fbpx
Beranda Gerakan Bagaimana Cara FPI Membangun Militansi Anggota dan Membentuk Ekosistem Massa yang Solid?

Bagaimana Cara FPI Membangun Militansi Anggota dan Membentuk Ekosistem Massa yang Solid?

Harakah.id Cara FPI membangun militansi anggota memang misterius. Sambutan meriah kepulangan Sang Imam ke Indonesia memperlihatkan sebuah tindak fanatisme dan kesadaran kolektif yang cukup solid dalam lingkaran umat FPI. Bagaimana hal tersebut bisa terbentuk?

Suka tidak suka, Front Pembela Islam punya cara yang efektif dalam membangun militansi kader dan memobilisir beragam agenda propaganda. Cara FPI membangun militanisme massa semacam ini menarik dan perlu dikuak. Bukan hanya untuk memahami cara kerja olah massa dalam FPI, tapi juga untuk menjelaskan banyak hal yang selama ini masih mewujud pertanyaan. Militansi, fanatisme dan totalisme umat FPI tidak hanya terpampang kala aksi 212, penjemputan kepulangan Habib Rizieq, tapi juga terdengar jelas dalam jejaring kicauan virtual di media-media sosial kita.

Sejak beberapa tahun terakhir, tema-tema yang diangkat pun sebenarnya tidak banyak berubah. Ia didominasi oleh isu-isu politis yang cenderung menjadikan pemerintah sebagai obyeknya. Peta pertikaian di dunia virtual pun juga tidak berubah. Istilah kadrun, cebong dan istilah lainnya sedikit banyak masih muncul dan menggambarkan genetika pertikaian yang terbentuk di 2014 dan 2016. Dengan kata lain, mereka yang berafiliasi dalam FPI maupun mereka yang hanya sepakat dengan kecenderungan politik FPI terus menerus ada dan siap sedia. Layaknya medan pertempuran, mereka selalu berada di baris pertama dalam daftar.

Hari ini, mungkin kita tidak bisa lagi memposisikan FPI hanya sebagai nama bagi sebuah organisasi masyarakat di Indonesia. Sejak kasus Ahok, Pilkada Jakarta sampai Pilpres, FPI sebenarnya telah mewujud satu model gerakan oposisi yang secara komunal menggunakan agama sebagai basis logika dan argumentasinya. FPI, bersama-sama dengan beberapa organisasi, partai dan beragam ideologi keagamaan yang ada meleburkan diri dalam satu visi politik tertentu sekaligus mengaburkan batas-batas diferensiasi materil organnya. Meskipun tampil dominan sebagai pengatur propaganda dan langkah-langkah politik di antara organisasi sampiran yang muncul, FPI tak lagi sendiri. Ia tidak lagi mewakili satu organisasi massa tertentu, tapi mewakili sehimpunan gerakan yang berada di bawah naungan populisme agama.

Melalui kenyataan semacam ini, identifikasi ideologi dan paham keagamaan nyatanya akan susah sekali dilakukan. Sejak aksi 212, tipologi seperti salafisme, wahabisme, khilafahisme berikut organisasi Islam kanan lainnya telah mengembangkan kawasan makna dan ruang perjuangannya. Hari ini, mereka saling bersentuhan, tukar-menukar posisi, dan saling mengafirmasi. Anatomi ideologis dalam sebuah gerakan keagamaan yang mulai bermutasi semacam ini menandakan kalau fase pembacaan ideologi sebagai paradigma untuk melihat ataupun memetakan tipologi gerakan Islam kontemporer di Indonesia tidak lagi efektif.

nucare-qurban

Dan memang pada kenyatannya, nalar politik (aql siyasi) akan selalu berada di kawasan khusus. Ia tidak berkorelasi, membentuk hubungan “dibentuk atau membentuk”, sekaligus berkoherensi dengan paham keagamaan, ideologi maupun hal-hal kognitif lainnya (aql bayani). Nalar siyasi akan selalu berada di luar nalar bayani. Secara bayani, mungkin FPI punya perbedaan yang jelas dengan kelompok salafi maupun HTI. Tapi secara siyasi, ketiganya sangat mungkin bertemu, bercengkerama dan menjadi satu kesatuan. Pragmatisme yang menjadi karakter utama nalar siyasi adalah jembatan penghubungan bagi hal-hal yang berbeda secara bayani untuk bertemu dalam konsensus siyasi yang sama.

