Beranda Tokoh Asmah Sjahruni, Aktivis Perempuan NU Generasi Pertama dari Kalimantan Selatan

Asmah Sjahruni, Aktivis Perempuan NU Generasi Pertama dari Kalimantan Selatan

Harakah.idNahdlatul Ulama (NU) dikenal sebagai organisasi para ulama tradisionalis. Tradisionalisme sering dipahami sebagai ketertutupan terhadap kemajuan. Nyatanya, NU mengembangkan sayap organisasi untuk mewadahi aspirasi kaum perempuan, Muslimat NU. Asmah Sjahruni menjadi salah satu perintis sayap perempuan organisasi ini. Inilah Asmah Sjahruni, aktivis perempuan NU generasi pertama dari Kalimantan Selatan.

Asmah Sjahruni merupakan sosok srikandi Muslimat NU yang dilahirkan pada tanggal 28 Februari 1927 pada pukul 01.00 dini hari. Dalam kepercayaan di kampungnya, kelahiran yang terjadi pada malam hari biasanya terlahir bayi laki-laki, namun ternyata yang pada saat itu dilahirkan adalah seorang bayi perempuan. 

Setelah tumbuh agak besar, Asmah Sjahruni dibawa ziarah ke makam-makam wali. Di tempatnya, ada satu tempat yang diberi nama Basyirin—nama seorang habib yang dianggap wali. Nama lengkapnya adalah Habib Umar Basyirin. Tempat itu biasa diziarahi seluruh orang Kalimantan Selatan, bahkan luar Kalimantan Selatan; dan hingga kini menjadi pusat ziarah yang masih hidup.

Cara beragama keluarga Asmah disebut sebagai cara ahlussunnah wal jamaah—adzan Jumat dua kali, tarawih dua puluh rakaat dan tambah witir tiga rakaat, subuh pakai qunut, serta ada juga tarekat. Keluarganya mengamalkan ajaran Syaikh Arsyad al-Banjari dan karya ulama besar Banjarmasin yang berjudul Sabilal Muhtadin yang menjadi bacaan wajib keluarganya. Menjadi cucu dan anak dari seorang tokoh yang mempertahankan paham ahlussunnah wal jamaah yang kemudian disebut sebagai kaum tuha (tua), menjadi keberuntungan tersendiri untuk dirinya. 

Ia dapat menikmati sekolah, yang kala itu pendidikan sangatlah terbatas. Orang-orang yang ingin mendapatkan pendidikan agama bisa menimbanya di surau. Sedangkan, untuk pendidikan umum, baru ada di kecamatan. Itu pun untuk tingkat SR (Sekolah Rakyat) lima tahun yang dibuat dua jenjang—pertama, hingga kelas tiga dan mendapatkan ijazah, kedua kelas empat dan lima. 

Dari situlah Asmah Sjahruni melihat cara berpikirnya jauh di atas orang tuanya. Ia beranggapan bahwa meskipun ia terlahir sebagai perempuan, tetapi ia memiliki hak untuk bisa menikmati pendidikan. Walau pertentang muncul, terutama dari keluarga Ayahnya, tetapi ia bertekad untuk tetap sekolah. 

Setelah banyaknya pengetahuan yang ia dapatkan, Asmah dan bibinya kemudian segera menularkan pengetahuan itu kepada wanita lain yang tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan. Bibinya kala itu, mengajarkan bagaimana membuat kue modern, kerajinan tangan, hiasan dinding, yang diikuti kalangan wanita desa. Bahkan, sempat mendatangkan guru dari Kota Rantau untuk mengajarkan sulaman, sarung bantal, dan lain sebagainya. 

Sejak muda, Asmah Sjahruni memiliki kegemaran berorganisasi. Ia masuk organisasi pemuda setempat waktu zaman Jepang. Dan memiliki kelompok belajar bersama yang kegiatannya bukan semata-mata pelajaran sekolah saja. Sejak SD, Asmah telah berpikiran bahwa alangkah indahnya jika membentuk barisan pemuda-pemudi. 

