Beranda Khazanah Bentuk Ruh Manusia yang Telah Meninggal Dunia Menurut Ulama

Bentuk Ruh Manusia yang Telah Meninggal Dunia Menurut Ulama

Harakah.idRuh telah dikenal dalam berbagai kebudayaan di dunia. Dalam Islam, ruh telah menjadi pembahasan penting. Salah satu yang dibahas pada ulama Islam adalah tentang bentuk ruh manusia. Apakah ruh memiliki bentuk seperti jasad manusia? Bagaimana bentuk ruh manusia?

Ketika ruh telah berpisah dengan badan, bagaimanakah bentuk atau rupa ruh jika tidak bersatu dengan badan? Bagaimana antar-ruh dapat saling mengenal jika semua ruh memiliki bentuk yang sama? Jika memiliki bentuk yang berbeda-beda untuk saling mengenali, lalu bagaimana bentuk ruh?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas terbagi menjadi dua, yakni pendapat yang menyatakan bahwa ruh tidak memiliki bentuk & rupa (semua ruh memiliki wujud yang sama) dan pendapat yang menyatakan bahwa ruh adalah zat yang berdiri sendiri (setiap ruh memiliki bentuk atau rupa yang berbeda-beda. Pendapat yang terakhir adalah pendapat Ahlus Sunnah

Pendapat pertama memegang dalil bahwa ruh adalah hal non-material yang tidak memiliki bentuk, ukuran, bahkan tidak memiliki rupa (sosok). 

Pendapat ini sejalan dengan kelompok yang menyatakan bahwa ruh adalah salah satu sifat (non-substansional atau membutuhkan zat untuk wujud) yang menempel pada tubuh (badan), sehingga ruh dapat dibedakan dengan ruh-ruh lainnya jika masih berada di dalam tubuh (badan). 

Menurut kelompok ini, ruh tidak bisa dibedakan sekaligus tidak lagi berwujud pasca-kematian. Ruh dianggap telah musnah bersamaan dengan hancurnya tubuh (badan) sebagaimana sirnanya sifat-sifat orang ketika masih hidup.

Imam Ibnul Qayyim al-Jauzi dalam kitabnya yang berjudul Ma’rifat ar-Ruh wa an-Nafs menyebutkan bahwa kelompok Ahlus Sunnah yang tetap berpegang teguh pada dalil-dalil Al-Quran, Hadis, AtsarI’tibar, dan akal; menyatakan bahwa ruh adalah hal yang berdiri sendiri. Maksudnya, ruh bisa naik, turun, keluar, pergi, terpisah, terhubung, datang, diam, dan bergerak. 

Hal ini sesuai dengan surat al-An’am ayat 93: Alangkah dahsyatnya ketika Engkau melihat di kala orang-orang yang zalim berada di dalam tekanan sakaratul maut, dan Para Malaikat memukul memukul mereka dengan tangannya (sembari berkata), “keluarlah nyawamu” dan surat al-Fajr ayat 27-30: Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang ridha sekaligus diridhai (oleh-Nya). Kemudian masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku

Dua surat tersebut menunjukkan bahwa ruh adalah hal yang dapat berdiri sendiri, meskipun telah berpisah dengan tubuh (badan). Ruh bisa keluar, kembali kepada Tuhan-nya, bisa bergerak untuk berkumpul dengan golongan hamba-hamba Allah, dan juga bisa memasuki surga-Nya. 

Di dalam firman Allah yang lain (surat al-Infithar ayat 7) juga disebutkan bahwa Allah yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan bentukmu dan menjadikan (susunan tubuhmu) secara seimbang dan (surat al-Syams ayat 7-8) Demi jiwa dan penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya

Dua surat tersebut menunjukkan bahwa Allah menyempurnakan penciptaan jiwa sebagaimana penciptaan badan. Penyempurnaan penciptaan badan mengikuti penyempurnaan penciptaan jiwa.

Ibnul Qayyim al-Jauzy dalam kitabnya yang berjudul ar-Ruh memaknai dua surat di atas dengan pernyataan bahwa jiwa (ruh) mengambil bentuk dari badannya untuk membedakannya dengan jiwa-jiwa (ruh-ruh) yang lain.

Oleh sebab itu, dikatakan kepada ruh ketika keluar dari jasad (badannya) “Keluarlah wahai jiwa (ruh) baik dari dalam jasad yang baik!” atau “Keluarlah wahai jiwa (ruh) yang buruk dari dalam jasad yang buruk!”. 

Hadis yang mendukung pendapat dari Ahlus Sunnah di atas adalah hadits yang bersumber dari Ummu Salamah (Istri Nabi Muhammad) yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Muslim, dan Ibnu Majah.

Hadis tersebut menyebutkan bahwa Nabi Muhammad mengabarkan bahwa ketika Malaikat Maut mencabut ruh, kemudian Malaikat-Malaikat yang lain akan mengambil ruh tersebut dari Malaikat Maut. Maka akan didapati dari ruh tersebut sebagai sesuatu yang memiliki aroma lebih harum dari minyak kasturi di muka bumi atau sebagai sesuatu yang beraroma lebih busuk dari bangkai di muka bumi

Jika ruh adalah suatu sifat (non-substansional atau menempel pada zat), maka ruh tidak akan memiliki bau (seperti minyak kasturi atau bangkai) dan tidak bisa dipegang (diambil oleh Para Malaikat dari tangan Malaikat Maut). Hal ini menunjukkan bahwa ruh adalah hal yang berdiri sendiri dan memiliki bentuk (wujud atau rupa) yang disesuaikan dengan bentuk jasadnya. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...