Tak hanya itu, karena nalar siyasi akan selalu bertempat tinggal dalam ketidaksadaran manusia, ia selalu cenderung tampil dominan dan menindih nalar bayani. Ruang kerja siyasi adalah hasrat, sedangkan bayani bekerja di ruang kognisi. Secara alamiah, pertarungan nafsu versus akal akan selalu dimenangkan nafsu. Contohnya sederhana; berapa banyak orang yang terbutakan promo 11.11 dan membeli barang yang bahkan belum sempat mereka pikirkan fungsi dan kegunaannya.

Dengan kata lain, fanatisme politik akan selalu membuat logika seseorang tak berdaya. Dalam pertarungan politik, tidak lagi ada pertimbangan baik-buruk berdasarkan rasio. Yang ada hanyalah kalah atau menang serta ambisi untuk mencapai tujuan. Di titik ini, dalam konteks politik, ideologi sama sekali tidak lagi diperhitungkan.

Perkembangan, geliat pergerakan dan kreatifitas cara FPI membangun militansi anggota tentu saja tidak bisa lepas dari sosok Muhammad Rizieq Shihab. Pendiri organisasi yang sekaligus menjadi pimpinan komando, imam dan pengayom bagi para pengikutnya. Habib Rizieq tidak hanya piawai dalam hal mengelola sebuah organisasi vigilante seperti FPI, dia juga seorang orator ulung yang piawai menarasikan agitasi dan propaganda kepada para pengikutnya dengan retorika yang memikat, tangguh dan tak memberikan kesempatan pendengarnya untuk ragu apalagi bertanya. Dengan seluruh kontroversi dan kekhasannya dalam menyampaikan gagasan, Habib Rizieq juga piawai dalam mengelola suasana dan selalu mampu menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian.

Sejak kepulangannya beberapa hari yang lalu, sampai hari ini, Habib Rizieq dan FPI sudah menyajikan beberapa kontroversi serta membuat nuansa perpolitikan kita tambah seru. Arakan dari para pengikutnya di hari kepulangan membuat Nikita Mirzani geram dan bertikai verbal dengan Sony aka. Maheer Tuwailibi. Ia menjadi trending topic selama beberapa hari sampai muncul lagi kontroversi kedua soal penyelenggaran pernikahan anak Habib Rizieq di masa-masa PSBB dan grafik Covid yang terus menanjak. Acara maulid Nabi di Petamburan juga tidak kalah riuhnya. Potongan video yang berisi respons Habib Rizieq atas kelakuan Nikita Mirzani untuk kesekian kalinya membuat banyak orang terplongo, “model beragama dan tokoh semacam ini kok banyak pengikutnya ya?”

Bukan hanya sekali pertanyaan itu muncul. Hampir setiap orang, termasuk saya, normalnya akan punya pertanyaan semacam itu. Dari mana militansi muncul? Bagaimana cara FPI membangun militansi anggota? Bagaimana cara mereka mengelola massa, membangun fanatisme organisasi sampai memobilisir anggotanya? Bagaimana ia mampu menggerakkan banyak orang, termasuk mereka yang sebenarnya bukan anggota?

I Made Supriatma dalam status facebooknya menulis kalau FPI tidak hanya mampu mendekati kelompok-kelompok masyarakat menengah-bawah, tapi juga pandai mengelola dan menggerakkan mereka yang selama ini tak punya kuasa. Sebagai sebuah organisasi, sifat populis semacam ini didukung oleh perangkat badan otonom yang cukup lengkap dalam organ FPI. Mereka hadir di loksai-lokasi bencana, turut serta dalam membangun infrastruktur publik dan menggerakkan agenda-agenda sosial lainnya.

