Beranda Keislaman Akidah Benarkah Bulan Sya’ban Waktu Dilaporkannya Amal Ibadah Manusia?

Benarkah Bulan Sya’ban Waktu Dilaporkannya Amal Ibadah Manusia?

Harakah.id Apakah ada dasar ajaran bahwa bulan Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal ibadah kepada Allah SWT? Apa yang dilakukan Rasulullah SAW untuk menyambut agenda tutup buku untuk amal ibadah tersebut?

Banyak beredar informasi di tengah masyarakat Muslim bahwa bulan Sya’ban adalah waktu dilaporkannya amal ibadah umat manusia kepada Allah SWT. Berangkat dari sini, ada yang berpikir bahwa dilaporkan amal ibadah berarti seperti praktik laporan akhir dalam sebuah organisasi. Karena itu, ada yang berinisiatif meminta maaf kepada sesama dengan disertai harapan bahwa amal yang sudah dilakukan adalah amal yang diakhiri dengan amal yang baik. Mungkin harapannya dengan akhir yang baik, maka seluruh amal sebelum dapat menjadi baik pula.

Apakah ada dasar ajaran bahwa bulan Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal ibadah kepada Allah SWT? Apa yang dilakukan Rasulullah SAW untuk menyambut agenda tutup buku untuk amal ibadah tersebut?

Memang ada keterangan bahwa bulan Sya’ban adalah waktu dimana amal ibadah manusia dilaporkan kepada Allah. Imam an-Nasa’i meriwayatkan dengan sanad lengkap sebagai berikut:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ أَبُو الْغُصْنِ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِم

Telah mengabarkan kepada kami [‘Amr bin ‘Ali] dari [‘Abdurrahman] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Tsabit bin Qais Abu Al Ghushn] – seorang syaikh dari penduduk Madinah – dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu Sa’id Al Maqburi] dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Usamah bin Zaid] dia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang di sana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (HR. Nasa’i)

Dalam hadis ini disebut frasa “Syahrun turfa’ fihi al-a’mal ila rabb al-‘alamin” yang berarti Sya’ban adalah bulan dimana di dalamnya diangkat/dilaporkan segala amal perbuatan/ibadah kepada Allah. Dengan demikian menjadi jelas bahwa pernyataan bulan Sya’ban adalah bulan dilaporkannya amal ibadah memiliki sumber dasar rujukan yang jelas. Yaitu hadis riwayat Imam an-Nasa’i. Selain diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i, hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Hadis ini berkualitas sahih.

Berangkat dari keterangan di atas, Rasulullah SAW memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Kata-kata Usamah bin Zaid “Aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban” menunjukkan bahwa Rasulullah SAW berpuasa dalam hitungan hari yang cukup banyak dibanding bulan-bulan lain. Ketika Usamah bin Zaid bertanya, apa alasan beliau melakukan kebiasaan tersebut, Nabi SAW menjawab: “Aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” Ternyata, jawaban Nabi SAW adalah beliau lebih senang jika saat dilaporkan kepada Allah, amalan yang sedang beliau lakukan adalah ibadah puasa.

Memang tidak ada penjelasan apakah Nabi SAW pernah melakukan permintaan maaf kepada sesama pada bulan Sya’ban sebagai bentuk harapan agar amal terakhir yang dilaporkan adalah meminta maaf. Tetapi, meminta maaf sendiri adalah perbuatan yang baik ketika dilandasi oleh perasaan yang tulus dan sebagai upaya memperbaiki hubungan dengan sesama. Tidak ada waktu khusus untuk meminta maaf. Ketika dilakukan di bulan Sya’ban pun, tidak ada dalil yang melarangnya.

Demikian penjelasan singkat tentang bulan Sya’ban adalah waktu dilaporkannya amal ibadah kepada Allah SWT. Semoga kita selalu dapat meningkatkan amal ibadah kita menjadi lebih baik.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...