Beranda Keislaman Tafsir Belajar Memahami Al-Qur’an di Era Kontemporer Bersama Abdullah Saeed

Belajar Memahami Al-Qur’an di Era Kontemporer Bersama Abdullah Saeed

Harakah.idPara pemikir kontemporer dalam upaya memahami Alquran tidak menerima begitu saja apa yang diungkapkan oleh teks secara literal, melainkan mencoba melihat lebih jauh apa yang ada di balik teks sehingga mufasir bisa menangkap keseluruhan ide dan spirit (ruh) yang merupakan pesan moral Alquran.

Nama Abdullah Saeed mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kaum muslim. Beliau merupakan ilmuwan muslim kontemporer yang berada di Australia, profesor Abdullah Saeed juga menjabat sebagai pengajar Studi Arab dan Islam di Universitas Melbourne, Australia.

Sebagaimana ditulis di banyak karyanya, Saeed menyebut model tafsir yang didukung lalu dikembangkan sebagai Contextualist. Saeed menyebutkan beberapa contoh tokoh yang dianggapnya masuk ke dalam kategori tersebut, misalnya Ghulam Ahmad Peryez dengan pendekatan kembali kepada prinsip-prinsip, Fazlur Rahman dengan pendekatan berbasis spirit Al-Quran, Muhammad Arkoun, dan Farid Esack (Seed, 2003 :232-236).

Para pemikir reformis Islam ini menangkap jarak antar Alquran dengan rcalitas dan menolak pendekatan tradisional dalam menafsirkannya dalam kehidupan sehari-hari yang reduksi Alquran menjadi sebuah kitab hukum (Saeed. 2006:17).

Para pemikir kontemporer dalam upaya memahami Alquran tidak menerima begitu saja apa yang diungkapkan oleh teks secara literal, melainkan mencoba melihat lebih jauh apa yang ada di balik teks sehingga mufasir bisa menangkap keseluruhan ide dan spirit (ruh) yang merupakan pesan moral Alquran yang bersifat Shahih Ii kulli zaman wa Makan. Oleh karena itu, seorang modernis seperti Abdullah Saeed berpendirian bahwa untuk mengetahui sebuah pesan moral sebuah ayat Alquran penting diketahui situasi dan kondisi historis yarg melatar belakanginya. Situasi dan kondisi historis ini bukan hanya sekedar apa yang dikenal dalam ilmu tafsir sebagai asbab al-nuzul, akan tetapi jauh lebih luas dari itu. Bagi Saeed, ayat-ayat Alquran adalah pernyataan moral, religius dan sosial Tuhan untuk merespon apa yang terjadi di dalam masyarakat.

Konsep Memahami Al-Quran menurut Abdullah Saeed

Dalam kaitannya dengan pendekatan terhadap penafsiran Al-Quran di era modern Saeed mengelompokkanya menjadi 3 macam. Tekstualis, semi tekstualis, dan kontekstualis. Pengelompokan ini dengan melihat apakah penafsirannya berdasarkan kriteria lingsuistik untuk menemukan makna teks dan apakah juga melihat konteks sosio-historis Al-Quran saat diwahyukan dan dihubungkan dengan konteks kontemporer pada saat ini.

Tekstualis

Seperti namanya mereka memahami teks Al-Quaran secara tekstual, bagi kelompok ini Al-Qur’an harus menjadi petunjuk umat Islam tanpa perlu melihat apa yang disebut dengan kebutuhan modern. Mereka memandang bahwa makna Alquran telah final dan bersifat universal dalam aplikasinya. Misalnya jika dalam Alquran disebutkan bahwa pria boleh menikahi 4 wanita, maka ini seharusnya dilaksanakan selamanya tanpa perlu memperhatikan konteks sosio-historis saat teks itu diwahyukan. Bagi mereka tidak penting mengapa Alquran membolehkan pria menikahi 4 wanita yakni pada abad ke 1 hijriyah atau 7 masehi di Hijaz.

Semi tekstualis

Kelompok ini sebenarnya mengikuti cara pandang tekstualis yakni lebih menekankan pada kajian linguistik dan mengesampingkan konteks sosio-historis. Namun mereka lebih mengemas kandungan eticho legal dengan idiom modern sebagai apologis. Biasanya mereka bergabung kedalam gerakan neo-revivalis misalnya Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood di Mesir dan Jamaati Islam benua India.

Kontekstualis

Merupakan konteks sosio-historis dari kandungan eticho legas Alquran. Mereka mengajukan usulan bahwa kita juga perlu memperhatikan kandungan eticho legal dari konteks sosial  politik, budaya, dan ekonomi saat teks tersebut diwahyukan, ditafsirkan, dan diamalkan. Jadi mereka memberikan kebebasan luas bagi sarjana muslim modern untuk menentukan apa yang dapat diubah dan tidak dapat diubah.  Mereka yang termasuk dalam kelompok kontekstualitas yakni para pemikir yang disebut Neomodernis misalnya, Fazlurrahman yang disebut sebagai pemikir muslim progresif atau liberal. Begitupun Abdullah Saeed yang termasuk dalam kategori kelompok ini. Abdullah Saeed menawarkan sebuah pendekatan baru dalam bukunya yang berjudul The Interpreting of Al-Quran. Hal ini dikarenakan dia melihat adanya suatu kebutuhan kaum muslim pada abad ke 21yang berkembang sedemikian pesat dan kompleks dengan pemahaman ayat-ayat Al-quran yang masih banyak diinterpretasikan secara literal dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana kehidupan sosio-religius pada masa awal-awal Islam. Meskipun realitanya konteks sosial masyarakat islam pada abad ke 21 sangat berbeda dengan konteks sosio-historis masyarakat muslim pada abad ke 14 yakni ketika Al-Qur’an diturunkan.

Dinyatakan oleh Abdullah Saeed bahwa perlu adanya pendekatan baru yang disebut dengan kontekstualis yang memperhatikan sosio-histori konteks dimana Alquran diturunkan pada masa awal Islam dan kebutuhan masyarakat muslim di era abad ke 21 dan masa yang akan datang. Pendekatan ini diharapkan dapat melepaskan keterbelengguan umat Islam dari legalistik literalistik Approach yang mendominasi interpretasi tafsir dan fiqh sejak periode pembentukan hukum Islam sampai era modern saat ini. Abdullah Saeed mengajukan tawaran pendekatan baru sebagai jembatan yang menghubungkan kebutuhan umat islam pada abad ke 21 dengan pengembangan ilmu-ilmu keislaman yang bersandar pada hasil reitnterpretasi terhadap sumber ajaran islam yang utama yaitu Alquran. Perkembangan kebutuhan akan reinterpretasi tersebut pada akhirnya diharapkan dapat menjawab kebutuhan umat Islam sehingga Alquran menjadi Shalih Likulli Zaman Wa Makan.

Artikel kiriman dari Shaka Wijaya, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...