Kunci kemampuan FPI mengelola psikologi massa dan jitunya cara FPI membangun militansi anggota sebenarnya terletak pada pemanfaatan makna heroisme dan kuasa. Diakui atau tidak, setiap manusia pada akhirnya akan mengukur aspek eksistensialnya kala hidup di dunia ini. Hal ini bisa dicapai ketika ia mampu memendarkan efek kuasa kepada eksistensi lain di luar dirinya. Seorang bapak akan merasa menjadi bapak dan kepala keluarga kalau pendapatnya didengar, nasehatnya dicari dan instruksinya ditunaikan oleh anak istrinya. Seorang bos akan selalu mendapat makna dirinya kala berhadap-hadapan dengan pekerjanya. Manusia akan selalu merasa kosong dan hampa kala tahu kalau dirinya ternyata tak punya kuasa; suaranya tidak pernah didengar dan lakunya tidak pernah dipertimbangkan.

Masyarakat yang terpuruk secara sosial dan ekonomi – yang stoknya cukup banyak di Indonesia –  akan selalu haus eksistensi. FPI datang untuk memberikan ruang bagi mereka bersuara dan mencicipi sedikit kuasa. Makna heroisme dikembangkan lebih luas. Setiap orang mampu menjadi pahlawan dengan cara melancarkan dakwah dan menegakkan syariat Allah. Doktrin keagamaan yang diramu dengan kesempatan untuk menampilkan eksistensi dalam bentuk kuasa heroistik semacam ini kemudian meluap menjadi militanisme dan fanatisme.

Ketika kehidupan selalu hadir untuk mempecundangi nasib, minimal ada beberapa momentum ketika seseorang merasa dirinya “ada” dan suaranya didengar. Disadari atau tidak, kondisi psiko-mentality semacam ini yang hadir dalam benak umat FPI yang rela meninggalkan pekerjaannya dan berpanas-panas berjalan menyambut kepulangan Sang Imam. Dalam banyak kasus, lapar perut tak lebih menyakitkan dari lapar eksistensi dan lapar makna hidup.

Kecenderungan semacam ini sangat mungkin terjadi mengingat mayoritas lumbung massa FPI berada di kota dan pusat-pusat keramaian nan padat penduduk. Nuansa perkotaan yang lebih bebas dan demokratif membuat setiap orang punya kesempatan untuk tampil. Kota, tidak seperti desa, tidak memiliki tatanan etis yang terlalu ketat soal stratifikasi sosial dan hal-hal lainnya yang bersifat norma. Tanpa harus repot-repot mempertimbangkan persoalan-persoalan etis, cangkolang atau ewuh pakewuh, masyarakat perkotaan hadir dalam sebuah gelanggang yang tidak mengenal perbedaan usia, kedudukan sosial dan lainnya – yang kalaupun ada, ia sangat tipis.

Terlepas dari persoalan wacana populisme agama dan ideologi gerakan FPI, yang saya kira juga membentuk jejaring problematika yang rumit, persoalan mentalitas massa semacam ini setidaknya menunjukkan bagaimana ketidaksadaran kolektif itu terbentuk. Ketika militanisme dan fanatisme lahir dalam wujudnya yang paripurna, maka tugas selanjutnya cenderung lebih mudah; yakni soal ke mana dan kepada propaganda apa suara massa hendak diarahkan?

Kala militansi terbentuk, ketokohan pemimpin dan keberadaan organisasi akan mengalami proses pengkultusan. Arahan dari pimpinan komando dan diktum organisasi akan diamini layaknya kitab suci. Kontroversi dan masalah-masalah yang muncul akan selalu dianggap ujian bagi konsistensi visi gerakan, dan sebagai pengikut, tugas mereka hanya mendengar imam dan versi kebenaran resmi dari organisasi tanpa ragu, tanpa bertanya. Semakin dikritik, semakin tumbuh fanatisme. Layaknya tembok, semakin keras materil temboknya, maka benda yang dibenturkan akan memantul lebih jauh.

Selain itu, tentu banyak sekali faktor lain yang turut membentuk ekosistem massa dalam organ FPI dan gerakan populisme agama. Tapi sekali lagi, mentalitas dan psikologi massa mengunci faktor yang paling fundamental. Ketika massa tidak solid, tentu Habib Rizieq dan FPI – berikut gerakan populisme agama – tidak akan sehingar dan melahirkan efek politik seperti sekarang, bukan?

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...