Beranda Keislaman Hadis Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis

Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [2]

Harakah.idDarul Ifta’ Mesir telah mengeluarkan putusan tertanggal 02 Mei 2020, bahwa pengkaitan muncul gugus Bintang Tsurayya dengan hilangnya wabah korona adalah pemahaman yang batil.

Wabah penyakit akan menghilang saat muncul bintang tsurayya terbit. Hal itulah yang menjadi klaim sebagian kalangan saat ini. Klaim ini didasarkan kepada dua hadis dengan redaksi berikut ini:

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ رُفِعَتْ الْعَاهَةُ

Jika bintang muncul di pagi hari maka hama akan diangkat.

Perlu diingat bahwa terjemahan terhadap hadis ini amat ditentukan oleh cara memahami beberapa kata kunci yang ada dalam hadis.

Adapun redaksi yang kedua adalah:

مَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا قَطُّ وَتَقُومُ عَاهَةٌ إِلَّا رُفِعَتْ عَنْهُمْ أَوْ خَفَّتْ

Tidaklah bintang muncul di pagi hari sedang hama bertebaran kecuali akan diangkat dari mereka atau disirnakan.

Interpretasi Terhadap Hadis
Aspek validitas hadis ini telah dibahas pada bagian pertama. Ketika dilakukan analisis terhadap matan hadis tersebut, kita akan menyadari bahwa maknanya tidak semuda kita mengatakan “Menghilangnya wabah jika rasi bintang Tsuraya terbit”. Setidaknya ada dua variabel yang perlu dijelaskan terkait pemahaman hadis ini yaitu apa yang dimaksud dengan frasa Al-Najm Dza Shabah atau Al-Najm Shabahan dan kata Al-‘Ahah pada hadis tersebut?

Bintang apakah yang dimakasud dalam hadis ini? Bagaimana ia dipahami bisa sebagai bintang Tsuraya padahal dalam dua hadis di atas ia hanya disebutkan dengan redaksi umum? Penjelasan ini dapat dilihat dalam kitab Musykil al-Atsar karya Al-Thahawi (6/53, bab ke-365).

Al-Thahawi menjelaskan bahwa kesimpulan bahwa bintang yang dimaksud di sini adalah bintang Tsurayya diperoleh jika membandingkannya dengan hadis yang lain. Namun perlu ditekankan bahwa al-Thahawi tidak sedikitpun mengaitkan hadis ini dengan wabah penyakit yang melanda manusia.

Ada sebagian hadis yang membahas larangan menjual buah-buahan saat masa hama dan penyakit tanaman sedang merebak, tetapi harus menunggu sampai hama atau penyakit tersebut hilang. Dan ternyata hadis-hadis ini juga mengaitkan hilangnya hama dengan terbitnya satu rasi bintang yang disebut dengan lebih spesifik yaitu bintang Tsurayya. Kesamaan lainnya adalah hadis-hadis dalam masalah ini juga menyebut kata Al-‘Ahah.

Hadis-hadis yang dimaksud di antaranya:

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الثِّمَارِ حَتَّى تَذْهَبَ الْعَاهَةُ قُلْتُ وَمَتَى ذَاكَ قَالَ حَتَّى تَطْلُعَ الثُّرَيَّا

Rasulullah SAW melarang menjual buah-buahan hingga penyakitnya hilang. Aku tanyakan, Kapan itu? Ia menjawab, “Hingga terbit sekumpulan bintang-bintang (tsurayya).” (HR Ahmad)

Atas dasar perbandingan ini, maka disimpulkan bahwa bintang yang dimaksud dalam bab hilangnya wabah adalah bintang yang sama yang disebut dalam hadis larangan menjual buah-buah berpenyakit yaitu bintang Tsurayya.

