Beranda Keislaman Muamalah Bagaimana Hukum Investasi Emas dalam Bentuk Tabungan?

Bagaimana Hukum Investasi Emas dalam Bentuk Tabungan?

Harakah.id – Menabung emas memang sedang trend.Stabilnya harga emas bisa membuat uang kita selamat dari inflasi. Lalu, bagaimana hukum praktek menabung emas dalam kacamata fikih?

Emas adalah salah satu barang yang favorit dijadikan media investasi. Alasannya adalah karena nilai emas selalu stabil dan bertahan di hadapan ancaman inflasi yang mengancam nilai mata uang. Dan kalau diamati, harga emas memang selalu naik dari tahun ke tahun. Karena itu, banyak orang mulai menyimpan uangnya dalam bentuk emas. Dan salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menabung emas.

Lalu bagaimana hukumnya?

Permasalahan ini dalam fikih masuk pembahasan mu’amalah ribawiyah (transaksi barang potensi riba). Ia ada dua jenis; a) transaksi barang ribawi sejenis dan b) transaksi barang ribawi dengan non ribawi. Yang pertama mensyaratkan; 1) harus kontan, 2) harus sepadan dan 3) saling menerima langsung (taqabudl). Sedangkan yang kedua hanya mensyaratkan; 1) saling menerima dan 2) kontan. Transaksi dikatakan halal jika memenuhi syarat, sebaliknya, menjadi haram jika tidak memenuhi syarat.

Meskipun ada yang berpendapat uang bukan ribawi, bertransaksi emas, dalam bentuk apapun, menurut jumhur masuk ke jenis yang pertama, yaitu transaksi barang ribawi sejenis. Uang adalah barang ribawi, emas juga. Maka mari kita cek apakah praktek menabung emas sudah sesuai syarat;

Merujuk pada situs yang dirilis oleh Pegadaian, program tabungan emas dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1) Nasabah memiliki buku rekening Tabungan Emasku di Pegadaian dengan jalan mendaftar menjadi nasabah. 2) Nasabah menabung emas dengan jalan membeli emas seberat 0.1 gram yang harganya disesuaikan dengan besaran harga emas per gramnya pada hari itu.

Contohnya, harga emas 1 gram mencapai angka Rp 650 ribu, maka untuk harga 0.01 gram emas, harganya 6.500 rupiah. Jika harga emas mengalami penurunan senilai Rp 500 ribu per gram, maka harga 0.01 gram emas menjadi senilai 5.000 rupiah. 3. Setelah tabungan itu terkumpul senilai harga 1 gram emas atau harga 5 gram emas, nasabah bisa memesan agar emas tersebut dicetak dalam wujud fisik.

Kalau kita amati, dalam produk tabungan emas, berlaku hal-hal sebagai berikut: 1) Berat emas yang dibeli sudah diketahui, hanya saja belum dicetak. 2) Harga per gramnya juga diketahui dengan pasti dan real time (saat itu juga). 3) Penyerahannya juga real time dan emasnya dititipkan ke pegadaian.

Dengan mencermati karakteristik tabungan ini, maka dalam akad tabungan ini sudah memenuhi ketiga syarat pertukaran barang ribawi yang sejenis, yaitu: 1) harus kontan, 2) sejenis dan 3) saling serah terima.

Kesimpulannya, hukum tabungan emas ini adalah sah secara fiqih sehingga tidak sama dengan hukum jual beli kredit. Pencetakan emas, setelah 1 gram, 5 gram atau 10 gram, merupakan akad yang baru dan tidak ada hubungannya dengan akad tabungan. Akad pencetakan tersebut sama halnya dengan akad istishna’, yaitu akad pesan cetak barang dengan ujrah (upah) yang baru.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...