fbpx
Beranda Editorial Bagaimana Sebenarnya Biden Memandang Muslim-Amerika? Menganalisa Agenda Joe Biden Untuk Muslim-Amerika

Bagaimana Sebenarnya Biden Memandang Muslim-Amerika? Menganalisa Agenda Joe Biden Untuk Muslim-Amerika

Harakah.idAgenda Joe Biden untuk Muslim-Amerika penting diamati. Sebagai pemenang dalam pemilihan Presiden Amerika Serikat, Biden berambisi untuk merevisi tatanan yang sudah diciptakan pendahulunya, Donald Trump. Tapi seperti apa sebenarnya pandang Biden soal Muslim-Amerika?

Sebagaimana layaknya seorang Amerikan memandang Muslim, Joe Biden, seperti kebanyakan orang, sadar bahwa komunitas Muslim-Amerika adalah satu komunitas yang sampai hari ini belum maksimal dipenuhi hak-haknya. Entah itu hak konstitusi, hak pendidikan, kesehatan, keamanan dan hak-hak lainnya.

Tak hanya itu, tindakan-tindakan rasial seolah-olah juga menjadi makanan harian komunitas Muslim-Amerika. Sebuah tradisi lapuk yang menguat di bawah tampuk pimpinan Donald Trump. Stigmatisasi, subordinasi dan ketersudutan komunitas Muslim-Amerika sebagai “yang Liyan” membuatnya selalu tampak sebagai “Bukan Amerika”. Alih-alih ditunaikan hak-haknya, konfigurasi budaya semacam itu justru memberikan legitimasi kebenaran terhadap seluruh praktek diskriminasi dan kekerasan rasial.

Dalam konteks ini komunitas Muslim-Amerika tidak sendirian. Ia mewakili wajah “Sang Liyan” yang lebih besar. Kelompok imigran dari Asia, komunitas Amerika-African dan kelompok lainnya menjadi tampiasan dari supremasi “Amerika-Putih”. Meskipun konstitusi Amerika secara tekstual sudah dibebaskan dari realitas rasial, tapi dalam konteks kesadaran budaya-bangsa, Amerika masih menyimpan dan merawatnya dengan tekun.

Sebagai pemenang, Joe Biden punya peranan penting, bukan saja dalam hal memenuhi hak-hak komunitas Muslim-Amerika dan kelompok korban diskrimasi lainnya, tapi juga dalam hal mengubah sebuah tatanan kesadaran yaitu kesadaran Amerika.

nucare-qurban

Untuk mengetahui dengan jelas hakikat pandangan Joe Biden terhadap kelompok-kelompok tersebut, ada baiknya bila kita mengamati dan menganalisa jani serta agenda Joe Biden Untuk Muslim-Amerika. Secara spesifik, artikel ini hanya membahasnya dalam konteks Muslim-Amerika. Kita akan melihat secara semiotis bagaimana Biden – ataupun kelompok dan kepentingan politik yang diwakilinya – akan memproyeksikan agenda untuk Amerikan-Muslim.

Dalam website resmi kampanyenya, Joe Biden membuat ulasan khusus yang mendeskripsikan soal agenda-agendanya untuk komunitas Muslim-Amerika. Sebagaimana layaknya kampanye, ia memulainya dengan menyakinkan kalau Muslim Amerika punya peranan penting dalam proses kebudayaan Amerika. Apakah Biden benar-benar menyakini hal tersebut? Itu urusan belakangan. Intinya suara Muslim-Amerika cukup banyak dan akan menjadi kunci kemenangannya di pertarungan melawan Trump.

“Muslim-Americans are essential to the American fabric, and working with Muslim-American communities is critical to ensuring that Muslim-Americans are uplifted and empowered, and that their issues of concern are addressed within our democracy. You can’t define an American by where their family comes from, what they look like, or what faith they follow. America is an idea–that all men and women are created equal, that everyone is entitled to be treated with dignity. It’s an idea that’s stronger than any army and more powerful than any dictator, and while we’ve never perfectly lived up to this idea, generation after generation of Americans have opened wider the doors of opportunity to include more and more people. Muslim-Americans are a diverse, vibrant part of the United States, making invaluable cultural and economic contributions to communities all across the nation. But they also face real challenges and threats in our society, including racially-motivated violence and Islamophobia. Joe Biden will work closely with Muslim-Americans to address the needs and legitimate concerns of the Muslim-American community. Joe said from the moment he launched his campaign that we’re in a battle for the soul of this nation–to prove that we are not the country Donald Trump thinks we are, that we believe in treating everyone with dignity and respect, that we give hate no safe harbor, that we demonize no one – not the poor, the powerless, the immigrant, the other. America should be a welcoming beacon of hope, where people of all backgrounds, cultures, and faiths can live freely without fear or intimidation.”