Mulai dari situlah, ia mempunyai grup belajar yang menspesialiskan pada pidato dan mengarang. Di sisi lain, ia juga menyukai seni sehingga memiliki grup sandiwara anak-anak dan seni kasidah. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa pada saat itu perempuan sangatlah sulit mendapatkan hak pendidikannya. Masalah yang dihadapi seperti sikap keluarga yang beranggapan bahwa pendidikan itu tidak penting untuk anak perempuan, tenaga kerja hanya diperlukan untuk ke sawah; sehingga anak perempuan harus segera dicarikan suami untuk menambah tenaga kerja dalam keluarga, dan jika anak perempuan tidak segera menikah akan menjadi aib keluarga. 

NU Menampung Aspirasi Kaum Perempuan

Aktivitas Asmah Sjahruni dalam pergerakan perempuan mengundangnya untuk berkiprah lebih luas; dan itu ia temukan di kewanitaan NU. NU dianggap pas di daerahnya dan ajaran NU yang selalu mengikuti petunjuk ulama, tidak mengekang pergerakan perempuan, sehingga menjadikan perempuan di daerahnya begitu antusias. 

Ia berkiprah di Muslimat sejak tahun 1952. Sebagai seseorang yang dipercaya untuk memimpin Muslimat NU di Kalimantan Selatan dan mendapat hak untuk membentuk beberapa cabang, ia kemudian membentuk Muslimat cabang Kandangan untuk kali pertamanya. Kemudian, cabang Amuntai yang telah menjadi basis NU, dengan tokohnya KH. Idham Chalid. 

Tak ada yang menyangka, munculnya Muslimat mendapatkan sambutan luar biasa di Kalimantan Selatan. Organisasi kewanitaan ini dianggap mendukung aktivitas NU. Oleh karena itu, dalam Muktamar NU tahun 1954 di Surabaya, diselenggarakan juga Kongres Muslimat NU. Perjalanannya dalam Muslimat NU tidak hanya lurus-lurus saja, ia harus melewati beberapa hal termasuk saat harus mengambil keputusan antara memilih menjadi guru atau tetap berproses di Muslimat NU. 

Puncak ketegangannya saat itu saat akan mengikuti Muktamar NU di Surabaya pada tahun 1954 yang juga menjadi Kongres Muslimat NU pertama. Sebagai ketua wilayah, ia harus berangkat untuk mengikuti kongres, tetapi di sisi lain ia tidak mendapatkan izin untuk tidak mengajar selama beberapa hari. Maka dari situlah, ia berpikir bahwa memang harus ada yang dipilih salah satu dan ia memilih untuk mengundurkan diri sebagai guru. 

Asmah Sjahruni telah merasakan nikmatnya berorganisasi yang membuka matanya begitu lebar terhadap dunia. Memang, hal ini menjadi pilihan yang sulit untuk dirinya. Betapa berat ia meninggalkan profesi guru yang sudah menyatu selama 14 tahun dan bahkan menjadi cita-citanya untuk mengabdi kepada bangsa dan negara. Namun, karena kiprahnya di Muslimat NU pun telah dalam, maka tak ada jalan lain, ia harus memilih salah satu. Karena baginya, berkiprah di Muslimat juga sebagai panggilan yang tak kalah mulia.

Pada saat kongres, ia meminta jatah Muslimat untuk kursi parlemen dan kebetulan juga ia ditunjuk sebagai anggota Panitia Penyusunan Calon. Terjadilah kegemparan pada saat itu, ada yang menyatakan bahwa bagaimana mungkin wanita tampil di panggung politik. Persoalan ini kemudian dibawa kepada seorang ulama karismatik yang dianggap waliyullah, KH. Anang Zainal Ilmi. 

Beliau sangat anti terhadap pandangan konservatif terhadap perempuan, yang pada akhirnya beliau menyatakan boleh jika wanita menjadi anggota parlemen; sebab itu bukan jabatan hakim. Setelah melewati masa-masa kampanye yang penuh tantangan, Asmah Sjahruni memiliki kenangan menarik saat kampanye di sarang pemberontak Ibnu Hajar yang saat itu dijaga oleh MB. 

Juru kampanye yang ditunjuk terdiri dari lima orang wanita, namun menariknya, MB itu melindungi mereka dan NU mendapatkan sambutan luara biasa di sana. Serta, lima wanita tersebut tidak merasa takut meski harus berhadapan dengan pemberontak. Dari sinilah, bisa disimpulkan bahwa Asmah Sjahruni memang seorang pemimpin yang nampak sangat menonjol dan semua pimpinan Muslimat NU akan merasa terdorong oleh kepimimpinannya. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...