Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [1]

0

Harakah.idDi antara informasi yang menarik perhatian banyak orang adalah klaim bahwasannya wabah ini akan menghilang saat kemunculan sebuah rasi bintang tertentu, dan lebih jauh lagi, klaim ini disebutkan berasal dari hadis atau perkataan Rasulullah SAW.

Saat ini kita sedang menghadapi sebuah wabah penyakit dalam skala dunia. Ini boleh jadi merupakan pandemi yang paling parah sejak era perkembangan internet. Dengan kemudahan akses yang ada, informasi berkaitan dengan wabah penyakit juga amat cepat beredar belakangan ini.

Di antara informasi yang menarik perhatian banyak orang adalah klaim bahwasannya wabah ini akan menghilang saat kemunculan sebuah rasi bintang tertentu, dan lebih jauh lagi, klaim ini disebutkan berasal dari hadis atau perkataan Rasulullah SAW. Hadis yang dimaksud berbunyi:

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ رُفِعَتْ الْعَاهَةُ

Jika bintang muncul di pagi hari maka hama akan diangkat.

Perlu diingat bahwa terjemahan terhadap hadis ini amat ditentukan oleh cara memahami beberapa kata kunci yang ada dalam hadis.

Sumber Hadis dan Penilaian Ulama Terhadapnya

Hadis di atas diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad, dari Abu Hurairah. Dalam redaksi yang agak berbeda, Imam Ahmad juga menyebutkan riwayat lain yang juga berasal dari Abu Hurairah yang berbunyi:

مَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا قَطُّ وَتَقُومُ عَاهَةٌ إِلَّا رُفِعَتْ عَنْهُمْ أَوْ خَفَّتْ

Tidaklah bintang muncul di pagi hari sedang hama bertebaran kecuali akan diangkat dari mereka atau disirnakan.

Jalaluddin Al-Suyuthi juga menyebutkan hadis dengan redaksi pertama dalam Al-Jami’ Al-Shaghir (nomor 744) dan Al-Jami’ Al-Kabir (nomor 2168, 2166). Al-Suyuthi memberi penilaian hadis ini sebagai hadis dhaif. Ulama peneliti hadis yang juga menilai dhaif riwayat ini adalah Al-‘Uqaili, Ahmad Syakir dan Al-Albani. Hadis dengan dua variasi redaksi di atas, masing-masing hanya memiliki jalur tunggal (gharib). Dalam kedua jalur, terdapat nama perawi yang dinilai dhaif. Hal ini yang menyebabkan penilaian dhaif terhadapnya.

Al-Thahawi dalam Musykil al-Atsar (6/53, bab ke-365) menyebutkan setidaknya ada enam jalur berbeda yang beliau temukan tentang hadis-hadis dalam tema ini. Meski semuanya berujung pada nama Abu Hurairah di tingkat Sahabat. Terdapat jalur periwayatan yang tidak mengandung nama rawi yang dinilai dhaif oleh Al-Albani dan yang lain.

Syu’aib Al-Arnauth menilai bahwa hadis dengan redaksi kedua yang disebut oleh Imam Ahmad statusnya Hasan. Penilaian ini beliau berikan dalam Tahqiqan beliau terhadap Musnad Imam Ahmad. Bahkan dalam tahqiq beliau terhadap kitab Musykil al-Atsar karya Al-Thahawi, Syu’aib Al-Arnauth mengecam keras Al-Albani karena terburu-buru mendhaifkan semua jalur riwayat hadis di atas. Perlu diingat, dalam empat jalur yang disebutkan oleh Al-Thahawi, tidak mengandung nama ‘Isl Ibn Sufyan. Nama perawi pada tingkatan berikutnya juga berasal dari jalur yang sama sekali berbeda.

Empat jalur yang dimaksud ternyata bersumber dari Abu Hanifah, dari Atha’ Ibn Abi Rabah, dari Abu Hurairah dan jalur ini dinilai shahih dan perawinya seluruhnya tsiqah oleh Al-Arnauth. Menurut Syu’aib Al-Arnauth, Al-Albani sebenarnya juga mengetahui keberadaan jalur dari Abu Hanifah ini. Namun Al-Albani tetap bersikukuh menyatakan redaksi hadis ini lemah. Al-Albani terkesan meragukan kredibelitas Abu Hanifah dalam periwayatan hadis, sehingga keberadaan jalur ini tetap tidak dapat mengubah status kedhaifan dari jalur ‘Isl Ibn Sufyan. Sikap ini disebut oleh Al-Arnauth sebagai bentuk tidak ilmiah dalam menilai hadis. Al-Albani semata-mata memperturutkan sentimen pribadinya terhadap Abu Hanifah.

Kemunculan sikap yang mencoba meruntuhkan kredibelitas Abu Hanifah dalam hafalan dan periwayatan hadis memang telah memicu polemik berkepanjangan dalam kajian hadis. Dan ternyata isu tersebut turut berpengaruh pada penilaian terhadap hadis ini.

Berdasarkan penjelasan di atas, ternyata terdapat penilaian berbeda terhadap hadis ini. Namun perlu diakui bahwa lebih banyak ulama yang menilainya dhaif. Meski penilaian hasan dari Syua’ib Al-Arnauth tetap perlu diperhitungkan mengingat beliau mampu mengajukan varian jalur yang lebih banyak. Khilaf dalam penilaian hadis tentu saja telah jamak dan maklum terjadi di kalangan para ulama.

Kesimpulan yang dapat kita ambil terkait sumber dan kualitas hadis kemunculan bintang penghilang penyakit ini adalah: baik yang menilai shahih, hasan, maupun dhaif terhadap hadis ini ternyata memiliki sandaran dari pendapat para ulama Hadis. Sehingga masing-masing pendapat perlu diperhitungkan dan memiliki kemungkinan benar.

Berkaitan dengan penafsiran terhadap hadis akan dilanjutkan pada bagian selanjutnya.

Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [2]
Baca Juga: Agar Rasulullah Saw Tak Dicitrakan Seperti Tukang Ramal, Berikut Panduan Memahami Hadis Bintang Tsurayya