Begini Penjelasan Hadis yang Menyebut Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpin

0
125

Harakah.idMenurut Abu Bakrah, sebagaimana diungkapkan Mernissi, hadis itu diucapkan Rasulullah saat beliau mendengar bahwa yang menggantikan Kaisar Persia adalah putrinya.

Islam tidak membedakan penghormatan terhadap laki-laki dan perempuan. Sebelum Islam datang kaum perempuan berada dalam posisi lemah. Pada masa jahiliyah, perempuan dapat diperjualbelikan serta tidak memiliki hak mendapat warisan. Bahkan pada masa jahiliyah, terdapat kebiasaan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Setelah Islam datang, kaum perempuan diangkat derajatnya dan kebiasaan itu dihilangkan.

Salah satu sabda Nabi SAW yang menunjukkan penghormatan kepada perempuan adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمَّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أَبَاكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ الْأَدْنَى فَالْأَدْنَى

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang (yang layak) aku berbakti kepadanya?’ beliau bersabda: ‘Ibumu.’ Abu Hurairah bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ beliau menjawab: ‘Ayahmu.’ Dia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa?’ beliau menjawab: ‘Orang yang ada di bawahnya dan seterusnya.’” (HR. Ibnu Majah)

Namun terdapat juga hadis Nabi yang dianggap mengandung diskriminasi terhadap perempuan oleh sebagian pihak. Seperti hadis berikut:

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ : لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَمَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ، فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ. قَالَ : لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ : ‘ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ، وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً ‘.

Dari Abu Bakrah, dia berkata, “Sungguh Allah telah memberikan manfaat kepadaku dengan suatu kalimat yang pernah aku dengar dari Rasulullah, yaitu pada waktu perang Jamal tatkala aku hampir bergabung dengan para penunggang unta, lalu aku ingin berperang bersama mereka. Dia berkata, Tatkala sampai kepada Rasulullah SAW bahwa penduduk Persia telah dipimpin oleh seorang anak perempuan putri raja Kisra, beliau bersabda, ‘Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita.’(HR. Bukhari)

Menurut para pensyarah hadis, seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqalani yang terkenal dengan kitab beliau Fath al-Bari, mengatakan bahwa hadis tersebut berkaitan dengan kerajaan Persia waktu terjadi perebutan kekuasaan oleh anak rajanya. Namun, tidak lama memerintah ia pun meninggal dan digantikan oleh anak perempuannya. Maka tidak lama kerajaan itu pun hancur.

Tentang masalah larangan perempuan menjadi pemimpin, menurut beliau, itu pendapat jumhur ulama. Imam At-Thabari dan Abu Hanifah tidak sependapat dengan hal itu.

Sementara itu, Feminis Muslim Indonesia, yang diwakili oleh Siti Musdah Mulia, mengatakan hadis ini terdapat banyak kejanggalan sebagaimana yang ia kutip dari Fatimah Mernissi. Yaitu, perawi sahabatnya hanya satu orang, diriwayatkan 25 tahun setelah Rasulullah wafat, pada masa perselisihan antara Aisyah ra. dan Ali ra.

Menurut Musdah Mulia, tidak ada larangan perempuan menjadi pemimpin. Karena, yang dibutuhkan dari seorang pemimpin adalah bersikap adil, memiliki ilmu yang memungkinkan untuk melakukan ijtihad, sehat jasmani, tidak cacat tubuh, mampu mengatur, dan gagah berani. (Usamah, 2013, p. 156)

Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Bakrah, seorang sahabat Rasulullah. Menurut Abu Bakrah, sebagaimana diungkapkan Mernissi, hadis itu diucapkan Rasulullah saat beliau mendengar bahwa yang menggantikan Kaisar Persia adalah putrinya. Hal ini terjadi setelah Heraklitus dari Romawi mengalahkan Persia dalam suatu peperangan. Kaisar Persia meninggal dunia dan terjadilah krisis kepemimpinan dalam kerajaan Persia. Pada saat itu banyak pihak yang mengklaim berhak atas tahta Sasanid, termasuk di antaranya perempuan. Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpin.

Yang menjadi masalah, menurut Mernissi adalah, mengapa Abu Bakrah baru mengatakan hadis itu ketika diminta dukungannya oleh ‘Aisyah setelah ia dikalahkan Ali bin Abi Thalib dalam perang Jamal. Padahal, peristiwa itu terjadi dua puluh lima tahun setelah Rasulullah wafat dan mengapa bukan jauh-jauh hari sebelumya sebagaimana hadis-hadis yang lain? Mengapa hanya dia sendiri yang meriwayatkan hadis tersebut?

Mernissi melakukan kritik sanad dengan mengatakan, bahwa Abu Bakrah adalah seorang mantan budak. Dalam perbudakan, dia tidak memiliki apa-apa, harta, saudara bahkan harga diri. Dalam Islam, ia mendapatkan segalanya, seperti kemerdekaan, kehidupan yang layak, dan saudara sesama muslim yang amat banyak jumlahnya. Pada saat terjadi perang Jamal, Abu Bakrah adalah pemuka kota Basrah, tempat ‘Aisyah menanamkan pengaruhnya serta menggalang kekuatan untuk melawan Ali. (Darussamineislaman, 2010, pp. 5-6)

Berdasarkan asbabul wurudnya, hadis tersebut disabdakan Rasulullah pada saat kekaisaran Persia digantikan oleh putrinya. Hadis tersebut berkenaan dengan kekuasaan tertinggi dalam kerajaan. Dan sudah dijelaskan sebelumnya bahwa hadis tersebut sifatnya khusus, yaitu untuk anak perempuan kisra raja persia ketika menggantikannya ayahnya yang meninggal. Jadi jabatan politik seperti menteri dan sebagianya masuk ke dalam maskut anha’ (tidak ada ayat al Qur’an maupun hadis yang menjelaskannya). Dalam hal ini kaidah yang berlaku adalah ‘Asal hukum segala sesuatu adalah mubah, sampai ada dalil yang melarangnya’.. (Buti, p. 77)

Jadi dapat disimpulkan, segala jabatan politik bagi perempuan, kecuali kepala Negara, hukumnya mubah (boleh). Karna tidak ditemukan dalilnya, dengan syarat ia memiliki keahlian di bidang tersebut, serta kesesuaian dengan syariat Islam, sehingga dapat mengemban beban pekerjaan dan amanahnya dengan baik.

Artikel “Begini Penjelasan Hadis yang Menyebut Perempuan Tidak Boleh Menjadi Pemimpinadalah kiriman dari  Fauziatun Nabila, Mahasiswi Prodi Ilmu Hadis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta