Beranda Khazanah Benarkah Manusia dapat Menanggung Dosa Orang Lain? Mengkompromikan Dalil Wala Taziru Waziratun...

Benarkah Manusia dapat Menanggung Dosa Orang Lain? Mengkompromikan Dalil Wala Taziru Waziratun dan Man Sanna Sunnatan Sayyiatan

Benarkah Manusia dapat Menanggung Dosa Orang Lain?

Harakah.idDi dalam Quran terdapat ayat yang mengakatan bahwa manusia tidak dapat menanggung dosa orang lain, (Wala Taziru Waziratun). Namun terdapat pula teks hadist yang menerangkan bahwa seseorang yang mengajak pada keburukan akan menanggung dosa orang yang mengikutinya, (Man Sanna Sunnatan Sayyiatan). Bagaimana cara memahaminya?

Allah menciptakan manusia sebagaimana Dia juga menciptakan jin, yaitu untuk beribadah. Yang artinya, manusia ini diberikan sebuah kewajiban berupa ibadah kepada Penciptanya, yaitu Allah. Selain memiliki kewajiban yang mana harus dilaksanakan, karena jika meninggalkannya atau tidak melaksanakannya akan mendapat dosa. Manusia jika diberikan larangan-larangan untuk dilakukan atau mendapatkannya, yaitu hal-hal yang diharamkan. Berbeda dengan kewajiban yang harus dilaksanakan, hal-hal haram justru wajib ditinggalkan supaya tidak mendapatkan dosa

Dosa merupakan ganjaran yang didapatkan manusia jika dia melanggar perintah Allah. Seperti meninggalkan kewajiban, atau justru melakukan suatu keharaman. Dosa ini pada saatnya nanti akan dimintai pertanggung jawaban. Artinya, manusia akan bertanggung jawab atas dosa-dosa yang telah dia perbuat kelak di akhirat nanti. Semakin banyak dosa yang dia lakukan di dunia, maka semakin banyak pula ganjaran atau hukuman berupa siksaan yang akan dia dapatkan di akhirat nanti. Sebab itulah, Allah menciptakan neraka, sebagai tempat memberikan hukuman bagi para pendosa.

Setiap manusia, akan diminta pertanggung jawaban atas dosanya sendiri. Hal ini sebagaimana yang tertulis dalam surat Al-An’am ayat 164 yang berbunyi;

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ


seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.

Dalil di atas secara gamblang menyebutkan, bahwa dosa setiap manusia akan ditanggung setiap individunya masing-masing. Tidak ada dan tidak bisa manusia menanggung dosa dari manusia yang lainnya. Hal ini tentu dapat diterima secara logika, karena yang namanya kesalahan ataupun dosa, tentu pertanggung jawabannya akan jatuh pada individu yang berbuat. Bukan ditanggung oleh orang lain.

Akan tetapi, jika dicermati dan diulas kembali. Di dalam Islam juga terdapat dalil lain berupa hadist Nabi. Yang mana, secara sekilas mungkin terlihat kontradiksi dengan dalil sebelumnya. Dalil hadist ini berbunyi;

مَنْ سَنَّ فِى اْلإِسْلاَمِ سُنـَّةً سَـيِّـئَةً فـَـلَهُ وِزْرُهَا وَوِزْرُمَنْ عَمِلَ بـِهَا

Dan barangsiapa yang membuat sunnah sayyi’ah (mencontohkan perbuatan buruk) dalam Islam maka ia akan mendapatkan dosa dan dosa orang yang mengikutinya

Sekilas, jika melihat artinya. Memang terlihat kontradiksi atau bertentangan denga nisi dalil sebelumnya. Jika dalil yang pertama mengakatan bahwa dosa setiap manusia tidak bisa ditanggung oleh manusia lain. Pada dalil yang kedua ini mengakatan bahwa seseorang yang mencontohkan perbuatan buruk dan kemudia ditiru oleh orang lain, maka dia juga akan menanggung dosa orang yang melakukan keburukan tadi.

Jika menjumpai dua dalil, baik dari al-Quran maupun hadist, terlihat bertentangan atau kontradiksi sebagaimana kasus di atas. Maka salah satu solusinya adalah dengan menerapkan konsep al-jam’u atau nasikh mansukh. Jika melihat salah satu kitab tafsir induk, pada kasus dalil yang terlihat kontradiksi ini cara memahaminya dengan menggunakan pendekatan al-jam’u atau dikompromikan. Artinya bagaimana? Maksudnya cara memahaminya dengan melihat terlebih dahulu latar belakang diturunkannya dalil tersebut, dengan begitu akan dapat memahaminya secara lebih baik karena bisa melihat konteks yang terjadi saat diturunkannya ayat tersebut.

Dalil yang pertama, yaitu surat Al-An’am ayat 164 diturunkan saat peristiwa adanya salah satu tokoh kaum kafir, yang secara terang-terangan di depan Nabi mengajak para manusia untuk meninggalkan agama Islam dan kembali ke keyakinannya orang kafir. Bukan Cuma itu saja, orang kafir tersebut juga berkata, jika memang ternyata agama Islam ini adalah agama yang benar, dan mereka mendapat dosa karena mau keluar dari Islam serta kembali ke keyakinan kaum, dia siap menanggung semua dosa orang-orang yang mau meninggalkan Islam dan kembali ke keyakinan yang dulu. Sedangkan dalil yang kedua, jika dilihat kembali konteks hadist ini akan selaras dengan hadist lain yang berbunyi;

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ

Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa)

Hadist ini menjelaskan bahwa segala kesalahan atau dosa yang dilakukan oleh umatnya Nabi, sejatinya akan diampuni oleh Allah. Akan tetapi dikecualikan bagi mereka yang melakukan dosanya secara terang-terangan. Orang yang demikian akan sulit dosanya diampuni atau bahkan tidak akan diampuni oleh Allah. Apa sebabnya? Karena mereka yang melakukan dosa secara terang-terangan berpotensi akan diikuti dan ditiru oleh orang lain, sehingga mengakibatkan bertambahnya orang-orang yang melakukan dosa. Berbeda dengan orang-orang yang melakukan dosa tetapi tidak dilihat oleh orang, yang demikian tidak berpotensi untuk diikuti dan ditiru orang lain. Sehingga orang yang melakukan dosa hanya dirinya sendiri.

Dengan melihat konteks seperti di atas tadi, kita akan lebih mudah bagaimana menyikapi dan cara memahami kedua dalil yang sekilas nampak bertentangan atau kontradiksi. Dua dalil tadi sejatinya menyampaikan isi pesan yang berbeda. Yang pertama tadi lebih diperuntukan bagi mereka yang secara sombong mengakatan akan siap menanggung kesalahan orang lain. Padahal sejatinya, yang berkuasa penuh menentukan demikian ini hanyalah Allah. Dan dalil yang kedua ini, lebih diperuntukan untuk memperingatkan manusia agar lebih berhati-hati dalam berbuat dan mengajak kepada perbuatan yang buruk. Karena jika keburukan tadi ditiru dan diikuti oleh orang-orang, maka dia akan mendapatkan imbasnya. Dirinya akan dibebani dosa-dosa orang yang melakukan keburukan tersebut. Wallahu a’lam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...