Beranda Tokoh Badiuzzaman Said Nursi, Ulama Turki yang Berkarya di Pengasingan

Badiuzzaman Said Nursi, Ulama Turki yang Berkarya di Pengasingan

Harakah.idTetapi siapa sangka kalau selama di pengasingan justru Badiuzzaman semakin produktif menjawab dan mengomentari permasalahan yang dihadapi umat Islam.

Nama asli beliau adalah Said, seorang agamawan cerdas yang lahir pada tahun 1293 H/1877 M. Sedangkan nama Badiuzzaman–yang berarti: orang hebat tiada tandingan di zamannya–adalah julukan yang diberikan ulama semasanya, sebagai pengakuan atas pengetahuan dan wawasannya. Adapun Nursi merupakan nama penisbatan (kuniah) terhadap desa kelahirannya, desa Nurs, Bitlis, Anatolia Timur.

Badiuzzaman lahir dari keluarga taat beragama. Ayahnya adalah tokoh yang terkenal sebagai Sufi Mirza, sedangkan ibunya tak sekali pun menyusui putranya kecuali dalam keadaan berwudhu. Menurut sebagian riwayat, Badiuzzaman memiliki nasab Al-Hasani dari jalur ayah serta nasab Al-Husaini dari jalur ibu.

Sebagai gambaran kecerdasannya, Badiuzzaman mampu menghafal sembilan puluh kitab rujukan pelajaran agama. Bahkan dikabarkan, beliau mampu menghafal keseluruhan isi kitab Jam’ul Jawami’ fi Ushulil Fiqh karya Imam Tajuddin As-Subki dalam tempo sepekan saja.

Mula-mula beliau belajar kepada saudaranya, Abdullah Nursi, Kemudian berlanjut menimba ilmu hingga remaja kepada para alim di sekitar tempat tinggalnya, yakni daerah Anatolia Timur. Sejak remaja pula, beliau kerap tampil gemilang dalam ajang diskusi bersama para cendekiawan dari daerahnya.

Menginjak usia 17 tahun, beliau melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu ke kota Van. Di sanalah beliau mulai mempelajari berbagai cabang ilmu sains. Karena kematangan pengetahuan agama dan kemampuannya menyerap sains, beliau pun segera terkenal di kawasan negara Islam.

Sehingga tidak mengejutkan apabila ketika usianya baru 27 tahun, beliau sudah diundang untuk mengisi kuliah umum keagamaan di Masjud Jami’ Umawi Damaskus, Suriah. Di atas mimbar masjid peninggalan Daulah Umayyah–yang diduga kuat sebagai tempat turunnya Nabi Isa di akhir zaman–inilah, beliau menyampaikan pidato yang berisi ajakan kepada umat Islam untuk tetap bangkit menegakkan kebenaran.

Ketika Perang Dunia I mulai berkecamuk pada tahun 1914 M, Badiuzzaman sebenarnya tidak setuju keterlibatan Turki Utsmani dalam perang tersebut. Tetapi ketika Kesultanan Utsmaniyah mengumumkan perang, beliau pun taat dan turut lebur membela negara yang dicintainya. Perjuangan Badiuzzaman dan murid-muridnya sempat terhenti ketika beliau terluka dalam medan pertempuran. Beliau pun dibawa ke Siberia dan dipenjara sebagai tahanan perang tentara Rusia.

Atas pertolongan Allah, Badiuzzaman dapat melololoskan diri dari penjara. Ketika telah sampai di Istanbul, beliau mendapatkan penghargaan medali perang dari pemerintah dan diangkat menjadi anggota lembaga ilmiah ulama Turki Utsmani, Darul Hikmah al-Islamiyaah. Melalui lembaga tersebut, karya Badiuzzaman yang berbahasa Arab akhirnya diterbitkan. Termasuk di antaranya adalah kitab Tafsir Isyaratul I’jaz fi Madzanil Ijaz yang disusun pada masa beliau terlibat dalam peperangan.

Tidak berselang lama setelah berakhirnya Perang Dunia I, kekhalifahan Turki Utsmani akhirnya runtuh pada tahun 1922 M dan berganti menjadi Republik Turki. Di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Republik Turki berangsur menjadi negara sekuler yang tak begitu suka apabila segala hal kenegaraan dan pengetahuan dikaitkan dengan keagamaan.

Sebagai tokoh yang tumbuh dan berkembang bersama ilmu agama, Badiuzzaman sering merasa tak sejalan dengan berbagai kebijakan baru yang berlaku di negaranya. Bahkan ketika Badiuzzaman diundang ke ibukota Ankara untuk menyampaikan pendapatnya pun beliau sering tak sepaham dengan ide-ide Mustafa Kemal Pasha.

Untuk mengamankan dominasi, penguasa saat itu berusaha menjauhkan Badiuzzaman dari ibukota Ankara dan menawari jabatan di daerah Timur dengan gaji menggiurkan. Tetapi beliau menolak penawaran tersebut.

Meski tak terlibat langsung dalam pemberontakan, beliau juga merasakan keganasan pemerintah terhadap kaum agamis saat itu. Berkali-kali beliau dituduh berbuat onar, berkali-kali dipenjara, berkali-kali duduk menjalani persidangan, berkali-kali pula Badiuzzaman dibebaskan dan dinyatakan tak bersalah.

Puncaknya adalah ketika Badiuzzaman diasingkan di daerah terpencil bernama Barla, seorang diri. Penguasa Turki saat itu berharap supaya kegemilangan dan pengaruh Badiuzzaman segera berakhir. Sehingga beliau akan dilupakan orang.

Tetapi siapa sangka kalau selama di pengasingan justru Badiuzzaman semakin produktif menjawab dan mengomentari permasalahan yang dihadapi umat Islam. Dipindahkan dari tempat satu ke tempat yang lain membuatnya bertemu dengan banyak orang yang membaca risalahnya. Risalah keagamaan yang beliau tulis itu pun disalin oleh banyak orang dan tersebar ke seluruh penjuru Turki.

Risalah yang beliau tulis selama di pengasingan itu akhirnya terkumpul sebanyak 130 risalah dan dinamai dengan Kulliyyat Risalah an-Nur. Kumpulan risalah tersebut selanjutnya dibagi menjadi empat bagian, yakni; Al-Kalimat, Al-Maktubat, Al-Luma’at dan Asy-Syu’a’at. Karya beliau inilah yang di kemudian hari menjadi bahan kajian Islam di Turki. Bahkan dipelajari pelajar Islam di berbagai penjuru dunia.

Badiuzzaman Said Nursi wafat pada usia 83 tahun, tepatnya 23 Maret 1960 M, di kota Urfa. Ketika wafat, beliau tak meninggalkan harta berharga bagi keluarganya, kecuali karya dan teladan perjuangannya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...