Beranda Keislaman Ibadah Bekerja Di Luar Negeri, Suami Tetap Wajib Memberikan Nafkah Lahir dan Batin...

Bekerja Di Luar Negeri, Suami Tetap Wajib Memberikan Nafkah Lahir dan Batin Kepada Istrinya. Bagaimana Caranya?

Harakah.id Nafkah lahir dan batin wajib diberikan suami kepada istrinya. Dalam kondisi apapun, keduanya tetap harus ditunaikan, Termasuk ketika suami ternyata memiliki pekerjaan yang mengharuskan dirinya jauh dari istri

Perbincangan mengenai nafkah atau kewajiban yang bersifat materi, dalam berbagai kajian fiqh biasanya dibahas dalam fiqh keluarga (fiqh munakahat).

Dalam Islam nafkah menjadi tanggung jawab suami untuk memenuhi kebutuhan dasar (basic need) keluarga. Pemenuhan terhadap nafkah merupakan bagian dari upaya mempertahankan keutuhan dan eksistensi sebuah keluarga. Kewajiban nafkah atas suami semenjak akad perkawinan dilakukan.

Sedangkan pengertian dari nafkah itu sendiri ialah kewajiban seseorang untuk mengeluarkan nafkah kepada siapa yang berhak menerimanya, seperti suami berhak untuk memberi nafkah kepada istrinya, anak-anaknya bahkan nafkah yang utama diberi itu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pokok kehidupan, yakni makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kewajiban memberi nafkah tersebut diberikan menurut kesanggupannya, hal ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan agar selaras dengan keadaan dan standar kehidupan mereka. Begitu pula terhadap kaum kerabat yang miskin, dan anak-anak terlantar.

Dipahami bahwa nafkah secara garis besar terbagi menjadi dua yakni nafkah lahir dan batin. Nafkah lahir atau dhahir adalah nakfah berupa makanan, pakaian dan tempat tinggal, dan hal tersebut wajib diberikan oleh suami kepada istrinya dan kadar dari nafkah dhahir tersebut sesuai dengan keadaan suami. Yang kedua adalah nafkah batin yaitu menggauli istri dengan berhubungan intim.

Seorang suami dalam mencari nafkah untuk keluarga bermacam-macam cara, adakalanya bekerja di dalam negeri bahkan ada pula yang bekerja di luar negeri, problematika yang terjadi di masyarakat khususnya bagi seseorang yang taraf ekonomi rendah biasanya memilih bekerja di luar nageri, dengan dalih minimnya lapangan kerja di indonesia, mereka yang bekerja di luar negeri kebanyakan meninggal istri dan anak-anaknya di rumah, hal ini menjadi perbincangan masyarakat khususnya dalam kaitan nafkah batin kepada istri.

Kewajiban Nafkah Lahir dan Batin bagi Suami Untuk Istri

Kita ketahui bersama bahwa pernikahan sama halnya dengan beberapa akad yang lain menimbulkan sebuah hak-hak yang wajib terpenuhi dari kedua belah pihak, landasan memenuhi hak-hak istri sebagaimana dalam al-qur’an surat al-baqarah ayat juz 2 ayat 228:

ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف

Artinya: “Bagi mereka (istri) sebagaimana mereka memiliki kewajiban dengan cara yang benar”.

Maksud dari ayat di atas ialah istri memiliki hak-hak yang wajib dipenuhi oleh suami, sebagaimana istri memiliki kewajiban dalam memenuhi hak-hak suami (Imam Fakhruddin Ar-Rozi, Mafatihul Ghaib, j 6 h. 440).

Syeikh Wahbah Zuhaili memaparkan dalam kitabnya bahwa hak-hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami dibagi menjadi dua: bersifat materi dan non materi, yang bersifat materi berupa mahar dan nafkah, sedangkan yang bersifat non materi seperti memperlakuan serta menggauli istri secara baik dan benar (Wahbah Zuhaili, Fiqh Al-Islam Wa Adillatuhu, j. 8 h. 317).

Batasan nafkah materi yang harus diberikan suami kepada istri, berupa makanan, lauk pauk, pembantu bagi istri yang biasa diberikan pembantu, tempat tinggal yang layak (Ibnu Mulaqqon, Ad-tadzkiroh fi al-fiqh as-syafi’i, h. 116) dan kadar dari nafkah tersebut sesuai keadaan suami.

