Begini Tuntunan Rasulullah Agar Kita Tidak Menjadi Korban Hoaks

0
57

Harakah.idDalam mengantisipasi penyebaran berbagai berita hoax, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk tidak membiasakan menyebarkan setiap informasi atau berita yang didengarnya.

Tuntunan Rasulullah Agar Kita Tidak Menjadi Korban Hoaks. Penggunaan media sosial memiliki efek positif dan negatif. Efek positif dari media sosial adalah memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan banyak orang di sekitar kita dan kita memiliki akses yang mudah ke banyak informasi. Tetapi dampak negatifnya, semua informasi palsu dapat dengan mudah menyebar, dapat menempatkan orang lain pada risiko penipuan. Berita palsu adalah berita yang dibuat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Memberikan wawasan kepada masyarakat dalam menggunakan media sosial agar tidak terjadi pelanggaran terhadap ajaran agama maupun peraturan perundang-undangan saat menggunakan  media sosial. Serta sebagai solusi dalam menghadapi dan meminimalisir berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran yang terjadi di masyarakat di media sosial, baik pelanggar berupa intimidasi, provokasi, penipuan, pemalsuan dan lain sebagainya, yang bersumber dari berita hoax.

Hindari Sikap Gegabah Membagikan Informasi

Dalam mengantisipasi penyebaran berbagai berita hoax, Islam mengajarkan kepada pemeluknya untuk tidak membiasakan menyebarkan setiap informasi atau berita yang didengarnya. Karena ini merupakan langkah awal yang dapat mempermudah penyebaran berita hoaks. Rasulullah telah memperingatkan hal ini dalam sabdanya:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Dari  Abu  Huraiah  radhiallahu  ‘anhu,  ia  berkata:  telah bersabda  Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi  wasalam:  “Cukup seseorang  telah  berbohong  dengan  menceritakan  setiap  apa yang didengar” (HR. Muslim)

Dalam lafazh yang lain diriwayatkan oleh Abu Daud:

كَفَى بِالْمَرْء كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Dari Abu  Huraiah  radhiallahu  ‘anhu,  ia  berkata:  telah bersabda  Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi  wasalam:  “Cukup seseorang  telah  berdusta  dengan  menceritakan  setiap  apa  yang didengar” (HR. Abu Dawud)

Ibnul  Jauzy menjelaskan untuk hal ini ada dua penafsiran: “Pertama maksudnya adalah dia tahu kalua berita itu bohong namunia tidak menjelaskannya, maka sudah termasuk bagian orang  yang berbohong. Kedua maksudnya seseorang sudah dikatakann berbohong karena tidak setiap berita yang didengar dapat dipercaya (Kasyfu Musykil Min Hadits Shahihain, jilid 1, hlm. 340). Karena orang yang menceritakan setiap apa yang ia dengar tanpa membedakan sesuatu yang masuk akal atau tidak? Siapa yang pantas mendengar atau yang tidak? Maka ia sudah dianggap berdusta” (Kasyfu Musykil, jilid 3, hl. 551).

Sikap menyebarkan segala sesuatu yang didengar berpotensi salah dalam memberikan informasi, kesalahan dalam memberikan informasi adalah hoax, dan hoax adalah perbuatan dosa. Oleh karena itu, setiap berita yang ingin Anda bagikan atau sebarkan dapat dipastikan benar-benar aman dari unsur kebohongan atau kesalahan.

Caranya jangan terburu-buru dalam menyebarkannya, perlu ditunda dulu, diadakan cek dan cek ulang, dan klarifikasi. Setelah itu bukan berarti harus disebarluaskan, tetapi perlu mempertimbangkan dampak dan akibat sosial atau dampak yang akan ditimbulkan oleh informasi tersebut. Jika ada indikasi pelecehan, penghinaan, provokasi dan ancaman yang dapat merugikan pihak tertentu, atau akan memicu kericuhan dan kegaduhan di masyarakat, maka informasi tersebut harus dicegah penyebarannya. Kecuali ada pelanggaran hukum pidana atau perdata, informasi tersebut disampaikan kepada pihak yang berwenang.

Imam Nawawi menjelaskan: “Larangan menyebarkan setiap berita yang didengar, karena yang  didengar itu bisa benar, bisa  bohong, maka jika ia menceritakan setiap yang didengar berarti ia telah menyebarkan berita yang tidak valid” (Syarah Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 75).

