Beranda Keislaman Ibadah Bagaimana Hukumnya Jika Melakukan Shalat Sunat Setelah Shalat Witir

Bagaimana Hukumnya Jika Melakukan Shalat Sunat Setelah Shalat Witir

Harakah.idMeski ada anjuran bahwa shalat witir hendaknya dijadikan sebagai shalat sunat malam yang terkahir, namun menurut Imam Nawawi boleh-boleh saja jika seseorang berniat untuk shalat sunat kembali pada hal sebelumnya ia telah melakukan shalat Witir.

Ada banyak keutamaan dalam ibadah shalat witir. Lebih-lebih setelah memasuki pertengahan bulan Ramadhan. Umat Islam seringkali berbondong-bondong melaksanakannya. Bagi kebanyakan umat Islam, shalat witir ini seperti shalat Tarawih yang menandai keberadaan bulan Ramadhan.

Ada anjuran agar shalat Witir dijadikan penutup seluruh shalat sunnah yang kita lakukan. Tetapi, meski ada anjuran bahwa shalat witir hendaknya dijadikan sebagai shalat sunat malam yang terkahir, namun menurut Imam Nawawi boleh-boleh saja jika seseorang berniat untuk shalat sunat kembali pada hal sebelumnya ia telah melakukan shalat Witir. Praktek tersebut tidak dihukumi makruh, dan ia tidak perlu mengulang kembali shalat witirnya.

Imam Nawawi Al-Syafi’i menjelaskan dalam kitab al-Majmu’ (3/511):

إذَا أَوْتَرَ ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يُصَلِّيَ نَافِلَةً أَمْ غَيْرَهَا فِي اللَّيْلِ جَازَ بِلَا كَرَاهَةٍ وَلَا يُعِيدُ الْوِتْرَ

Jika seseorang telah melakukan shalat Witir, kemudian berniat untuk shalat yang lain baik shalat sunnah atau bukan pada malam yang sama, maka hukumnya boleh-boleh saja, tidak makruh, dan ia tidak perlu mengulang kembali Witirnya.

Pendapat ini didasarkan pada hadis bahwa Aisyah pernah ditanya perihal witirnya Rasulullah SAW, Aisyah menjawab:

كُنَّا نُعِدُّ لَهُ سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنْ اللَّيْلِ فَيَتَسَوَّكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي تِسْعَ رَكَعَاتٍ لَا يَجْلِسُ فِيهَا إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يَنْهَضُ وَلَا يُسَلِّمُ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّ التَّاسِعَةَ ثُمَّ يَقْعُدُ فَيَذْكُرُ اللَّهَ وَيَحْمَدُهُ وَيَدْعُوهُ ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ مَا يُسَلِّمُ وَهُوَ قَاعِدٌ

Kami dulu sering mempersiapkan siwaknya dan bersucinya, setelah itu Allah membangunkannya sekehendaknya untuk bangun malam. Beliau lalu bersiwak dan berwudhu` dan shalat sembilan rakaat. Beliau tidak duduk dalam kesembilan rakaat itu selain pada rakaat kedelapan, beliau menyebut nama Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, kemudian beliau bangkit dan tidak mengucapkan salam. Setelah itu beliau berdiri dan shalat untuk rakaat ke sembilannya. Kemudian beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya dan berdoa kepada-Nya, lalu beliau mengucapkan salam dengan nyaring agar kami mendengarnya. Setelah itu beliau shalat dua rakaat setelah salam sambil duduk (HR Muslim)

Imam Nawawi menjelaskan bahwa dari jawaban Aisyah dalap dipahami ada kemungkinan bahwa Nabi pernah menambah shalat dua rakaat setelah Witir beliau.

Dengan demikian jelas lah bahwa anjuran untuk menjadikan shalat Witir sebagai penutup bukan berarti kita dilarang melakukan shalat sunnah lagi. Kita tetap boleh melakukan shalat sunnah sekalipun telah melaksanakan shalat Witir.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...