Landasan hadis diwajibkannya nafkah bagi suami kepada istri hadis yang diriwayatkan oleh imam turmudzi dalam kitab sunan at-turmudzi j. 2, h. 458:

أَلاَ إِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا، وَلِنِسَائِكُمْ عَلَيْكُمْ حَقًّا، فَأَمَّا حَقُّكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ فَلاَ يُوطِئْنَ فُرُشَكُمْ مَنْ تَكْرَهُونَ، وَلاَ يَأْذَنَّ فِي بُيُوتِكُمْ لِمَنْ تَكْرَهُونَ، أَلاَ وَحَقُّهُنَّ عَلَيْكُمْ أَنْ تُحْسِنُوا إِلَيْهِنَّ فِي كِسْوَتِهِنَّ وَطَعَامِهِنَّ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. 

“ingatlah kalian mempunyai hak kepada istri kalian, dan istri kalian mempunyai hak kepada kalian, hak kalian kepada istri kalian ialah tidak mengotori tempat tidur kalian dengan orang yang tidak kalian suka, dan tidak memberi izin kepada orang lain untuk memasuki rumah kalian yang tidak kalian sukai. Ingatlah hak istri kalian kepada kalian ialah perbaguslah untuk mereka dalam memberi pakaian dan makanan, dan ini hadist shohih”.

Kewajiban Nafkah Batin Bagi Suami Kepada Istri

Sebagaimana keterangan yang telah berlalu, bahwa nafkah batin juga merupakan hak istri yang wajib dipenuhi oleh suami, dalam hal ini ulama’ madzhab berbeda pendapat.

Menurut madzhab syafi’iyah tidak wajib memenuhi nafkah batin (menggauli istrinya) kecuali hanya satu kali, karena suami memiliki hak dalam hal itu, maka boleh-boleh saja bagi suami menginap diluar rumah dan tidak menggauli istrinya, namun hal ini di perbolehkan tatkala ada udzur untuk tidak menggauli istri (Wahbah Zuhaili, Al-fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu j. 9 h. 2599), seperti: kerja di luar negeri dsb.

حكم الاستمتاع أو هل الوطء واجب؟

وقال الشافعية (3): ولا يجب عليه الاستمتاع إلا مرة؛ لأنه حق له، فجاز له تركه كسكنى الدار المستأجرة، ولأن الداعي إلى الاستمتاع الشهوة والمحبة، فلا يمكن إيجابه، والمستحب ألا يعطلها، لقول رسول الله صلّى الله عليه وسلم لعبد الله بن عمرو بن العاص: «أتصوم النهار؟ قلت: نعم، قال: وتقوم الليل؟ قلت: نعم، قال: لكني أصوم وأفطر، وأصلي وأنام، وأمسّ النساء، فمن رغب عن سنتي فليس مني» ولأنه إذا عطلها لم يأمن الفساد ووقع الشقاق.

“Hukum menggauli istri apakah wajib?

Pendapat syafi’iyah: tidak wajib menggauli istri kecuali hanya satu kali, karena itu merupakan hak bagi seorang suami, maka boleh bagi suami untuk tidak menggauli istrinya dengan cara bertempat tinggal di rumah sewaan, dan karena yang mendorong kepada hubungan intim syahwat dan kasih sayang, maka tidak mungkin untuk selalu melayaninya, namun dianjurkan untuk tidak mendiami seorang istri (tidak menggaulinya), berlandaskan hadist rasulullah SAW, beliau tatkala bertanya kepada abdullah bin umar bin ash: “apakah kamu puasa?, dia menjawab: iya, rasul bertanya lagi: apakah kamu bangun tengah malam (solat tahajjud)?, dia menjawab: iya, lalu rasulullah bersabda: saya juga puasa dan terkadang tidak puasa, dan saya sholat dan terkadang juga tidur dan menyentuh istri (menggaulinya), maka barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku dia bukan termasuk golonganku” dan tatkala suami mendiami istrinya (tidak menggauli) akan menyebabkan kepada mafsadah dan perselisihan”.

Solusi yang bisa penulis sajikan ialah bagi suami yang hendak kerja di luar kota atau bahkan luar negeri, hendaknya membawa anak dan istri guna bisa memenuhi hak-hak mereka.

Maka dari itu syariat menganjurkan dalam urusan nafkah batin selayaknya suami tidak menggauli istrinya paling lama 4 malam karena batas dari istri untuk menahan kebutuhan tersebut ialah selama 3 malam (Abu Bakar Syatho, Ianatut Thalibin, j. 3 h. 338), ketika istri didiami terlalu lama, maka akan timbul sebuah kemafsadatan dan perselisihan, bahkan tak jarang para kaum perempuan meminta cerai kepada suaminya dikarenakan suami tidak bisa memenuhi nafkah batin.

Namun tatkala istri memang ridha untuk tidak digauli oleh suami, maka tidak apa-apa karena pada dasarnya hukum bagi suami menggauli istrinya tidak wajib sebagaimana pendapat madzhab syafi’iyah berbeda dengan jumhur ‘ulama (hanafi, maliki dan hambali).

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...