Bagaimana Hukum Zakat via Transfer Bank dan Online

0
166
Hukum Zakat via Transfer dan Online

Harakah.id – Bagaimana hukum membayar zakat fitrah dengan transfer via intenet dan mobile banking, ATM atau aplikasi? Apakah sah?

Perkembangan teknologi banyak mengubah pola hubungan dan kehidupan masyarakat. Laju perubahan ini juga merambah pada ranah keberagamaan. Tak sedikit aktivitas ibadah yang menjadi lebih mudah dilaksanakan berkat campur tangan teknologi, salah satunya dalam membayar zakat fitrah.

Pada masa-masa sebelumnya, muzakki atau orang yang memberikan zakat harus bertemu langsung dengan penerima zakat atau mustahik. Sekarang, hal ini bisa dilakukan melalui transfer uang via internet dan mobile banking, ATM, atau aplikasi di gawai. Dengan begitu, zakat yang kita berikan seketika sampai pada mustahik tanpa adanya pertemuan langsung antara muzakki dan mustahik.

Baca Juga: Tata Cara Niat Zakat Fitrah Sendiri Untuk Diri Sendiri dan Keluarga

Karena tanpa tatap muka, maka tidak ada ijab qabul dalam zakat yang dilakukan via transfer rekening bank dan semacamnya. Maksud ijab qabul di sini ialah perbuatan atau pernyataan tentang sesuatu yang sengaja dilakukan oleh kedua belah pihak berdasarkan persetujuan masing-masing dan menunjukan kehendak kedua belah pihak.

Lalu, bagaimana hukum membayar zakat fitrah dengan transfer via intenet dan mobile banking, ATM atau aplikasi di gawai? Apakah zakatnya tetap sah?

Memang ada ulama yang mengharuskan adanya akad penyerahan dan penerimaan alias ijab qabul dalam zakat. Salah satunya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili. Dalam Al-Fiqh Al-Islam wa Adillatuhu ia menerangkan, zakat harus diserahkan langsung kepada mustahik atau wakilnya, yakni imam atau amil (orang/lembaga yang mengurus zakat) karena berkaitan dengan akad ijab qabul.

Baca Juga: Hukum Zakat Via Online, Begini Penjelasan Para Ulama

Tapi ada pula ulama yang menerangkan bahwa akad ijab qabul dalam zakat bukanlah sesuatu yang mutlak menjadi syarat harus dilakukan. Oleh karena itu, tanpa adanya ijab qabul, zakat yang ditunaikan tetap sah. Bahkan, misalnya dalam jual beli yang mensyaratkan ijab qabul pun tetap sah tanpa adanya pertemuan dan saling bersalaman kedua belah pihak.

Para ulama fikih menekankan bahwa yang paling utama dalam menjalankan sesuatu ada pada niatnya. Di sini, sah atau tidaknya zakat ditentukan dari niat orang yang mentransfer zakat pada orang yang berhak menerima.

Selain itu, meski memiliki dimensi sosial, pada dasarnya zakat merupakan ibadah yang dilakukan atas dasar perintah wajib dari Allah. Seorang muzakki hanya berharap zakatnya diterima Allah dan mendapat pahala karena telah menjalankan perintah-Nya. Perintah zakat ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” [QS. Al-Bayyinah: 5].

Baca Juga: Berapa Nomimal Zakat Fitrah dengan Uang?

Jadi, tanpa ijab qabul zakat tetap sah. Karena pada dasarnya, akad ijab qabul itu merupakan ungkapan dari keridhoan serta keikhlasan hati orang saat menyerahkan zakat.

Maka yang paling penting ketika hendak menunaikan zakat melalui platform online ialah niat dalam hati atau dipertegas dengan melafalkannya. Adapun zakat bisa langsung diberikan ke mustahik atau menyalurkan lewat amil zakat. Selain akan lebih luas membawa manfaat, menunaikan zakat melalui amil juga dapat menjadi salah satu bentuk syi’ar Islugam.

Baca Juga: Orang yang Berhak Menerima Zakat. Siapa Saja?