Beranda Keislaman Akidah Bagaimana Status Keimanan Para Pelaku Zina? Begini Jawabannya Di Kalangan Ulama-Ulama Kalam

Bagaimana Status Keimanan Para Pelaku Zina? Begini Jawabannya Di Kalangan Ulama-Ulama Kalam

Harakah.idPelaku zina adalah salah satu materi dan pembahasan yang sering dibicarakan dalam konteks perdebatan ilmu kalam. Bagaimanakah status keimanan para pelaku zina? Ini penjelasannya…

Para ulama kalam bervariasi dalam menjelaskan dan menjawab status keimanan para pelaku zina.

Zina secara umum merupakan dosa besar yang disebabkan oleh tindakan bersenggama antara lawan jenis (kaum adam dan kaum hawa) yang tidak terikat oleh pernikahan yang syah (pasangan halal) menurut syariat agama tanpa adanya unsur paksaan dan dilakukan secara sadar. Yang mana aktivitas tersebut dapat merusak kehormatan manusia. 

Persoalan dalam zina menjadi wacana perbincangan teologi kalam yang ada dengan konotasi yang lebih umum yaitu status pelaku zina. Dalam persoalan zina terdapat perbedaan pendapat dengan perspektif mutakallimin. Yang mana perbedaan tersebut sesuai dengan setiap penafsiran terhadap sumber dalam ajaran Islam. Dari paradigma setiap sekte tersebut membumbui terhadap pandangan masing-masing status perilaku zina. 

Menurut paham golongan Khawarij pelaku zina di pandang salah satu dosa besar. Orang yang melakukan aktivitas zina di anggap menjadi kafir dan keluar dari agama Islam. Karena pelaku zina di anggap keluar dari agama Islam, maka pelaku ini akan menerima siksa kekal dalam Neraka bersama-sama dengan orang kafir. Pendapat ini berlaku pada semua sekte-sekte Khawarij, kecuali sekte An-Najdah.

Pemahaman sekte Al-Najdah dalam menafsirkan kafir tidak sepaham dengan sekte-sekte Khawarij yang lainya. Kafir dalam pelaku zina ini tempatnya di neraka akan tetapi tidak kekal didalamnya. Setelah melalui penyiksaan dalam neraka mereka akan dikeluarkan dan akan ditempatkan kelak di surga. Jika mereka mengerjakan sesuatu yang haram dan tidak mengetahui bahwa hal tersebut haram, maka mereka dapat dimaafkan.

Sementara pelaku zina menurut golongan Murji’ah itu bertolak belakang pada prespektif Khawarij. Golongan Murji’ah berpendapat bahwa pelaku zina bukanlah kafir melainkah masih tetap mukmin. Akan tetapi tindakannya tersebut tetap berimplikasi di hukum dalam neraka.  Dengan kemungkinan masih terbuka Tuhan akan mengampuni dosanya sesuai dengan ukuran dosa yang pernah dibuatnya. 

Golongan Mu’tazilah dalam ajang pemikiran teologi Islam juga berkaitan dengan status pelaku perzinaan. Golongan ini merumuskan pelaku perzinahan secara lebih konseptual ketimbang golongan Khawarij dan Murji’ah. Golongan Mu’tazilah menyebut orang yang zina adalah fasik. Hal ini membedakannya dengan apa yang disampaikan oleh golongan Khawarij dan Murji’ah yang mengkafirkan pelaku zina.

Menurut golongan Mu’tazilah sebagaimana Al-Syahrastāni jelaskan, golongan ini tidak menentukan status dan label yang pasti bagi pelaku perzinahan apakah tetap mukmin atau telah kafir. Golongan ini mengatakan status pelaku zina berada di posisi tengah-tengah antara mukmin dan kafir. Jika para pelaku tersebut ini meninggal dunia dan belum bertobat maka ia akan kekal dalam neraka, meskipun siksaan yang ditimpanya lebih ringan dibanding orang kafir. 

Golongan Mu’tazilah sefrekuensi dengan Khawarij yang menganggap bahwa amal berperan dalam menentukan mukmin atau kafirnya seseorang. Meski demikian, mereka tetap berbeda dalam menetapkan status orang yang melakukan perzinaan. Khawarij menganggapnya kafir bagi orang berbuat zina. Sedangkan Mu’tazilah menempatkan status pelaku zina tidaklah kafir dan tidaklah mukmin, jadi mereka tidak mendapat siksa berat di neraka dan juga tidak dapat dimasukkan ke surga. Tempat mereka adalah di neraka yang siksaannya lebih ringan.

Bagi al-Asy’ari sebagaimana Harun Nasution (1986: 71) mengatakan bahwa orang yang berdosa besar seperti pelaku pezina itu tetap mukmin dengan keimanannya masih ada dalam diri mereka, namun karena dosa besar pezina yang diperbuatnya menjadikannya fasiq. Sekiranya tidak mungkin bahwa orang yang berdosa besar bukan mukmin dan bukan pula kafir, maka dalam dirinya akan tidak didapati kufur maupun iman. 

Dalam maqalat menjelaskan balasan orang dosa besar seperti pezina di akhirat jika tidak bertobat akan disiksa dalam neraka, dan hal tersebut tergantung pada kebijakan Tuhan yang mutlak. Jika pelaku dosa besar mendapat syafaat maka akan bebas dari siksaan neraka. Jika tak dapat syafaat maka akan masuk neraka sesuai kadar ukuran dalam perbuatanya. Sesudah penyiksaan selesai maka akan dimasukkan ke surga. 

Perlu diketahui pemahaman pelaku dosa besar al-Asy’ari juga berlaku pada golongan Maturidiah. 

REKOMENDASI

Demi 1 Hadis, Sahabat Nabi Ini Tempuh Jarak 4000 Km untuk Pastikan Hafalannya

Harakah.id – Kisah seorang sahabat yang rela menempuh jarak Madinah-Mesir hanya untuk mencocokkan satu hadis yang dihafalnya. Tidak...

Cara dan Waktu Puasa Syawal 6 Hari Harus Urut atau Boleh Terpisah-pisah?

Harakah.id – Cara dan waktu puasa Syawal 6 hari boleh dilakukan secara berturut-turut di waktu awal bulan, maupun secara terpisah-pisah di...

Dahulukan yang Mana? Ganti Utang Puasa Wajib Atau Berpuasa Syawal?

Harakah.id - Ganti utang puasa wajib atau berpuasa syawal? Mana yang harus dikerjakan dulu? Mungkin kalian bertanya-tanya. Dan simak artikel berikut...

4 Tujuan Puasa Yang Wajib Diketahui, Agar Ibadah Puasa Semakin Bermakna

Harakah.id - Puasa dalam Islam memiliki tujuannya sendiri. Berdasarkan petunjuk al-Quran, hadis, dan telaah para ulama, kita temukan sedikitnya empat tujuan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...