Beranda Kabar Bagaimana Keberlanjutan Sengketa Nuklir Iran dan Amerika Serikat di Era Joe Biden?

Bagaimana Keberlanjutan Sengketa Nuklir Iran dan Amerika Serikat di Era Joe Biden?

Harakah.idSengketa nuklir Iran dan Amerika Serikat memang tidak pernah menemukan ujung. Sebuah kisah sengketa yang penuh intrik dan mewarnai peta geo-politik internasional dalam beberapa dekade terakhir. Lalu bagaimana kisah tersebut akan berlanjut di era Joe Biden?

Berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet pada tahun 1991 lalu berdampak besar pada munculnya tendensi negara lainnya untuk memiliki senjata nuklir. Hal ini disebabkan oleh perseteruan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam masa Perang Dingin mampu menahan dirinya untuk tidak saling menyerang karena adanya kepemilikan senjata nuklir.

Berbagai alasan negara ingin memiliki senjata nuklir, tentunya karena alasan keamanan. Hal ini juga disebabkan oleh negara-negara tetangga yang telah memiliki kemampuan senjata nuklir, serta keinginan untuk meningkatkan statusnya dalam pengaruh perpolitikan global. Dampak dari semua ini adalah mayoritas negara-negara berlomba untuk memiliki senjata nuklir. 

Iran merupakan salah satu negara yang termasuk dalam deretan yang mengembangkan senjata nuklir. Tujuan Iran sendiri terkait ini untuk pengembangan energi. Jika kita lihat kepada sejarah, pemerintahan Iran ini tertarik untuk memiliki dan mengembangkan program nuklir sejak tahun 1953. Pada saat itu, Iran sedang dipimpin oleh Shah Muhammad Reza Pahlevi yang mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahan Amerika Serikat, dengan adanya perjanjian nuklir sipil. 

Namun dalam perkembangannya, Iran dicurangi oleh negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat maupun Uni Eropa yang berupaya mengembangkan nuklir tersebut untuk kepentingan militer, sehingga aktivitas nuklir Iran ini menjadi isu yang sangat kontroversi. Amerika Serikat yang dulu memang mendukung program nuklir Iran, malah justru menjadi negara yang sangat keras menentang keberadaan nuklir Iran di kawasan Timur Tengah saat ini. Dari sini sengketa nuklir Iran dan Amerika Serikat dimulai.

Sengketa nuklir Iran dan Amerika Serikat semakin memanas. Amerika sangat aktif menggaungkan suara tuntutannya terhadap Iran untuk menghentikan program nuklirnya. Melalui badan PBB dan Uni Eropalah, kasus sengketa nuklir Iran dan Amerika Serikat mengalami pasang surut yang tak henti dalam proses penyelesaiannya.

KEBIJAKAN TRUMP YANG SEMAKIN MENEKAN IRAN

Setelah kekalahannya dalam pemilu 3 November 2020 lalu, Trump dianggap belum menerima kekalahan. Kebijakan Trump juga semakin mempersulit Iran karena terus bergerak meningkatkan tekanan, dengan harapan adanya tekanan ini akan mempersulit Biden secara politik dan hukum untuk meringankan sanksi terhadap Iran.

Langkah terbaru dari kebijakan Trump adalah pihaknya membekukan kepentingan AS dari Foundation of the Oppressed yang secara resmi memang menjadi organisasi amal untuk orang miskin yang memiliki kepentingan di seluruh ekonomi Iran.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo mengatakan bahwa rezim Iran telah berusaha untuk mengulangi percobaan yang dapat menggagalkan pencabutan sanksi dan pihak Iran pun mengirimkan sejumlah uang tunai dalam jumlah yang besar sebagai imbalan atas pembatasan nuklir sederhana. Hal ini tentu saja dianggap Pompeo meresahkan dan mengganggu Amerika Serikat karena harus terus menjadi korban dari pemerasan nuklir.

Sedangkan, dari pihak Iran sendiri pun telah menyangkal terkait adanya usaha pembangunan bom nuklir sejak Mei 2019 secara bertahap sehingga menangguhkan sebagian besar kewajiban utama dalam perjanjian yang telah disepakati, termasuk batasan produksi dan penimbunan uranium yang diperkaya rendah.

Adanya Serangan Taktis AS Terhadap Iran

Dilansir dari International.sindonews.com (20/11) bahwa Hossein Dehghan, mantan Menteri Pertahanan Iran yang juga menjadi penasihat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei telah memberikan peringatan kepada Amerika Serikat untuk tidak mengusik Teheran, bahkan dengan serangan taktis sekalipun. Dehghan mengatakan bahwa jika adanya serangan taktis terhadap Teheran, bisa saja akan berubah menjadi perang dalam skala penuh.

Peringatan ini muncul setelah adanya laporan dari Reuters dan New York Times bahwa Presiden Donald Trump tengah mencari cara untuk menyerang situs nuklir utama Iran dalam beberapa Minggu ke depan sebelum Trump lengser dari Gedung Putih. Dalam laporan tersebut juga disebutkan bahwa Trump telah melakukan konsultasi dengan para penasihatnya, termasuk Wakil Presiden Mike Pence, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan Christopher Miller, dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley. 

Menurut Dehghan, adanya konflik taktis ini akan berakibat pada perang penuh dan berdampak pada krisis global yang akan dialami oleh negara-negara lain di dunia internasional. Iran akan terus mengupayakan pengusiran total semua pasukan AS dari wilayah Timur Tengah sebagai pembalasan atas serangan pesawat tak berawak AS yang membunuh komandan Pasukan Quds Qasem Soleimani pada 3 Januari 2020 lalu. Serangan rudal Iran terhadap sepasang pangkalan militer AS di Irak pada 8 Januari lalu hanya bentuk tamparan awal saja. Dehghan secara terbuka mengisyaratkan bahwa tanggapan pemerintahan Iran terhadap pembunuh Soleimani tentu akan mencakup serangan terhadap situs militer AS.   

Dari semua rangkaian peristiwa tersebut, kita pun patut menyimak bagaimana keberlanjutan kisah sengketa nuklir Iran dan Amerika Serikat di masa Biden.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...