Beranda Keislaman Hadis Asbabul Wurud Hadis Mengubah Kemungkaran dengan Tangan, Begini Versi Imam Al-Bukhari

Asbabul Wurud Hadis Mengubah Kemungkaran dengan Tangan, Begini Versi Imam Al-Bukhari [2]

Dari penelusuran, hadis ini tidak memiliki asbabul wurud. Dalam arti konteks sosial yang melatari saat Rasulullah SAW mengeluarkan pernyataannya. Tetapi, ia memiliki apa yang disebut oleh Ibnu Hamzah Al-Dimasyqi sebagai asbabul wurud ba’da ashrin nubuwwah (konteks sosial setelah era kenabian). Yaitu ketika seorang sahabat mengutip hadis ini untuk menyikapi suatu fenomena sosial.

Asbabul wurud ini ditemukan bahkan dalam kitab Shahih Al-Bukhari.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ، وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ» قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: «فَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ – وَهُوَ أَمِيرُ المَدِينَةِ – فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ، فَلَمَّا أَتَيْنَا المُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ، فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ، فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ، فَجَبَذَنِي، فَارْتَفَعَ، فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلاَةِ»، فَقُلْتُ لَهُ: غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ، فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ، فَقُلْتُ: مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لاَ أَعْلَمُ، فَقَالَ: «إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلاَةِ، فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ»

Dari Abu Sa’id Al-Khudri yang berkata, “Rasulullah SAW berangkat pada hari Idul Fitri dan Idul Adha ke tempat shalat. Pertama kali beliau mengawali dengan shalat Id. Kemudian beliau selesai, lalu menghadap ke arah orang-orang. Orang-orang duduk di barisan mereka. Rasulullah SAW memberikan nasihat, wasiat dan perintah. Jika beliau ingin berhenti, beliau berhenti berbicara. Atau ingin memberi perintah, beliau memerintahkan. Kemudian selesai.”

Abu Sa’id berkata, “Orang-orang terus mempraktikkan dengan cara seperti itu sampai saya keluar untuk shalat Idul Adha atau Idul Fitri pada masa pemerintahan gubernur Marwan, -dia gubernur Madinah. Ketika kami telah berada di tempat shalat, ternyata ada mimbar yang dibuat oleh Katsir bin Shalti. Marwan ternyata ingin memberikan khutbah sebelum shalat Id. Saya menarik bajunya. Marwan balik menarikku. Lalu dia berhasil naik dan memberikan khutbah sebelum shalat Id. Aku berkata, ‘Kalian telah mengubah tradisi, demi Allah.’

Marwan berkata, ‘Abu Said, apa yang kamu ketahui telah berlalu.’ Saya berkata, ‘Apa yang saya tahu, demi Allah, lebih baik daripada apa yang tidak saya ketahui.’ Marwan menimpali, ‘Orang-orang enggan duduk mendengarkan khutbah kami setelah shalat Id. Lalu kami menempatkannya sebelum shalat Id.’”
(HR Al-Bukhari).

Imam Muslim memiliki riwayat dari Thariq bin Syihab,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ – وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ – قَالَ: أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ. فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ، فَقَالَ: الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ، فَقَالَ: قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ، فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ: أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

Dari Thariq bin Syihab –hadis ini merupakan redaksi Abu Bakr, yang berkata, “Orang yang pertama kali megnawali dengan berkhutbah sebelum shalat Id adalah Marwan. Lalu berdiri seorang laki-laki. Ia berkata, ‘Shalat sebelum khutbah.’ Marwan mengatakan, ‘Tradisi itu telah ditinggalkan.’ Abu Sa’id Al-Khudri berkata, ‘Orang ini telah melaksanakan kewajibannya. Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman. (HR Muslim)

Sampai di sini, dengan asumsi hadis tersebut otentik, kita mengerti bahwa kita tidak pernah tahu mengapa dan kepada siapa Rasulullah SAW menujukan perkataannya tersebut. Di antara sahabat-sahabat Nabi SAW lainnya, Abu Sa’id adalah sahabat yang meriwayatkan hadis ini.

Absennya konteks sosial pada masa Nabi SAW mengharuskan kita berhati-hati dalam memahami hadis ini. Penting untuk mengumpulkan secara lengkap berbagai riwayat tentang perintah amar makruf dan nahi munkar dengan tangan. Jika tidak, maka kita akan rentan terjebak dalam tekstualisme sempit yang dapat berakibat pada pengambilan keputusan yang memiliki dampak sosial kurang baik seperti kecenderungan melakukan kebaikan dengan menggunakan kekerasan. Jangan sampai, Islam yang mengajarkan kasih sayang justru dinodai dengan aksi kekerasan atas nama agama.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...