Dalam tiga bagian awal agenda Joe Biden Untuk Muslim-Amerika, seluruh variabel argumentasinya mengarus pada satu upaya konstruksi kesadaran kalau “periode Donald Trump sudah memperkuat surpremasi satu kelompok tertentu yang berdampak pada upaya diskriminasi terhadap Muslim Amerika dan munculnya Islamophobia”. Ini kesan hermeneutis yang bisa saya tangkap dari pembukaan agenda tersebut. Jadi intinya, Biden sedang ingin memperkuat perasaan kalau Donald Trump memang gak beres. Jadi pilih aja gue! Gitu…

Maka Biden pun mengagendakan beberapa hal;

“As President, he will: protect Muslim-American constitutional and civil rights; honor the diversity of Muslim-American communities; ensure adequate healthcare; create a safe learning environment; rebuild our economy with a more resilient, more inclusive middle class; and make communities safer.” 

Terkait agenda Joe Biden Untuk Muslim-Amerika, ia akan melakukan upaya perlindungan hak-hak sipil dan konstitusi Muslim-Amerika; ia juga akan menghormati keragaman komunitas Muslim-Amerika; Biden juga akan memastikan Muslim-Amerika mendapatkan fasilitas perawatan kesehatan yang memadai; Biden juga akan menciptakan lingkungan belajar yang aman, khususnya bagi kelompok potensi terdiskrimasi seperti Muslim-Amerika; Ia juga akan membangun kembali ekonomi dengan memanfaatkan kelas menengah yang lebih tangguh dan inklusif, yang di dalamnya ada Muslim-Amerika tentunya; dan terakhir, ia akan membuat komunitas lebih aman.

Saya tidak akan mengulas seluruh daftar agenda dan janji Biden. Hal pertama yang menarik bagi saya adalah soal terminologi keamanan dalam agenda terakhir di daftar sebelumnya “make communities safer”. Agenda ini dirinci lagi dengan sebuah deksripsi;

Reduce incarceration and make our communities safer. According to a 2019 report by Muslim Advocates, Muslim-Americans make up 9% of the state prison population, despite comprising 1% of the overall population. Too often, their basic ability to worship and their rehabilitative and developmental needs are not met while in prison, and they return home to a system that does not welcome them. Joe will ensure the U.S. Justice Department uses pattern-or-practice investigations and consent decrees to address systemic misconduct in police departments and prosecutors’ offices. He will also dedicate more resources to keeping families and mosques safe from Islamophobic attacks. And, as President, Joe will prioritize redemption and rehabilitation. Joe will eliminate mandatory minimums for nonviolent crimes and get rid of cash bail, so income does not determine how long someone is in jail. He will invest $1 billion a year in juvenile justice reform; decriminalize cannabis and expunge records; and end incarceration for drug use alone, diverting people to drug courts and treatment, and expanding access to mental health care.

Biden memulainya dengan mengungkap sebuah realitas kalau Muslim-Amerika mengisi 9% dari jumlah populasi di penjara negara bagian. Maka pertama-tama, Biden mengagendakan pengadaan tempat beribadah di penjara. Tapi yang menarik, Biden juga menganggap kalau “kebutuhan rehabilitasi” dan media untuk “mengembangkan [diri]” patut diadakan. Dalam ulasannya tersebut, Biden juga hendak melakukan reformasi peradilan anak, memperkuat sistem penebusan dan rehabilitasi sampai memaksimalkan perawatan kesahatan mental.

Secara implisit, agenda Biden ini tampak sangat menjanjikan dan positif. Apalagi ada upaya untuk membuat masjid aman dari gerakan-gerakan yang muncul dari islamophobia. Tapi kita tetap harus bertanya soal “kesehatan mental” dan “agenda rehabilitasi”. Mentalitas semacam apa yang dianggap sakit oleh negara sehingga ia harus disembuhkan dan disehatkan? Lalu apa yang dimaksud dengan rehabilitasi?

Dalam paragraf-paragraf awal saya sudah mengulas kalau problem utama Amerika adalah rasialisme dan ego-Amerikasentrisme yang terlalu kuat. Supremasi kelompok “putih” dan kesadaran bangsa yang tidak memberikan tempat bagi kelompok non-putih menjadi hulu bagi timbulnya segala macam keriuhan sosial. Mereka yang mencoba melawan supremasi demi hak-haknya akan dianggap melakukan kejahatan. Mereka yang melakukan kejahatan akan dipenjara dan direhab. Mentalnya akan dianggap sakit dan harus diobati dengan obat-obat Amerika.

Agenda-agenda kekuasaan yang berusaha masuk dan menyerang ruang-ruang hasrat dan mentalitas sudah lama diamati oleh Foucault. Model kekuasaan atas tubuh dan mental yang dikuasai semacam ini penting untuk status-quo. Entah itu status quo kekuasaan politik ataupun status-quo kesadaran supremasi yang menjiwai seluruh agenda politik penguasa.

Biden sebenarnya juga berbicara soal fenomena sosial di level global yang melibatkan komunitas Muslim. Dia berbicara soal Uyghur, soal Rohingya dan Kashmir. Tapi dengan segala keterbatasan argumen yang ada, tampaknya ia hanya berbicara soal itu demi memikat suara komunitas Muslim-Amerika yang trans-ideologi. Ia ingin membangkitkan populisme agama sehingga dengan maksimal mampu meraup suara kaum Muslim-Amerika.

Terlepas dari segala pertanyaan yang muncul, tentu saja asumsi-asumsi tersebut akan kita saksikan ke depan bersamaan dengan upaya Joe Biden mengejawantahkan visi politiknya…

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...