Beranda Keislaman Ibadah Bagaimana Jika Lupa Melakukan Takbir Zaidah Dalam Shalat Id, Apakah Perlu Mengulang?

Bagaimana Jika Lupa Melakukan Takbir Zaidah Dalam Shalat Id, Apakah Perlu Mengulang?

Harakah.id – Satu hal yang memberikan ciri khusus pada shalat Id adalah takbir zaidah. Yaitu takbir tambahan yang dilakukan setelah takbiratul ihram. Tepatnya di rakaat awal dan kedua. Masing-masing sebanyak tujuh dan lima kali. Lalu bagaimana jika takbir zaidah yang merupakan ciri khas shalat Id lupa dikerjakan? Apakah shalat menjadi batal atau kita wajib mengulanginya? Berikut penjelasan dalam mazhab Syafi’i.

Shalat sunat hari raya secara umum pelaksanaanya sama persis seperti shalat sunat biasa. Satu hal yang memberikan ciri khusus pada shalat Id adalah takbir zaidah. Yaitu takbir tambahan yang dilakukan setelah takbiratul ihram. Tepatnya di rakaat awal dan kedua. Masing-masing sebanyak tujuh dan lima kali. Lalu bagaimana jika takbir zaidah yang merupakan ciri khas shalat Id lupa dikerjakan? Apakah shalat menjadi batal atau kita wajib mengulanginya? Berikut penjelasan dalam mazhab Syafi’i.

Perlu diingat meskipun takbir zaidah adalah ciri khas shalat sunat Id, tetapi pada dasarnya hukum takbir zaidah tetap merupakan sunat shalat saja. Bukan bagian dari rukun shalat. Dan posisi pengerjaanya adalah sebelum membaca surah. Jadi, jika takbir zaidah luput dikerjakan karena kasus imam atau seseorang lupa melakukannya, atau terlambat mengikuti shalat dan imam telah masuk dalam pembacaan surah, maka hukumnya tidak mengapa dan shalat Id tetap sah. Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Majmu’ (5/22):

ذِكْرٌ مَسْنُونٌ فَاتَ مَحَلُّهُ فَلَمْ يَقْضِهِ كَدُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ

(Takbir zaidah dalam shalat Id adalah) zikir yang disunatkan, sama halnya seperti doa iftitah, jika ia terluput dikerjakan maka tak perlu diulangi lagi.

Imam Nawawi melanjutkan:

دُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ مَعْنَاهُ أَنَّ الْمُنْفَرِدَ إذَا شَرَعَ فِي الْفَاتِحَةِ قَبْلَ الافتتاح لا يأتي به بَعْدَ ذَلِكَ وَأَمَّا الْمَأْمُومُ إذَا أَدْرَكَ الْإِمَامَ بَعْدَ فَرَاغِهِ مِنْهُ وَشُرُوعِهِ فِي الْقِرَاءَةِ أَتَى بِهِ إنْ لَمْ يَخْشَ فَوْتَ الْفَاتِحَةِ قَبْلَ رُكُوعِ الْإِمَامِ نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِي الْأُمِّ وَاتَّفَقُوا عَلَيْهِ

Takbir zaidah sama kedudukannya seperti doa iftitah. Jadi, jika seorang munfarid ketika shalat Id langsung masuk dalam surah Al-Fatihah dan lupa mengerjakan takbir zaidah maka ia tidak boleh mengulanginya, sama hukumnya seperti orang yang masuk dalam surah Al-fatihah dan lupa membaca doa iftitah. Adapun seorang makmum jika baru masuk dalam shalat ketika Imam selesai dari takbir zaidah dan telah membaca surah, maka ia dapat mengerjakan takbir zaidah jika tidak khawatir luput membaca Al-Fatihah karena imam keburu ruku. Ketentuan ini telah ditemukan dalam keterangan Imam Syafi’I dalam kitab Al-Umm, dan para ulama menyepakatinya.

Jika orang yang lupa mengerjakan takbir zaidah baik ia merupakan imam atau munfarid, kemudian ia teringat ketika sudah masuk ke dalam ruku’, lalu ia bangkit untuk mengerjakan takbir zaidah, maka shalatnya menjadi batal. Imam Nawawi menjelaskan:

وْ نَسِيَ التَّكْبِيرَاتِ الزَّائِدَةَ فِي صَلَاةِ الْعِيدِ فِي رَكْعَةٍ فَتَذَكَّرَهُنَّ فِي الرُّكُوعِ أَوْ بَعْدَهُ مَضَى فِي صَلَاتِهِ وَلَا يُكَبِّرُهُنَّ وَلَا يَقْضِيهِنَّ فَإِنْ عَادَ إلَى الْقِيَامِ لِيُكَبِّرَهُنَّ بَطَلَتْ صَلَاتُهُ إنْ كَانَ عَالِمًا بِتَحْرِيمِهِ وَإِلَّا فَلَا

Jika seseorang lupa mengerjakan takbir zaidah dalam shalat Id kemudian mengingatnya saat ruku atau setelahnya, maka jangan ia mengulanginya kembali. Jika ia bangun untuk mengerjakan takbir zaidah dalam keadaan itu, maka shalatnya batal jika ia mengetahui adanya larangan dalam masalah ini. Jika ia tidak mengetahuinya maka tidak batal.

Lalu bagaimana kasusnya jika imam atau munfarid mengingat takbir zaidah sebelum ruku? Imam Nawawi melanjutkan penjelasan

وَلَوْ تَذَكَّرَهُنَّ قَبْلَ الرُّكُوعِ إمَّا فِي الْقِرَاءَةِ وَإِمَّا بَعْدَهَا فَقَوْلَانِ (الصَّحِيحُ) الْجَدِيدُ أَنَّهُ لَا يَأْتِي بِهِنَّ لِفَوَاتِ مَحَلِّهِنَّ

Jika takbir zaidah yang terlupa diingat sebelum ruku, misalnya ketika telah masuk dalam bacaan surah, maka ada dua pendapat berbeda dalam masalah ini. Pendapat yang shahih dan sesuai dengan pendapat jadid adalah takbir tetap jangan diulang lagi karena memang posisi pengerjaannya telah berlalu.

Jika takbir zaidah yang terlupa diingat saat sudah membaca Al-Fatihah, tetapi belum membaca surah, maka takbir masih tetap dapat dikerjakan dan surah Al-Fatihah diulang sekali lagi, tetapi mengulang Al-Fatihah hukumnya sunat, tidak wajib. Imam Nawawi menjelaskan:

وَلَوْ تَذَكَّرَهُنَّ بَعْدَ الْفَاتِحَةِ كَبَّرَهُنَّ وَيُسْتَحَبُّ اسْتِئْنَافُ الْفَاتِحَةِ

Jika takbir zaidah diingat setelah membaca Al-Fatihah (sebelum surah) maka takbir masih dapat dikerjakan, tetapi Al-Fatihah sunat diulang lagi.

Kesimpulannya adalah takbir zaidah hukumnya sunat dan meninggalkannya tidak akan membatalkan shalat Id. Posisi pengerjaanya adalah sebelum membaca surah dan lebih baik lagi sebelum membaca Al-Fatihah. Jika takbir zaidah baru diingat sebelum membaca surah, ia masih dapat dikerjakan, tetapi jika baru diingat saat sudah membaca surah atau sesudahnya, maka ia tidak boleh lagi dikerjakan. Jika dipaksa untuk dikerjakan maka shalat menjadi batal.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...