Beranda Khazanah Belajar Bahasa Arab; Angka 6 Dalam Bahasa Arab Dikenal Dengan Dua Sebutan,...

Belajar Bahasa Arab; Angka 6 Dalam Bahasa Arab Dikenal Dengan Dua Sebutan, “Sittatun” dan “Sadisun”. Apa Bedanya?

Harakah.idAngka 6 dalam Bahasa Arab memang dikenal dengan dua sebutan, yaitu “sittatun” dan “sadisun”. Menariknya, ada penjelasan mengenai dua penyebutan tersebut.

Apa perbedaan antara kata سِتٌّ dengan سَادِسٌ? Apakah ada hubungan antara dua kata tersebut? Inilah misteri di balik angka 6 dalam Bahasa Arab!

Di dalam bahasa Arab, kita akan menemukan kosakata yang berkaitan dengan nomor, angka, atau bilangan. Sama seperti di dalam Bahasa Indonesia, di dalam Bahasa Arab angka atau bilangan, yang biasa disebut dengan ‘adad (العَدَد), dibagi menjadi dua macam; yaitu ‘Adad al-Ashli (العَدَد الأَصْلِي) dan ‘Adad at-Tartibi (العَدَد التَّرْتِيْبِي).

Sederhananya, ‘adad al-ashli adalah angka atau bilangan dasar, seperti satu (1), dua (2), tiga (3), dan seterusnya. Berikut di antara contoh dari bilangan dasar dalam bahasa Arab:

1 = وَاحِدٌ (satu)

2 = اِثْنَانِ (dua)

3 = ثَلَاثٌ (tiga)

4 = أَرْبَعٌ (empat)

5 = خَمْسٌ(lima)

6 = سِتٌّ (enam)

7 = سَبْعٌ (tujuh)

8 = ثمَاَنٌ (delapan)

9 = تِسْعٌ (sembilan)

10 =عَشرٌ (sepuluh) dan seterusnya.

Adapun yang dimaksud dengan ‘adad at-tartibi adalah angka atau bilangan berjenjang, seperti kesatu (ke-1), kedua (ke-2), ketiga (ke-3), keempat (ke-4), dan seterusnya. Berikut di antara contoh dari bilangan dasar dalam bahasa Arab:

Ke-1 = الأَوَّلُ (kesatu)

Ke-2 = الثَّانِي (kedua)

Ke-3 = الثَّالِثُ (ketiga)

Ke-4 = الرَّابِعُ (keempat)

Ke-5 = الخَامِسُ (kelima)

Ke-6 = السَّادِسُ (keenam)

Ke-7 = السَّابِعُ (ketujuh)

Ke-8 = الثَّامِنُ (kedelapan)

Ke-9 = التَّاسِعُ (kesembilan)

Ke-10 =العَاشِرُ (kesepuluh) dan seterusnya.

Dalam bahasa Arab, penulisan ‘adad at-tartibi mengikuti pola “فاعل” (kecuali pada angka ke-1). سِتٌّ dan سَادِسٌ bila kita perhatikan dari contoh yang sudah disajikan, antara bilangan ‘adad al-ashli (bilangan dasar) dengan ‘adad at-tartibi (bilangan berjenjang) dalam bahasa Arab, maka akan kita saksikan perbedaan penulisan di antara keduanya. Meski terjadi perbedaan dalam penulisan, keduanya masih sama-sama mempunyai hubungan atau kandungan huruf-huruf dasar yang sama, seperti pada kata “خَمْسٌ” dan “خَامِسٌ” sama-sama mengandung huruf-huruf dasar berupa huruf الخاء, الميم, dan السين. Begitu juga pada kata “سَبْعٌ” dan “سَابِعٌ” sama-sama mengandung huruf-huruf dasar berupa huruf السين, الباء, dan العين.

Namun, apabila kita perhatikan, ada sedikit keunikan yang terjadi antara angka enam; سِتٌّ dengan angka keenam; سَادِسٌ. Ada salah satu dari dua buah huruf yang tidak dimiliki oleh kedua angka tersebut, yaitu huruf “ت” yang tidak terdapat di dalam kata سَادِسٌ dan huruf “د” yang tidak dimiliki oleh kata سِتٌّ. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Sebenarnya, kata سِتٌّ berasal dari kata سِدْسٌ. Hal ini diketahui dari bentuk jamaknya (bentuk plural) berupa kata أَسْدَاس dan bentuk tashgirnya (bentuk kecil) berupa kata سُدَيْس. Selanjutnya huruf “س” yang terletak di akhir, diganti dengan huruf “ت”. Huruf “ت” dipilih karena pelafalannya atau sumber pengucapannya berdekatan dengan huruf “س”.

Selain itu, keduanya juga sama-sama huruf hams (huruf hams sendiri merupakan huruf-huruf yang ketika diucapkan, udara nafas dapat mengalir karena lemahnya penekanan terhadap makhrajnya; tempat keluar huruf). Akhirnya ia menjadi “ سِدْتٌ”. Selanjutnya, karena sama-sama memiliki keserupaan pelafalan antara huruf “د” dan “ت” (sama-sama diucapkan pada ujung lidah dan mendekati gigi bagian atas), maka pelafalan huruf “د” diidghamkan (digabung/dilebur) menjadi satu dengan huruf “ت”, dan menjadi “سِتٌّ”. (Tentang apa itu idgham, bisa membaca Aneka Bahasa Arab, Tahukah Kamu Edisi sebelum ini).

Pertanyaan lain mungkin menyusul. Mengapa kata “سِدْسٌ” harus diubah menjadi “سِتٌّ”?

Penyebutan atau pelafalan kata “سِدْسٌ” sering digunakan. Terlebih ia merupakan angka (enam) yang pasti akan dibutuhkan dan seringkali diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, pelafalan kata سِدْسٌ dirasa sulit. Hal ini dikarenakan terdapat dua huruf “س” yang hanya dipisah dengan huruf “د” yang lemah.

Selain itu pelafalan atau tempat keluar huruf “س” dan “د” saling berdekatan, seolah-olah akan berbunyi “سِسْسٌ” (dengan tiga huruf “س”), yang selanjutnya tidak mungkin menjadi “سِسٌّ” (karena terjadi idgham/penggabungan). Hingga akhirnya dipilihlah huruf “ت”, seperti yang disebutkan prosesnya sebelumnya, untuk menengahi atau sebagai jalan keluar. Karena huruf “ت” itu berdekatan pelafalannya dengan huruf “د” dan juga sama seperti huruf “س” yang merupakan huruf hams.

Itulah penjelasan singkat di balik alasan munculnya dua model penyebutan angka 6 dalam Bahasa Arab. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...