Meskipun hadits ini secara tekstual berkaitan dengan bahasa lisan, namun secara kontekstual termasuk bahasa tulisan. Larangan ini juga bersifat umum dalam hal media yang digunakan dalam penyebaran informasi, baik media cetak, media elektronik maupun media sosial.

Saring Sebelum “Sharing”

Menjamurnya hoaks disebabkan oleh kurangnya ketelitian dalam mengenali keabsahan sumber berita, oleh karena itu Rasulullah sallallahu ‘alayhi wasallam telah mengingatkan umatnya sejak lama untuk tidak mudah percaya dengan sumber berita, apalagi jika berita tersebut tidak pernah ada. telah didengar sebelumnya. Seperti dalam hadits berikut ini: Seburuk-buruk   tunggangan   seseorang   adalah   ungkapan: “Katanya” (HR. Abu Dawud).

Dalam  hadits  ini, dilarang  menyampaikan  sebuah  perkataan yang   didengar   dari   orang   lain   dan   belum   mengetahui   tentang kebenarannya,  atau  menyadarkan  sebuah  ungkapan  kepada  sumber yang tidak dikenal, dengan mengatakan: “katanya (menurut sebuah sumber)”,  dimana  sumbernya  tidak  pasti.  Hanya  sekedar  dalam bentuk  menyampaikan  sebuah  ucapan,  maka  hal  seperti  ini  dicela dalam agama Islam (Mirqatul Mafatih, jilid 7, hlm. 3007)

Dalam hadits yang lain:

إِنَّ اللهَ يَكْرَهُ لَكُمْ: قِيْلَ وَقَالَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

Sesungguhnya Allah membenci untuk kalian qiila wa qoola (katanya katanya), banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.”(HR. Al-Bukhari).

Yang  dimaksud  denga  “Qila wa Qola” adalah kabar-kabar burung yang tidak jelas sumber  dan kebenarannya. Maka seorang muslim sangat dicela menyebarkan kabar-kabar burung yang  tidak jelas sumbernya dan tidak diketahui kebenarannya. Kadangkala setan menjelma menyerupai seorang manusia dalam memperdaya melakukan hoax sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mas’ud dalam ungkapannya:

Berkata Abdullah bin Mas’ud: “Sesungguhnya Setan menjelma seperti seseorang maka ia datang kepada sekelompok kaum lalu ia menceritakan kepada mereka sebuah peristiwa  dari  kebohongan,  lalu  mereka  saling  berpisah,  maka seseorang diantara mereka berkata: aku mendengar dari seseorang -aku kenal wajah namun tidak tahu namanya-menceritakan sebuah peristiwa” (HR. Muslim).

Ketelitian dalam menerima berita dan tidak mudahnya mempercayai siapapun yang membawa berita atau opini yang tersebar di masyarakat telah dicontohkan oleh salah satu sahabat mulia Nabi yaitu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘ahuma. Sebagaimana diriwayatkan oleh salah seorang muridnya Mujahid:

Dari  Mujahid  ia  berkata:  Busyair  Al  ‘adawy  datang  kepada Ibnu   Abbas   maka   ia   meriwayatkan   beberapa   hadits   dan berkata:  Rasululllah  shalallahu  ‘alaihi  wasalam  bersabda, Rasululllah  shalallahu  ‘alaihi wasalam  bersabda. Maka  Ibnu Abbas  tidak  medengarkan  pembicaraannya  dan  tidak  pula menoleh  kepadanya.  Lalu  ia  bertanya  kepada  Ibnu  Abbas: wahai   Ibnu   Abbas   kenapa   engkau   aku   lihat   tidak   mau mendengarkan  pembicaraanku?  Pada  hal  aku  menyampaikan hadits  Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi  wasalam?  Ibnu  Abbas menjawab:  dulu  kami  ketika  mendengar  seseorang  berkata telah  bersabda  Rasulullah  shalallahu  ‘alaihi  wasalam,  kami memalingkan  pandangan  kami  kepadanya  dan  mengarahkan telinga kami untuk mendengarkannya, namun setelah manusia melakukan  kebohongan  dan  perkara  yang  hina,  kami  tidak mengambil dari manusia kecuali apa yang kami kenal” (HR. Muslim).

