Beranda Keislaman Akhlak Tak Cuma Dalami Hakikat, Para Imam Tasawuf Memegang Kuat Syariat

Tak Cuma Dalami Hakikat, Para Imam Tasawuf Memegang Kuat Syariat

Harakah.id – Para pegiat tasawuf seringkali mengungkit term hakikat, para pegiat fikih mengusung term syariat dan para pegiat hadis mengusung term sunnah nabawiyah.

Saat membayangkan apa itu Tasawuf, sebagian orang memahaminya sebagai wujud Ihsan, salah satu aspek yang diajarkan oleh Jibril kepada Nabi Muhammad dan para sahabat di sebuah hadis selain aspek iman dan Islam. Iman adalah persoalan keyakinan, sedangkan Islam dan Ihsan adalah persoalan amal. Islam berbicara tentang procedural amal, sedangkan Ihsan berbicara tentang kualitas amalan di luar sisi proseduralnya.

Sebagian yang lain memahami Tasawuf dalam trilogi perumpamaan ilmu sebagai tanah, tanaman dan pagarnya. Ilmu tauhid diibaratkan sebagai tanah, tempat sandaran segala hal. Ilmu fikih adalah tanamannya, hasil dari tanah. Ilmu tasawuf adalah pagarnya, pelindung untuk hasil yang telah muncul dari tanah.

Pada akhirnya berbicara tentang tasawuf tidak akan selesai dengan dua gambaran di atas, selayaknya pembahasan tentang fikih, hadis atau tafsir, kajian tasawuf juga menggembung menjadi satu khazanah ilmu yang luas, dengan tokoh, kitab dan berbagai pemikiran serta selisih pendapat yang muncul. Di antaranya isu yang tidak pernah selesai di sini adalah menemukan keseimbangan di antara beberapa term yang selalau diungkit-ungkit oleh para pegiat tasawuf dengan pegiat ilmu yag lain. Para pegiat tasawuf seringkali mengungkit term hakikat, para pegiat fikih mengusung term syariat dan para pegiat hadis mengusung term sunnah nabawiyah.

Tidak akan ada persoalan yang muncul jika ada keseimbangan anatar tiga term di atas, namun sepanjang sejarah telah terjadi banyak perdebatan disebabkan pemahaman yang tidak padu dan sinergi di antara ketiganya.

Pada tulisan ini, mari sama-sama melihat bagaimana para imam tasawuf yang namanya sering kita dengar itu hakikatnya juga orang-orang yang keras berpegang pada syariat dan sunnah nabawiyah, jangan membayangkan bahwa mereka adalah orang yang lemah pemahaman syariat dan sunnah, namun mencoba tampil sebagai ulama besar hanya sebatas berbicara tentang hakikat-hakikat dan keramat belaka.

1. Junaid al-Baghdady

Beliau adalah nama yang sangat populer bagi umat Islam di Indonesia. Ada yang mengatakan jika imam mazhab mereka dalam fikih adalah Imam Syafi’iy, maka Imam Mazhab mereka dalam ilmu tasawuf adalah Imam Junaidy al-Baghdady. Untuk mengetahui penguasaan beliau terhadap ilmu fikih cukup dengan melihat fakta bahwa beliau adalah seorang faqih yang memiliki kemampuan berfatwa berdasarkan mazhab Abu Tsur, Abu Tsur sendiri adalah salah seorang murid besar Imam Syafi’iy saat di Baghdad.

Selain fakta bahwa beliau adalah seorang mujtahid fatwa, beliau juga pernah berkata: “barangsiapa yang tidak hafal dan paham Alquran, tidak pula menulis/mengkaji hadis, lebih baik ia jangan ikut-ikut berkecimpung pada perkara kami ini (tasawuf beliau), karena sungguh ilmu ini sungguh berkaitan erat dengan Alquran dan sunnah.”.

Dalam tempat yang lain beliau pernah berkata: “mazhab (tasawuf) kami ini berkaitan erat dengan Ushul Alquran dan hadis.”

2. Abu Yazid al-Bustamy

Ulama yang wafat tahun 260 H ini tumbuh dalam keluarga yang baru memeluk Islam selama tiga genarasi. Kakek Beliau pada awalnya adalah seorang Majusy yang kemudian masuk agama Islam. Tidak heran dikatakan bahwa dalam shalatnya beliau selalu merasa masih seorang majusy yang mencoba menemukan keislamannya.

Al-Qusyaiy mengutip salah satu ungkapan beliau yang boleh jadi amat populer yang berbunyia:

لو نظرتم إلى رجل أعطي من الكرمات حتى يرتقى فى الهواء, فلا تغتروا به, حتى تنظروا كيف تجدونه عند الأمر والنهي, وحفظ الحدود, و أداء الشريعة

“Jika kalian melihat orang yang keramatnya sampai bisa terbang ke langit, maka janganlah tertipu dengan itu! Tapi periksa lah bagaimana ia menerapkan perintah dan larangan Allah, bagaimana ia menjaga diri dari batas-batas agama dan bagaimana ia tekun menjalankan Syariat.

