Benarkah Al-Quran Mengatakan Kalau Matahari Mengelilingi Bumi? Inilah Penjelasan Rumitnya

0
15911

Harakah.idSebuah lembaga fatwa keagamaan di Timur Tengah berpendapat bahwa Al-Quran mengatakan kalau matahari mengelilingi Bumi. Orang yang meyakini bahwa bumi mengelilingi matahari berarti telah mendustakan Al-Quran. Ia dihukumi kafir. Tetapi benarkah Al-Quran mengatakan kalau matahari mengelilingi Bumi?

Apakah bumi ini diam dan matahari bergerak mengelilingi bumi? Menurut sains modern, tentu saja hal tersebut sudah terbantahkan. Namun menurut sebagian kalangan muslim, bahkan ada yang tergolong ulama besar, membantah hal tersebut bisa termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendustakan Al-Qur’an, bahkan kafir akbar.

Kontroversi mengenai mekanisme bumi dan pergerakan benda-benda langit sudah menjadi bahasan yang termasuk paling lama dalam sejarah manusia. Sampai sekarang, meskipun manusia sudah bisa menjelaskan planet-planet yang menyusun tata surya sampai supergugus galaksi yang menyusun struktur besar alam semesta, hakikat dari mekanisme alam semesta masih belum benar-benar diketahui. Tentu saja, beberapa di antara perdebatan itu sudah selesai, salah satunya mengenai masalah bumi yang menjadi pusat dan dikelilingi matahari atau sebaliknya.

Karena menyebutkan mengenai pergerakan matahari dan pergantian siang dan malam, maka Al-Qur’an tidak lepas dari permasalahan ini. Perdebatan di kalangan mufassirin muncul dari penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an berikut.

  1. QS. Yasin ayat 38

Allah SWT berfirman,

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.”

Hal ini didukung dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang berada dalam Tafsir Ibnu Katsir. “Imam Ahmad meriwayatkan, bahwasanya Abu Dzarr r.a berkata: ‘Aku bersama Rasulullah SAW di dalam masjid ketika matahari terbenam. Lalu Rasulullah Saw bersabda: ‘Hai Abu Dzarr, apakah engkau tahu kemana perginya matahari?’ Aku menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Rasulullah Saw bersabda; ‘Dia pergi, hingga sujud di hadapan Rabb-nya ‘azza wa jalla untuk meminta izin kembali. Lalu dia diizinkan seakan dikatakan kepadanya: ‘Kembalilah dari mana engkau datang. Lalu dia kembali ke tempat terbitnya dan itulah tempat peredarannya.’ Kemudian, beliau membaca, ‘Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. (QS. Yasin:38).’.’.”

  1. Surat An Naml ayat 61

Allah SWT berfirman,

أَمَّنْ جَعَلَ الأرْضَ قَرَارًا

”Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam…

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, yang dimaksud dengan tempat menetap adalah tempat menetap yang kokoh, tenang, tidak bergerak serta tidak bergoyang mengguncangkan penduduknya, tidak pula menggetarkan mereka. 

Dari ayat-ayat ini dan lainnya yang senada, gagasan bahwa Matahari mengelilingi Bumi mendapat legitimasi agama. Bahkan Lembaga Fatwa Arab Saudi, Lajnah Daimah, menyatakan bahwa orang yang menolak Bumi berdiam, sedangkan Matahari dan Bulan mengitarinya, disebut sebagai mendustakan Al-Qur’an dan yang mendustakan Al-Qur’an adalah kafir akbar.

Dalam sejarah sains, kita mengenal perdebatan ini dengan istilah geosentrisme versus heliosentrisme. Pada awalnya, orang-orang menganut paham geosentrisme, yakni bumi sebagai pusat alam semesta, yang dikelilingi oleh Matahari, planet-planet, dan bintang-bintang. Ini sangat naluriah karena yang kita lihat sehari-hari memanglah seperti itu. Tetapi, orang kemudian melihat keanehan dalam gerak planet-planet yang sulit dijelaskan dengan teori geosentris. 

