Beranda Sejarah Awal Mula Keislaman Kaum Anshar dan Berita Datangnya Nabi Baru oleh Kaum...

Awal Mula Keislaman Kaum Anshar dan Berita Datangnya Nabi Baru oleh Kaum Yahudi

Harakah.idAwal Mula Keislaman Kaum Anshar harus diakui berkat Kaum Yahudi Madinah. Berita kabar mengenai datangnya Nabi baru menyebar di kalangan Kaum Yahudi. Tanpa berpikir panjang, Kaum Anshar Madinah langsung datang dan berbaiat masuk Islam kepada Nabi.

Sepeninggal istri tercintanya Sayyidah Khadijah al-Kubra dan pamannya Abu Thalib, cobaan Nabi Muhammad Saw. kian berat. Ibnu Sa’d menuturkan bahwa keduanya meninggal hanya selisih satu bulan lima hari. Padahal Sayyidah Khadijah adalah tempat mengadukan persoalan yang dihadapi Nabi Saw. untuk menghibur dan membesarkan hati beliau. Sedangkan Abu Thalib adalah orang yang selalu mendukung Nabi Saw. dalam berbagai urusan dari selalu menjaganya dari keburukan kaum Quraisy.

Ibnu Hisyam menuturkan, “Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy mengintimidasi Rasulullah Saw. dengan berbagai tindakan yang tidak dapat dilakukan ketika Abu Thalib masih hidup. Bahkan, orang dungu Quraisy berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah Saw. sehingga beliau pulang dengan kepala berlumuran tanah.”

Dalam keadaan demikian, betapa kesabaran Nabi Saw. begitu besar terhadap cobaan yang dialaminya tersebut. Melihat ayahnya yang terkena kotoran tersebut, salah seorang putrinya segera membersihkan kepalanya sambil menangis. Namun, Nabi Saw. mencoba menenangkannya seranya berkata, “Jangan menangis Nak, sesungguhnya Allah melindungi ayahmu.

Baca Juga: Fatimah Punya Zikir Hadiah dari Nabi Muhammad SAW, Apa Isinya?

Dibalik cobaan yang begitu besar, terdapat hikmah luar biasa agar menjadi sebuah pelajaran yang luar biasa. Syekh Al-Buthi menuturkan jika saja Abu Thalib berumur panjang hingga dapat selalu melindungi Nabi Saw. dapat memunculkan prasangka terhadap perkembangan dakwah Islam. Orang-orang akan mengira bahwa Abu Thalib lah yang berperan besar di balik kesuksesan tersebut yang selalu melindungi Nabi Saw. dengan kekuasaan dan kedudukannya.

Setelah wafatnya orang terdekat Nabi Saw. di atas, beliau tidak berkecil hati dengan tetap mendakwahkan agama Islam. Pada setiap musim haji (tradisi yang tetap terpelihara sejak Nabi Ibrahim) beliau memperkenalkan diri kepada orang-orang yang datang ke Masjidil Haram. Nabi Saw. membacakan Kitabullah dan mengajak orang-orang untuk mengEsakan Allah, namun tak seorangpun menyambutnya.

Ketika bertemu dengan orang-orang, Nabi Saw. berkata, “Wahai orang-orang, ucapkanlah la ilaha illallah, niscaya kalian beruntung dan dengannya kalian menguasai bangsa Arab dan menundukkan bangsa ajam. Jika kalian beriman, kalian akan menjadi raja-raja di surga.”

Di sisi lain, Abu Lahab terus mengawasi pergerakan Nabi Saw. dan menimpali ajakan beliau di atas dengan mengatakan, “Jangan turuti kata-katanya, karena dia murtad dan pembohong!” Dengan hasutan tersebut, orang-orang menolak dakwah Nabi Saw. bahkan dengan kata-kata kasar dan sebagian mereka menyakiti beliau.

Awal mula keislaman Kaum Anshar bermula pada tahun ke-11 kenabian, yakni ketika Nabi Muhammad Saw. bertemu dengan suku Khazraj yang berasal dari Madinah untuk berhaji. Pertemuan tersebut terjadi di Aqabah (tempat antara Mina dan Makkah yang nantinya menjadi tempat berbaiat). Nabi Saw. bertanya kepada orang-orang dari suku Khazraj tersebut, “Siapa kalian?”

Mereka menjawab, “Kami orang Khazraj.” Nabi Saw. pun melanjutkan, “Apakah kalian sekutu kaum Yahudi?” dan mereka pun mengiyakannya. Setelah mengetahui hal tersebut, Nabi Saw. mengajak mereka untuk duduk bersama dan berdiskusi. Beliau mengajak mereka kepada Allah Swt., menyeru mereka untuk memeluk agama Islam, dan membacakan Al-Qur’an kepada mereka.

