Beranda Keislaman Asal Kalian Tahu, Bersenggama Di Masa Wabah Corona Makruh dan Tidak Dianjurkan!

Asal Kalian Tahu, Bersenggama Di Masa Wabah Corona Makruh dan Tidak Dianjurkan!

Harakah.id – Berhubungan intim memang merupakan kebutuhan. Namun ada ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi agar kegiatan berhubungan intim etis dilakukan.

Situasi dan kondisi adalah satu dari sekian banyak hal yang harus dipertimbangkan. Di masa wabah misalnya, apakah layak bagi seorang Muslim untuk bersenang-senang sedangkan saudaranya di luar sana sedang mengerang kesakitan karena Corona?

Di masa wabah, selain melakukan usaha-usaha batin, kita juga harus mengupayakan usaha-usaha zahir. Selain harus meningkatkan intensitas ibadah dan berdoa kepada Allah Swt, seseorang juga wajib mematuhi protokol kesehatan yang sudah dikeluarkan pemerintah atas anjuran pakar medis serta meningkatkan imunitas tubuhnya dengan makan makanan yang sehat dan berolahraga rutin. Dengan upaya dzahir dan batin tersebut, dengan ijin Allah seseorang akan selamat dari paparan wabah virus yang berbahaya.

Hal-hal etis lainnya yang diatur oleh para ulama ketika wabah datang adalah mengenai kebiasaan berhubungan intim bagi pasutri. Dalam nadzamnya, Syeikh Ibn Yamun mengatakan:

قلل من الجماع في المصيف # وحالة الأمراض والخريف

“Kurangi kegiatan berjima’ di musim yang sangat panas, dalam keadaan sakit dan genting”

Dalam bait syair tersebut, Syeikh Ibn Yamun menganjurkan pasutri untuk tidak melakukan jima di tiga keadaan; di musim yang sangat panas, ketika sakit dan keadaan genting. Lalu, Syeikh Abu Muhammad al-Tihami dalam Syarah Qurratul ‘Uyun, memberikan penjelasan tambahan bahwa:

“… hendaknya [seorang pasutri] meninggalkan kegiatan berjimak untuk sementara waktu di masa-masa rusaknya cuaca dan menyebarnya wabah penyakit. Maksud dari kalimat mengurangi intenstitas “taqlil” dari nadzam tersebut adalah majaz dari maksud meninggalkan secara total..” (Qurratul ‘Uyun, h. 49)

Hal yang sama juga disampaikan Syeikh Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitabnya, Latha’iful Minan wal Akhlaq. Beliau menulis:

من ضحك او جامع زوجته او لبس ثوبا مبخرا او ذهب إلى مواضع التنزهات أيام نزول البلاء على المسلمين فهو والبهائم سواء

“Barang siapa yang tertawa, berjimak dengan pasangannya, mengenakan pakaian bagus atau pergi ke tempat-tempat wisata di kala turunnya ujian berat bagi kaum muslimin, maka dia dan hewan tidak ada bedanya..”

Dalam penjelasannya ini, Syeikh Abdul Wahhab memang tidak spesifik berbicara soal wabah. Namun terminologi “al-bala’” yang digunakan saya kira sudah mengakomodir maksud dari wabah itu sendiri. Jadi apa yang dijelaskan di atas, sebenarnya lebih ke arah etika seorang Muslim ketika wabah datang. Mereka yang tetap bersenang-senang, baik itu dengan berjimak, bepergian atau bercanda, di kala wabah datang, sama saja dengan binatang. Mereka tidak memiliki empati, kepedulian dan rasa solidaritas bagi saudaranya yang terdampak.

Maka kata kunci di balik pelarangan berjimak di masa wabah, berdasarkan penjelasan di atas, adalah “bersenang-senang”. Bersenang-senang adalah tanda seseorang tidak memiliki empati, bodo amat, individualis dan tidak peduli pada kesulitan yang dialami banyak orang. Praktek berjimak, termasuk juga kegiatan lainnya, yang didasarkan pada ketidakpedulian semacam ini makruh bahkan haram dilakukan. Namun jika berjimak dilakukan karena memang kebutuhan, ya tidak masalah.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...