Bintang Tsurayya sendiri adalah penamaan bangsa Arab untuk gugus bintang Pleiades atau Gugus Kartika. Sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus, merupakan gugus bintang paling jelas dilihat dengan mata telanjang, dan salah satu yang terdekat dengan Bumi. Dalam tradisi perbintangan Jawa ia dikenal sebagai Lintang Wuluh. Visibilitas yang tinggi dari gugusan bintang Pleiades di langit malam dan posisinya di sepanjang ekliptika (yang mendekati bidang planet umum tata surya) telah menjadikannya penting dalam banyak budaya, kuno dan modern. Termasuk dalam budaya Arab, sehingga tidak mengherankan jika ia disebutkan dalam banyak hadis Nabi Muhammad SAW.

Adapun kata Al-‘Ahah sendiri dalam Lisanul Arab disebutkan bermakna “kerusakan”. Kebanyakan ahli bahasa mengkhusukan kata ini untuk merujuk pada kerusakan yang mendera tanaman seperti hama atau penyakit dan kekeringan. Ada juga yang memperluas pemaknaan kata Al-‘Ahah mencakup aneka kerusakan yang menimpa hewan ternak. Pendapat yang lebih kuat memang hanya mengkhusukan makna kata Al-‘Ahah pada dua hal ini. Apalagi konteks penggunaan kata Al-‘Ahah dalam hadis jual beli juga dipersempit pada tanaman.

Sejauh ini, seharusnya wabah corona yang sedang berlangsung tidak dapat dihubungkan dengan hadis ini karena ia wabah yang disebabkan oleh virus yang menginfeksi dan bertransmisi dari tubuh manusia, adapun efeknya pada tanaman dan hewan tidak terlihat.

Darul Ifta Mesir telah mengeluarkan putusan tertanggal 02-Mei-2020, bahwa pengkaitan muncul gugus bintang Tsurayya dengan hilangnya wabah korona adalah sesuatu yang batil.

Pertama, ia batil karena pendalilan yang rapuh dari hadis. Kata Al-‘Ahah dalam penjelasan ahli bahasa dan konteks penggunaan hadis maksudnya adalah hama pada tanaman, bukan wabah yang menginfeksi manusia. Kedua, tidak penjelasan atau bukti yang memberikan hubungan kausalitas antara terbitnya rasi bintang dengan meredanya wabah, hal ini lebih mirip bentuk cocokologi tak berdasar dan mendekati khurafat.

Kesimpulan: kita sebaiknya tidak lagi membesar-besarkan atau menyebarkan informasi muncul bintang tsurayya sebagai tanda redanya wabah Corona, hal ini jelas merupakan praktik pemahaman hadis yang sangat rapuh. Hal yang lebih penting adalah melakukan usaha-usaha nyata untuk meredakan wabah dengan mengikuti petunjuk pemerintah dan para ahli, serta memperbanyak ibadah dan doa agar wabah ini segera diangkat oleh Allah SWT.

Baca Juga: Agar Rasulullah Saw Tak Dicitrakan Seperti Tukang Ramal, Berikut Panduan Memahami Hadis Bintang Tsurayya
Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [1]

REKOMENDASI

Macam-Macam Zakat yang Harus Kita Bayar Ketika Memenuhi Syarat

Harakah.id - Macam-macam zakat ini wajib kita bayar jika telah memenuhi syarat. Secara garis besar, ada dua macam zakat, yaitu zakat...

Kiai Ridwan Menggambar Lambang NU, Muncul dalam Mimpi dan Disetujui Kiai Hasyim

Harakah.id - Kiai Ridwan menggambar lambang NU berdasarkan mimpi dari salat istikharah yang dilakukannya. Lambang yang kemudian disetujui Kiai Hasyim Asy'ari...

“Kunikahi Engkau dengan Mahar Hafalan Surat Ar-Rahman”; Romantis Sih, Tapi Apa Boleh?

Harakah.id - Mahar hafalan surat-surat dalam al-Quran kian trend. Pasangan laki-laki yang menikahi seorang perempuan, akan semakin tampak romantis dan islami...

Muhaddis Garis Lucu, Historisitas Argumen Keabsahan Hadis dan Hal-Hal yang Tak Selesai

Harakah.id - Muhaddis Garis Lucu menampilkan satu kondisi dan situasi periwayatan di masa lalu. Bahwa tradisi periwayatan yang kemudian menjadi bahan...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...