Keanehan tersebut berasal dari gerakan retrograde planet. Maksudnya adalah ketika planet-planet bergerak ke suatu arah di langit, adakalanya mereka berbalik arah sementara waktu. Pada abad kedua SM, Ptolemy menerbitkan buku Almagest yang di dalamnya juga menerangkan keanenehan tersebut dengan epicycle. Jadi, selain mengelilingi Bumi dengan orbit utama (deference), planet-planet juga mengelilingi orbit epicycle sehingga memungkinkan mereka terlihat bergerak bolak-balik di langit. Teori ini dibilang cukup sukses di masanya, sehingga pemahaman geosentrisme semakin mantap.

Gambar 1 Model geosentris dari Ptolemy. Terdapat orbit utama (deference) (lingkaran besar putus-putus) dan orbit sekunder (epicycle) (lingkaran kecil putus-putus)

Sumber: wikimedia

Gagasan yang sudah mantap ini dipertanyakan oleh beberapa orang yang kritis pada abad-abad selanjutnya. Copernicus mengajukan model heliosentris dalam karyanya, On the Revolution of Heavenly Spheres pada tahun 1543, dan ternyata dapat menjelaskan fenomena retrograde menjadi lebih sederhana. Pengukuran selanjutnya menunjukkan bahwa planet-planet mengorbit bukan dalam bentuk lingkaran sempurna, melainkan elips. Penjelasan Ptolemy pun runtuh. Terlebih dengan adanya pengamatan Galileo atas bulan-bulan Jupiter, ternyata Bumi bukanlah satu-satunya objek yang dikelilingi atau menjadi pusat. 

Sebenarnya, gagasan heliosentris juga sudah ada sejak lama. Menurut NASA, orang yang pertama kali tercatat dalam sejarah menyatakan gagasan ini adalah Aristarchus dari Yunani. Namun, pembuktiannya harus menunggu perkembangan sains modern yang diawali oleh revolusi Copernicus. Berkat gagasan heliosentrisnya, pandangan Bumi atau manusia sebagai pusat di mana alam semesta berputar di sekitarnya dirobohkan, sehingga manusia bisa berpandangan lebih luas. 

Terima kasih kepada peradaban zaman keemasan Islam pada abad pertengahan yang menjadi fondasi atas prinsip dan perkembangan sains modern. Termasuk fondasi teori heliosentris yang berasal dari Ibnu Haitham dalam karyanya yang sangat gamblang mengritisi pendapat Ptolemy, yaitu Al-Shukūk ‘alā Baṭalamiyūs (Doubts Concerning Ptolemy) pada tahun 1028 dan Ibnu Shatir dalam karyanya yang sebagian model heliosentris ditemukan sama persis dalam karya Copernicus, yakni Nihayatus Sul fi Tashihil Usul (The Final Quest Concerning the Rectification of Principles) pada tahun 1375.

Bahkan berkat perkembangan sains modern, sekarang kita bisa membantah pendapat Copernicus sendiri. Bumi dan planet-planet lainnya tidaklah mengelilingi Matahari. Bahkan, Matahari pun tidak berdiam diri saja. Akan tetapi, seluruh objek dalam Tata Surya mengelilingi suatu titik yang disebut barycenter menurut kerangka acuan Tata Surya. Titik ini adalah titik pusat massa dari seluruh objek dalam Tata Surya. Hal ini diperoleh dari perhitungan n-benda berdasarkan interaksi gravitasi dalam suatu sistem.

Gambar 2 Model heliosentris sudah tidak akurat. Matahari juga bergerak mengelilingi titik barycenter (yang dalam kerangka ini relatif terhadap matahari)

Sumber: wikimedia

Lalu bagaimana jika fakta ilmiah ternyata bertabrakan dengan firman Allah dan hadits Rasul-Nya? 

Menjawab pertanyaan tersebut, kita harus mempertanyakan lagi pertanyaan ini. Dalam sains, gerak itu relatif. Kita bisa mengatakan bahwa Bumi mengelilingi Matahari atau sebaliknya, tergantung kerangka acuan. Dari segi agama, apakah benar penafsiran teks-teks itu harus seperti itu? Bagaimana tinjauan dari segi bahasa? Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, bahasa menurut pandangan manusia. Apakah yang Allah firmankan itu sesuai istilah ataukah hakikat? Yang jelas, masalah yang bisa diperdebatkan secara ilmiah ini seharusnya tidak masuk ke dalam ranah aqidah sehingga sampai mengeluarkan seseorang dari Islam.