Membuat atau menyebarkan berita hoax merupakan perbuatan yang sangat dilarang dan diharamkan dalam hadits-hadits profetik yang merupakan sumber hukum kedua dalam hukum Islam setelah Al-Qur’an yang mulia. Pelakunya berhak untuk dihukum di dunia ini secara pidana atau mendapat hukuman yang berat di akhirat, sesuai dengan akibat dan judul kebohongan yang dilakukannya.

Memberikan wawasan kepada masyarakat dalam menggunakan media sosial agar tidak terjadi pelanggaran terhadap ajaran agama maupun peraturan perundang-undangan saat berintegrasi di media sosial. Serta sebagai solusi dalam menghadapi dan meminimalisir berbagai bentuk penyimpangan dan pelanggaran yang terjadi di masyarakat di media sosial, baik pelanggar berupa intimidasi, provokasi, penipuan, pemalsuan dan lain sebagainya, yang bersumber dari berita hoax.

Hukum menyebarkan kabar-berita yang diduga hoaks

Agama Islam yang mulia sangat sempurna ajarannya, dengan kesempurnaan itu Islam dapat menjawab berbagai permasalahan kontemporer yang ada di masyarakat. Bahkan sebelum masalah itu ada di masyarakat Islam, langkah-langkah pencegahan sudah dilakukan, salah satu contoh masalah hoaks yang merajalela di masyarakat milenial. Dahulu Nabi Muhammad sallallahu ‘alayhi wa sallam telah mengingatkan umatnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan suatu berita, apalagi jika berita tersebut berkaitan dengan ajaran agama yang diriwayatkan darinya sendiri. Dia menekankan dalam kata-katanya: Barangsiapa menceritakan sebuah berita dariku yang terindikasi bahwa berita itu adalah bohong   maka orang tersebut telah termasuk salah seorang dari pembohong” (HR. Muslim).

Dalam lafazh yang lain: Dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu’anhu, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam telah bersabda:   “Barangsiapa menceritakan sebuah berita dariku dan berita itu dicurigai adalah bohong maka orang tersebut telah termasuk salah seorang dari pembohong” (HR. Ibnu Majah).

Dalam hadits ini sangat tegas menjelaskan tentang larangan menyebarkan sebuah berita  yang  belum pasti kebenarannya. Secara spesifik  hadits ini lebih ditujukan kepada para mubaligh   dalam menyampaikan masalah agama. Akhir-akhir ini sering terdapat dalam wejangan para mubaligh cerita dan kisah yang hoax. Atau kadangkala tidak  memastikan  kevalidan  sebuah  hadits  yang  dijadikan  sebagai landasan dalam berhujjah, akhirnya menyampaikan hadits yang hoaks (palsu). Perbuatan tersebut dinilai oleh para ulama sebagai perbuatan dusta atas nama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam. (Ikmalul Mu’lim Bi Fawaid Shahih Muslim, jilid 1, hlm. 115)

Menyebarkan berita yang tidak pasti kebenarannya telah dipastikan sebagai pembohong oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ini menjadi peringatan bagi setiap pengguna media, baik media cetak, elektronik maupun media sosial, untuk berhati-hati dalam membagikan berita.

Berkata Asyraf: “Kenapa disebut pembohong? karena ia telah ikut membantu dan berkerjasama dalam    menyebarkannya, ia bagaikan seseorang membantu pelaku kriminal dalam melakukan aksinya” (Mirqatul Mafatih Syarah Misykat al-Masabih, jilid 1, hlm. 282)

Kesimpulannya, membuat atau menyebarkan berita hoax merupakan perbuatan yang sangat dilarang dan diharamkan dalam hadits-hadits profetik yang merupakan sumber hukum kedua dalam hukum Islam setelah Al-Qur’an yang mulia. Pelakunya berhak untuk dihukum di dunia ini secara pidana atau mendapat hukuman yang berat di akhirat, sesuai dengan akibat dan judul kebohongan yang dilakukannya. Demikian ulasan kami tentang Tuntunan Rasulullah Agar Kita Tidak Menjadi Korban Hoaks. Semoga bermanfaat.

Artikel berjudul “Begini Tuntunan Rasulullah Agar Kita Tidak Menjadi Korban Hoaksadalah kiriman dari Nur Muhammad al Arroby, Mahasiswa Prodi Ilmu Hadis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta