juga sangat tergantung pada distribusi minyak. Maka, hal ini membuat Arab Saudi harus mengurangi ketergantungannya pada minyak.

Visi Arab Saudi 2030 berdasar pada tiga pilar utama, yakni pertama ingin menjadikan Arab Saudi sebagai jantung Islam. Kedua, determinasi sebagai kekuatan investasi global. Ketiga, ingin menjembatani dan menjadi perantara bagi tiga benua, yakni Asia, Eropa, dan Afrika. Melalui tangan MBS, visi Arab Saudi 2030 akan dipersiapkan dan dikelola dengan matang. Maka, kedepan wajah Arab Saudi akan berbeda. Kesan konservatif yang melekat dalam diri Arab Saudi lambat laun akan berubah menjadi moderat dan modern.

REKOMENDASI

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

Marxisme Tidak Melulu Soal Komunisme dan Atheisme, Begini Cara Menjadi Sosialis yang Islami Ala...

Harakah.id – Tuduhan bahwa Marxisme dan Sosialisme selalu melahirkan Komunisme dan Atheisme sebenarnya kurang tepat. Buktinya Soekarno, seorang pembaca marxis dan...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...