Beranda Keislaman Muamalah Belajar Toleransi dari Kegiatan Bersama Antara Santri dan Pemuda GKI

Belajar Toleransi dari Kegiatan Bersama Antara Santri dan Pemuda GKI

Harakah.id Belajar Toleransi dari Kegiatan Bersama Antara Santri dan Pemuda GKI. Memupus prasangka, memupuk pemahaman dan toleransi.

Pemahaman yang salah seringkali didapat hanya dari apa kata orang, bukan berasal dari pengalaman yang dialami sendiri. Sehingga, kita seringkali bersikap intoleran, eksklusif atau bahkan ekstrem karena pemahaman yang salah. Maka dari itu, untuk menciptakan pemahaman yang baik diperlukan keterbukaan atas perbedaan yang niscaya ada, tentang pemaknaan toleransi dan keberagaman.

Apabila kita masih enggan untuk hidup berdampingan dengan perbedaan, kita akan terjebak dalam produk egosentrisme, sikap individu yang tidak mau melihat suatu hal dari perspektif yang lain. Tolok ukurnya bukan terletak pada apa yang kita anggap baik, tetapi nilai baik apa yang dapat kita ambil. Sayangnya, banyak standar yang terbentuk di masyarakat justru melanggengkan wujud egosentrisme itu sendiri.

Misalnya, agama mayoritas lebih baik dari pada yang dianut minoritas. Padahal, setiap agama pasti mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Tidak ada satupun ajaran yang memperbolehkan mencuri atau menghalalkan membunuh. Semua agama mengajarkan penganutnya untuk saling menghormati dan menebarkan cinta kasih antar sesama manusia dan alam. Pluralitas yang ada bukan dijadikan alat pemecah belah, tetapi sebuah anugerah.

Kemudian prinsip tersebut menjadi jalan untuk mengetahui hal baru yang belum pernah diketahui sebelumnya sehingga memberikan wawasan yang lebih luas dan sudut pandang yang lebih open-minded, tidak terkecuali tentang agama yang berbeda sekalipun. Berkaca dari pengalaman pribadi, perihal isu keberagaman dan toleransi ini, saya alami pertama kali pada tahun 2017 ketika belajar di salah satu pondok pesantren putri di Cirebon, Bapenpori Al-Istiqomah.

Pondok pesantren bekerjasama dengan sebuah komunitas lintas agama di Cirebon yang bernama PELITA (Pemuda Lintas Iman) mengadakan Live In bersama anak muda GKI (Gereja Kristen Indonesia) Pamitran dan para santri. Acara tersebut diadakan selama 3 hari 2 malam di mana semua para partisipan tinggal dan berkegiatan bersama di pondok pesantren. Dengan didukung penuh oleh bapak kyai dan bapak pendeta, acara Live In berjalan sangat menyenangkan.

Ada kegiatan yang diisi oleh pak ustadz dari pondok pesantren yang menyampaikan ajaran umat Islam kepada anak muda gereja. Begitupun sebaliknya, bapak pendeta menyampaikan ajaran umat kristiani kepada para santri. Senyatanya, baik ajaran umat Islam maupun umat kristiani mengajarkan nilai kebaikan yang sama, yakni nilai kebaikan secara universal dan manusiawi.

Tidak hanya tentang pemahaman yang didapat langsung dari narasumbernya, kami juga mempraktekkan secara konkret sikap toleransi antar umat beragama dengan saling menghormati ketika masing-masing dari kami menjalankan ibadah. Tidak mengganggu dan tidak menghalang-halangi untuk beribadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kami juga menikmati makan bersama di atas daun pisang, saling berbagi tempat dan berbagi makanan jangan sampai ada yang terlewat dan tidak kebagian makanan.

Sungguh indah sekali kebersamaan yang dirasa, tanpa ada sedikit pun ujaran kebencian atau gesekan karena perbedaan. Lingkungan yang damai dan toleran seperti itu dihasilkan dari proses saling mengenal dari nyatanya, bukan katanya. Sehingga menghasilkan pemahaman yang baik tentang toleransi dan keberagaman.

Selain itu, hasil pemahaman dari pengalaman yang dirasakan sendiri menjadikan kita tidak mudah menggeneralisasi suatu hal, apalagi mengenai makna perbedaan dan sikap toleransi. Karena perbedaan itu sendiri merupakan keniscayaan yang dengan sangat bijak tidak patut dinistakan. Adanya ujaran kebencian justru datang dari ketidaktahuan yang terjadi di lapangan. Apalagi sampai menyebarluaskan ujaran kebencian untuk mempengaruhi orang lain berpikiran negative bahkan sampai berpecah belah.

Kita bisa belajar dari sejarah bangsa yang mana kemerdekaan Republik Indonesia diperjuangkan oleh banyak orang dari beragam latar belakang. Semua suku, ras, kepercayaan, dan budaya bersatu padu melawan kolonialisme sehingga proklamasi dapat dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Bukan hal yang mudah untuk sampai pada titik tersebut. Namun karena gotong royong demi tujuan dan kepentingan bersama, perjuangan tersebut kebaikannya bisa kita nikmati sampai detik ini.

Tugas kita sekarang sebagai bangsa yang plural adalah menjaga dan merawat toleransi supaya menjadikan perbedaan itu indah, bukan malah menyulut amarah. Dibutuhkan lebih banyak pemikiran dan pemahaman yang menentramkan untuk menciptakan perdamaian. Dengan bersikap kritis dalam menanggapi isu yang beredar di masyarakat, dapat mengantisipasi kita terjerumus dalam pemahaman yang menyesatkan atau informasi hoax.

Begitu pula dengan menjadikan prinsip objektivitas sebagai landasan berpikir sampai menemukan suatu pemahaman yang baik. Mulailah dari diri sendiri yang kemudian memberikan pengaruh energi positif kepada yang lain untuk saling menguatkan.

Menjadi pribadi yang terbuka agar dapat menerima perbedaan dan menumbuhkan sikap toleransi sehingga dapat saling memberikan kebermanfaatan yang luas bagi kehidupan tanpa melihat latar belakangnya. Seperti halnya petuah Gus Dur, tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu.

Demikianlah cara kami belajar toleransi antara pemeluk dua agama yang berbeda. Belajar toleransi perlu dikembangkan dengan cara-cara positif lainnya. Belajar toleransi, memupus prasangka dan menumbuhkan semangat kolaboratif dalam keberagaman.

REKOMENDASI

Surah Yang Dianjurkan dan Disunnahkan Dibaca Dalam Pelaksanaan Salat Idul Fitri

Harakah.id - Dalam pelaksanaan salat idul fitri, ada surah-surah yang sunnah dan dianjurkan untuk dibaca. Surah apa saja? Simak artikel di...

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...