Sebelumnya, orang-orang Khazraj tersebut selalu mendengar kabar datangnya Nabi baru dari kaum Yahudi yang merupakan tetangga mereka. Apabila terjadi pertentangan antara keduanya, orang Yahudi kerap mengancam akan datangnya nabi akhir zaman. Orang Yahudi mengatakan, “Sekarang akan muncul seorang Nabi setelah sekian lama tidak ada Nabi yang diutus. Kami akan mengikutinya. Bersama sang Nabi itu kami akan menumpas kalian, seperti ditumpasnya kaum Ad dan Iram!”

Kondisi demikian dikabarkan dalam firman-Nya sebagai berikut:

Dan, setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka, laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah [2]: 89)

Baca Juga: Kenapa Sahabat Nabi Muhammad SAW Dimuliakan dalam Al-Qur’an?

Maka, setelah mendengan ajakan Nabi Muhammad Saw. untuk mengesakan Allah Swt dan memeluk Islam, mereka saling berpandangan satu sama lain. Salah satu dari mereka berkata, “Ketahuilah, demi Allah, inilah Nabi yang kerap disebutkan kaum Yahudi untuk mengancam kita. Jangan sampai mereka mendahului kita dalam mengikutinya.” Dan akhirnya, orang-orang Yahudi lah yang mengingkari Nabi Muhammad Saw. Bahkan mereka bekerja sama dengan kaum Quraisy untuk memerangi Nabi Saw, namun pertolongan Allah Swt. atas beliau.

Mereka pun akhirnya menerima ajakan Nabi Saw. di atas dan berkata, “Sungguh, kami telah meninggalkan kaum kami dan tidak ada permusuhan dan kejahatan yang dialami suatu kaum melebihi kaum kami. Maka, barangkali Allah akan mempersatukan mereka karenamu. Kami akan pulang kepada mereka dan akan mengajak mereka mengikutimu. Kami akan memperlihatkan kepada mereka mengenai sambutan kami terhadapmu. Jika Allah mempersatukan mereka dalam agama ini maka sesungguhnya tidak ada orang yang lebih perkasa darimu.”

Mereka lalu pulang ke Madinah dalam keadaan beriman dan membenarkan risalah Nabi Muhammad Saw. Ketika mereka tiba di Madinah, mereka memberitahukan tentang Rasulullah Saw. kepada seluruh sanak saudara dan mengajak mereka masuk Islam. Tersebarlah kabar tentang Islam di kalangan orang-orang Madinah. Di setiap rumah kaum Anshar selalu terdengar sebutan atau cerita tentang Rasulullah Saw.

Awal mula keislaman Kaum Anshar mengalami fase lanjutan ketika musim haji tahun berikutnya, datanglah 12 orang dari kaum Anshar dan menemui Nabi Muhammad Saw. di Aqabah. Ubadah bin Ash-Shamit (salah seorang yang ikut dalam rombongan tersebut) meriwayatkan peristiwa ini:

“Jumlah kami duabelas orang laki-laki. Rasulullah Saw. bersabda kepada kami, ‘Marilah berbaiat kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak berdusta untuk menutup-nutupi apa yang ada di depan atau di belakangmu, dan tidak membangkan perintahku dalam perkara yang patut. Barangsiapa memenuhi baiatnya maka pahalanya terserah kepada Allah. Barangsiapa melanggar sesuatu dari baiatnya, lalu dihukum di dunia maka hukuman itu menjadi kafarat (penebus dosa) baginya. Barangsiapa melanggar sesuatu dari baiatnya, lantas Allah menutupi aibnya maka urusannya terserah kepada Allah, apakah mengazabnya ataukah memaafkannya.’ Maka kami berbaiat kepada beliau untuk semua itu.”

Ketika kaum Anshar hendak pulang (dari haji), Nabi Muhammad Saw. mengutus Mush’ab bin Umair bersama mereka. Beliau memerintahkan sahabat nya tersebut untuk membacakan al-Qur’an, mengajarkan Islam, dan memberikan pemahaman tentang agama kepada mereka. Karena tugas inilah, Mush’ab bin Umair dijuluki Muqri’ Al-Madinah (Pembaca Al-Qur’an bagi Madinah).

Begitulah keberuntungan kaum Anshar yang nantinya akan menjadi penolong bagi Nabi-Nya dan para pengikutnya. Hal tersebut dikabarkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah berimah (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin). Mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9)

Demikianlah awal mula keIslaman kaum Anshar yang mendapatkan nikmat begitu besar membersamai Nabi-Nya. Bahkan, dari tempatnya lah (Madinah) Islam akhirnya menyebar ke berbagai penjuru negeri.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...