Beranda Sejarah Begini Cara Buang Hajat pada Zaman Nabi Muhammad SAW

Begini Cara Buang Hajat pada Zaman Nabi Muhammad SAW

Harakah.idMuncul pertanyaan, bagaimana cara buang hajat orang-orang pada zaman Nabi Muhammad SAW? Apakah sudah dikenal teknologi WC? Inilah cara buang hajat pada zaman Nabi Muhammad SAW.

Manusia diciptakan dengan alat pemroses makanan alami. Setelah pemrosesan makanan dalam tubuh, sisa makanan akan dibuang keluar. Di sini, tubuh manusia secara rutin mengeluarkan kotoran atau feses. Dalam setiap kebudayaan, terdapat kebiasaan dan teknologi yang dikembangkan untuk membantu agar proses pembuangan kotoran ini berjalan tanpa ada dampak buruk setelahnya.

Salah satu yang menjadi perhatian di setiap kebudayaan adalah soal kebersihan. Bagaimana agar setelah proses buang kotoran, seseorang atau komunitas di sekitarnya tidak terganggu. Cara paling sederhana adalah buang kotoran di sungai, di kebun yang jauh dari pemukiman, atau dengan cara menggali tanah lalu ditanam setelah selesai.

Kemudian muncul budaya toilet. Dimana masyarakat membuat sebuah bangunan, tertutup atau terbuka, untuk tempat buang kotoran. Ada bangunan yang bersifat publik, ada juga yang bersifat pribadi. Di sinilah mulai dikenal kamar mandi/WC umum dan kamar mandi/WC rumah.

Muncul pertanyaan, bagaimana cara buang hajat orang-orang pada zaman Nabi Muhammad SAW? Apakah sudah dikenal teknologi WC?

Dalam beberapa hadis disebutkan informasi yang mengindikasikan adanya dua model cara orang buang kotoran pada zaman Nabi Muhammad SAW. Pertama, buang kotoran dengan cara ke luar rumah, tepatnya di tengah padang pasir.

Imam Al-BUkhari meriwayatkan,

عَنْ أَبِي مُعَاذٍ، وَاسْمُهُ عَطَاءُ بْنُ أَبِي مَيْمُونَةَ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «إِذَا خَرَجَ لِحَاجَتِهِ، أَجِيءُ أَنَا وَغُلاَمٌ، مَعَنَا إِدَاوَةٌ مِنْ مَاءٍ، يَعْنِي يَسْتَنْجِي بِهِ»

Dari Abu Mu’adz, nama aslinya Atha’ bin Abi Maimunah, yang berkata, “Saya mendengar Anas bin Malik berkata, ‘Rasulullah SAW ketika akan keluar buang hajatnya, saya bersama seorang anak seusia saya datang membawa wadah berisi air, maksudnya beliau akan menggunakannya untuk cebok.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam keterangan lain, Imam Al-Bukhari mencatat,

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ أَزْوَاجَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُنَّ يَخْرُجْنَ بِاللَّيْلِ إِذَا تَبَرَّزْنَ إِلَى المَنَاصِعِ وَهُوَ صَعِيدٌ أَفْيَحُ ” فَكَانَ عُمَرُ يَقُولُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: احْجُبْ نِسَاءَكَ، فَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْعَلُ “، فَخَرَجَتْ سَوْدَةُ بِنْتُ زَمْعَةَ، زَوْجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَيْلَةً مِنَ اللَّيَالِي عِشَاءً، وَكَانَتِ امْرَأَةً طَوِيلَةً، فَنَادَاهَا عُمَرُ: أَلاَ قَدْ عَرَفْنَاكِ يَا سَوْدَةُ، حِرْصًا عَلَى أَنْ يَنْزِلَ الحِجَابُ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ الحِجَابِ

Dari Aisyah bahwa istri-istri Nabi SAW keluar rumah pada waktu malam ketika ingin buang hajat menuju manashi’, sebuah padang pasir. Umar berkata kepada Nabi SAW, “Perintah istri-istri anda untuk berhijab.” Rasulullah SAW tidak melakukan usulan Umar. Lalu Saudah binti Zam’ah, istri Rasulullah SAW keluar rumah pada suatu malam saat waktu isya. Saudah adalah perempuan berbadan tinggi. Umar memanggilnya, “Wahai Saudah, saya mengenalimu.” Umar memanggil demikian karena ia ingin akar diturunkan perintah berhijab. Lalu Allah menurunkan ayat hijab. (HR. Al-Bukhari).

Dari dua hadis di atas dapat diperoleh gambaran bahwa pada zaman Nabi SAW, masyarakat buang hajat di luar rumah. Mereka pergi ke padang pasir untuk buang hajat. Nabi SAW juga membawa air untuk cebok.

Kedua, buang hajat di dalam rumah. Beberapa rumah agaknya memiliki toilet pribadi. Hal ini sebagaimana direkam oleh Imam Al-Bukhari sebagai berikut.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: إِنَّ نَاسًا يَقُولُونَ إِذَا قَعَدْتَ عَلَى حَاجَتِكَ فَلاَ تَسْتَقْبِلِ القِبْلَةَ وَلاَ بَيْتَ المَقْدِسِ، فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ: لَقَدْ ارْتَقَيْتُ يَوْمًا عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ لَنَا، فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «عَلَى لَبِنَتَيْنِ، مُسْتَقْبِلًا بَيْتَ المَقْدِسِ لِحَاجَتِهِ».

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Orang-orang berkata, jika engkau buang hajat, jangan menghadap kiblat dan jangan menghadap ke Baitul Maqdis.” Abdullah bin Umar berkata, “Aku pernah naik ke atap rumah (saudara perempuan) kami. Lalu aku melihat Rasulullah SAW. duduk di atas dua bata menghadap baitul Maqdis ketika buang hajat.” (HR. Al-Bukhari).

Maksud Ibnu Umar menaiki atap rumah saudara perempuannya yang bernama Hafsah binti Umar. Ia adalah puteri Umar bin Khatthab sekaligus istri Nabi Muhammad SAW. Ibnu Umar mengintip dari atap rumah saudarinya karena penasaran bagaimana cara Rasulullah SAW buang hajat. Dia melihatnya.

Hadis ini menggambarkan bahwa sebagian rumah pada zaman Nabi SAW sudah memiliki toilet di dalam rumah. Digambarkan, toilet di dalam rumah Hafsah adalah berbentuk dua batu bata yang disejajarkan untuk pijakan kaki.

Demikian penjelasan tentang cara buang hajat pada zaman Nabi Muhammad SAW.

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...