Beranda Keislaman Akidah Arti Asma’ul Husna al-Quddus Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Maqsad al-Asna

Arti Asma’ul Husna al-Quddus Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Maqsad al-Asna

Harakah.id Salah satu nama Allah adalah Al-Quddus. Secara Bahasa berarti yang sangat suci. Apa maksud dari nama ini? Imam al-Ghazali menulis penjelasan yang cukup panjang dalam kitab Maqsad al-Asna Syarah Asma’ul Husna. Berikut penjelasan beliau.

Salah satu nama Allah adalah Al-Quddus. Secara Bahasa berarti yang sangat suci. Apa maksud dari nama ini? Imam al-Ghazali menulis penjelasan yang cukup panjang dalam kitab Maqsad al-Asna Syarah Asma’ul Husna. Berikut penjelasan beliau.

Al-Quddus (Yang Mahasuci) adalah yang bebas dari setiap sifat yang dapat ditangkap indera, atau yang dapat ditangkap imajinasi, atau yang dapat menjadi perhatian imajinasi secara naluriah, atau yang dapat mendorong suara hati, atau yang dituntut pikiran.

Saya tidak mengatakan: bebas dari segala kecacatan dan ketidaksempurnaan, karena menyebutkan itu saja sudah mendekati menghina; tidaklah baik kalau mengatakan: raja negeri itu bukan tukang tenun dan juga bukan tukang pembuat gelas, karena menafikan eksistensi sesuatu dapat secara tidak benar menyiratkan kemungkinan eksistensi sesuatu itu, dan dalam implikasi yang tidak benar itu terdapat ketidaksempurnaan.

Namun saya lebih baik mengatakan: Yang Mahasuci adalah yang melebihi setiap sifat yang sempurna yang dianggap oleh kebanyakan makhluk sebagai kesempurnaan. Karena para makhluk mula-mula berpaling ke dirinya, menyadari sifat-sifatnya, dan mengetahui bahwa mereka dibagi menjadi (1) apa yang sempurna pada diri mereka, seperti pengetahuan dan kemampuan mereka, pendengaran, penglihatan dan bicara mereka, kehendak dan pilihan mereka sehingga mereka menggunakan kata-kata ini untuk menyampaikan makna-makna ini, dan mengatakan bahwa inilah istilah-istilah kesempurnaan. Tetapi sifat-sifat itu juga mengandung (2) apa yang tidak sempurna berkenaan dengan mereka, seperti kebodohan mereka, kebutaan mereka, ketulian mereka, kebisuan mereka, kelemahan mereka; dan mereka menggunakan kata-kata ini untuk menyampaikan makna-makna ini.

Jadi, yang dapat mereka lakukan, untuk memuji Allah Ta’ala dan menyifati-Nya, adalah (1) melukiskan Dia dengan sifat-sifat yang diambil dari kesempurnaan mereka – dari pengetahuan, kemampuan, pendengaran, penglihatan dan pembicaraan – dan (2) meniadakan Dia dari sifat-sifat yang diambil dari ketidaksempurnaan mereka. Namun Allah – segala puji bagi Dia yang Mahatinggi – melebihi sifat-sifat yang diambil dari kesempurnaan mereka. Dia juga mengatasi sifat-sifat yang mencerminkan ketidaksempurnaan mereka. Sungguh, Allah bebas dari setiap sifat yang dapat dipahami makhluk; Dia mengatasi semua itu dan apa pun yang sama dengan semua itu atau seperti semua itu. Jadi, jika tidak ada wewenang atau izin yang diberikan untuk menggunakan sifat-sifat itu, tentu menggunakan kebanyakan dari sifat sifat itu juga dilarang. Namun Anda sudah memahami apa artinya ini dari bab keempat dari bagian mukadimah (Bagian Pertama), sehingga tidak perlu diulangi.

Refleksi Nama Allah Al-Quddus

Hamba akan suci kalau dia membebaskan pengetahuan dan kehendaknya. Dia harus membebaskan pengetahuannya dari khayalan, dan dari segala persepsinya, di mana persepsi-persepsi ini sebagian juga dimiliki oleh binatang. Studinya yang terus-menerus dan bidang studinya hendaknya berkenaan dengan hal-hal Ilahiah yang benar-benar bebas dari keharusan lebih dekat untuk dipersepsi indera, atau semakin menjauh sedemikian sehingga tersembunyi darinya. Jadi, dia akan membebaskan diri dari segala khayalan, dengan mengambil dari ilmu ilmu apa yang masih dapat dimanfaatkan seandainya orang kehilangan organ-organ inderawi dan imajinasi, dan dengan demikian tersegarkan kembali dengan bentuk-bentuk pengetahuan yang mulia, universal, dan Ilahiah, yang berkenaan dengan objek-objek pengetahuan yang abadi dan bukan dengan individu-individu yang berubah-ubah dan yang dapat dibayangkan.

Adapun kehendaknya, dia harus membebaskannya dari berkisar di seputar partisipasi-partisipasi manusiawi yang terjadi karena kesenangan hawa nafsu atau amarah, kesukaan pada makanan, seks, pakaian, apa yang dapat disentuh atau dilihat, atau segala kenikmatan yang dirasakannya hanya melalui panca indera dan tubuhnya. Dengan cara demikian dia tidak akan menginginkan apa-apa kecuali Allah Swt. Dia tidak akan meniru apa-apa kecuali meniru sifat-sifat Allah, yang dirindukannya hanyalah bertemu dengan Dia, yang membuatnya bahagia hanyalah dekat dengan Dia. Meskipun surga dengan segala kebahagiaannya ditawarkan kepadanya, dia tidak akan memalingkan aspirasinya ke arahnya, juga dunia langit dan bumi tidak akan memuaskannya, namun hanya Tuhan alam-alam (Rabbul ‘alamin) ini sajalah yang memuaskannya.

Ringkasnya, persepsi-persepsi inderawi dan imajiner juga dimiliki hewan, dan orang harus dapat mengatasinya agar dia benar-benar manusiawi. Hewan juga bersaing dengan manusia dalam hal kenikmatan-kenikmatan pancaindera manusiawi. Maka, manusia harus membebaskan diri dari kenikmatan-kenikmatan semacam itu. Orang yang berkeinginan sama tingginya dengan apa yang diinginkannya, begitu pula orang yang menginginkan apa yang masuk ke perutnya juga sama nilainya dengan apa yang keluar dari perutnya. Namun siapa pun yang hanya menginginkan Allah Swt., maka dia mendapatkan tingkat yang sesuai dengan keinginannya itu. Dan barangsiapa meninggikan pikirannya di atas tingkat hal-hal khayali, dan membebaskan kehendaknya dari ditentukan oleh hawa nafsu, maka dia akan ditempatkan di taman kesucian.

Demikian “Arti Asma’ul Husna al-Quddus Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Maqsad al-Asna”. Semoga “Arti Asma’ul Husna al-Quddus Menurut Imam al-Ghazali dalam Kitab Maqsad al-Asna ini bermanfaat untuk kita semua”.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...