Perkataan di atas jelas menunjukkan bahwa prinsip tasawuf beliau bukanlah fokus pada persoalan keramat dan kisah-kisah ajaib nan luar biasa, pada akhirnya nilai seseorang tetap diukur dari penerapan syariat Islam dalam hidupnya.

Pada sebagian riwayat disebutkan bahwa al-Bustami pernah berkata: “saya pernah berdoa kepada Allah agar dihilangkan hasrat pada makanan dan perempuan dalam diri saya, lalu kemudian saya sadar, bagaimana mungkin saya berdoa seperti ini, padahal ini bukanlah sesuatu yang diajarkan oleh Rasulullah”. Dari sini kita ketahui bahwa tasawuf beliau adalah bagaimana menerapkan nilai-nilai sunnah Rasulullah dalam kehidupan dan tidak menyimpang pada perkara yang tidak ada petunjuk dari Rasulullah Saw.

3. Abu Qasim al-Qusyairy

Imam al-Qusyairi memahami term Syariat dan Hakikat sesuai dengan petunjuk hadis tentang Imam, Islam dan Ihsan. Menurut beliau Syariat adalah kesadaran untuk tetap selalu dalam ibadah, sedangkan Hakikat adalah bagaiman seolah dalam ibadahnya, seseorang itu melihat Allah Swt. Sehingga pembahasan tentang prosedur Ibadah (syariat) tanpa menekankan sisi penghayatan dan khusyuk pada Zat yang diibadahi (Hakikat) tidak dapat diterima, begitu juga berlaku sebaliknya ujaran tentang musyahadah kepada Allah di luar bingkai prosedur ibadah itu juga jangan diterima. Syariat itu datangg membawa beban hukum pada manusia, sedangkan Hakikat berbicara tentang konsekuensi yang didapat dari pelaksanaan manusia tehadap beban hukum tadi.

4. Jalaluddin Rumi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Rumi adalah anak dari seorang ulama besar pada masanya Bahauddin Muhammad Walad Ibnu Husain al-Balkhi. Ayah Rumi adalah alim besar fikih dan hadis dimana kajian beliau dihadiri oleh lebih dari 4000 orang jamaah. Beliau sendiri berada dalam gemblengan ayahnya sampai usia 40 tahun, sepeninggalnya ayahnya pada usia tersebut beliau masih bertualang berguru pada banyak ulama hingga memperoleh banyak ijazah dan sanad mulai dari ilmu Tafsir, Hadis, Fikih, ushuluddin, Bahasa, Sastra, Filsafat dan Ilmu Kalam. Sehingga dalam diri beliau telah mendapatkan ilmu yang mantap dalam ilmu aqliyah dan naqliyah. Khusus dalam ilmu fikih beliau bahkan sampai pada tingkat ahli ijtihad, sehingga nama beliau dimasukkan dalam kitab-kitab Thabaqat ulama hanafiyah yang berstatus sebagai faqih dan Mufti.

5. Syaikh Abdul Qadir Jailany

Seandainya kita mengesampingkan sementara peranan beliau dalam ilmu tasawuf, sesungguhnya tetap saja keagungan ilmu Syaikh Abdul Qadir jailani tetap akan berkilau terang. Beliau pada masanya adalah ulama besar yang memiliki durus pada lintas cabang keilmuan, mulai dari ilmu Alquran, tafsir, Sastra, Balaghah, hingga fikih mulai dari ushul, mazhab, furu’ sampai khilaf-khilaf di dalamnya. Beliau juga ulama yang terlibat dalam proses penerimaan dan periwayatan hadis.

Di dalam kajian fikih, Imam Abdul qadir Jailani adalah ulama besar mazhab Hanbali, nama beliau dimasukkan salah satunya kitab Thabaqat al-Ḥanabillah karya Ibn Rajab yang juga salah seorang ulama besar dalam mazhab Hanbaly. Jika merujuk pada keterangan Ibn Rajab, Syaikh Abdul Qadir Jailani menguasai 13 cabang ilmu dengan baik. Beliau dapat berfatwa berdasarkan mazhabnya sendiri mazhab Hanbaly sekaligus mazhab Syafi’i. Beliau juga termasuk guru dari Ibn Qudamah penulis kitab al-Mughni, nama dan kitab yang tidak asing bagi yang mempelajari mazhab fikih.

6. Imam Al-Ghazaly

Tentu tidak perlu bercerita banyak dengan penguasaan ilmu Syariat Imam Ghazali, cukup dengan membaca kitab Beliau al-Mustashfa, sebuah kitab yang membahas usul fikih setebal dua jiid. Belum lagi jika melihat bagaimana peranan beliau sebagai jembatan khazanah mazhab Syafi’i dari generasi sebelum beliau kepada generasi sesudahnya.

Tulisan ini tentu masih menyisakan banyak ulama pemuka tasawuf lainnya, namun beberapa profil ulama di atas diharapkan dapat membuka kesadaran kita untuk melihat seorang ulama secara utuh dari berbagai penguasaan ilmu yang ada pada mereka. Sudut pandang yang utuh terhadap para ulama dapat membuka kesalahpahaman terhadap banyak hal yang muncul dari pandangan yang kabur.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...