Beranda Khazanah Beragama Dengan Mudah dan Islam Mazhab Humanis Ala Gus Dur

Beragama Dengan Mudah dan Islam Mazhab Humanis Ala Gus Dur

Harakah.id Islam mazhab humanis ala Gus Dur adalah satu model keberislaman yang memposisikan manusia sebagaimana layaknya manusia. Satu sikap beragama yang menjunjung tinggi nilai-nilai humanisme dan mengembalikan posisi manusia, apapun agama, ras dan sukunya, sebagai mahluk yang mulia.

Dalam berbagai kesempatan, Gus Dur baik dalam tulisan ataupun penyampaian lisannya selalu mengajak kaum muslimin untuk memahami Islam dan menjalaninya dengan asyik. Asyik bukan dalam artian mengamalkan ajaran agama seueenak udele dewe. Akan tetapi asyik untuk memahami Islam sesuai dengan tuntutan manusia zamannya. Untuk itu, kerja reinterpretasi dan kontekstualisasi harus dipancang sebagai agenda jangka panjang yang tidak akan selesai.

Islam mazhab humanis ala Gus Dur adalah upaya untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang eksklusif. Bukankah Islam itu shalihun likulli zaman wal makan dan rahmatan lil alamin? Dan ini harus dimulai dari memberikan pemahaman mengenai unsur yang absolut dan kondisional dalam Islam.

Banyak orang yang salah memahami pernyataan al-Quran yang menyebutkan bahwa Islam pasca wafatnya nabi, adalah agama yang sudah sempurna [al-Ma’idah: 6]. Karena kesempurnaan itu, mereka berkeyakinan bahwa segala hal yang ada dalam Islam, yang memiliki landasan qur’ani bersifat qath’i dan benar secara absolut. Ketika dipahami seperi ini, Islam tak ubahnya agama perang yang banyak menyajikan ayat jihad di dalamnya.

Lokalitas dan heterogenitas pun juga menjadi masalah. Pertanyaan yang sering muncul, seperti apakah Islam yang murni? Atau slogan “kembali kepada kemurnian ajaran Islam” juga merupakan permasalah kompleks dengan ambiguitas yang bahkan memungkinkan gerakan puritanisasi besar-besaran seperti yang ditunjukkan gerakan-gerakan khilafi-wahabi mendapatkan legitimasi teologisnya.

Menoleh kepada sisi yang lian juga tak kalah dilematis, ketika Islam sudah banyak berkelibat dalam pergulatan kehidupan manusia yang warna-warni sepanjang zaman, akahkan Islam masih menyimpan sedikit tradisi yang menjadi identitasnya? Dari titik ini, Islam bagaikan telur di ujung pedang; kalau tidak jatuh lalu hancur di tanah, ia akan tertebas menjadi dua. Singkat cerita, kini Islam berada dalam posisi antara memenuhi kebutuhan zamannya dan menjaga identitas dirinya.

Memahami Islam dari dua sisi di atas sama-sama tidak mengasyikkan. Perlu adanya “alternatif”, atau dalam bahasa Anthony Giddens “jalan ketiga” yang kiranya dapat membawa kaum muslimin keluar dari posisi dilematis semacam ini. Hubungan ini tentu ambivalen. Pada satu sisi Islam mengangguk “iya”, di sisi yang lain ia menggeleng “tidak”. Nah, Gus Dur menjadi penting karena kontribusi nyatanya untuk menunjukkan jalan tengah tersebut.

Untuk itu, Gus Dur terlebih dahulu berusaha menanamkan keyakinan bahwasanya Islam bukanlah agama yang sempurna dalam segenap tindak-tanduk yang bersifat prinsip ataupun teknis. Ketika al-Quran mengatakan “akmaltu lakum dinukum”, hal ini hanya berlaku dalam permalasahan prinsip saja. Al-Quran sebagai kitab pedoman berisikan prinsip-prinsip tersebut.

Sebaliknya, untuk masalah tekhnis operasionalnya, umat muslimlah yang menentukan. Dari sini, kreatifitas untuk terus mengolah prinsip yang ada menjadi mutlak ditanamkan dalam diri seorang muslim sejak dini. Ayat al-Quran tidak akan mengalami perubahan sampai kiamat nanti, ia adalah teks yang tidak bergerak. Sebaliknya, lika-liku kehidupan yang dialami manusia senantiasa berubah dari masa ke masa. Bagaimana teks yang mati itu bisa tetap relevan dengan perubahan sosial tanpa henti itulah yang menjadi pertanyaan dan misi abadi seorang muslim.

Setelah membedakan antara yang prinsip dan yang teknis, Gus Dur kemudian membedakan antara permasalahan ibadah dan muamalah. Ibadah dalam artian segenap aturan yang mengikat ketika seorang hamba ingin berkomunikasi secara vertikal dengan Tuhannya. Mu’amalah sebaliknya, adalah aturan sosial antara manusia dengan manusia lainnya. Dari pos ini, memahami Islam dengan asyik mendapatkan persetujuannya secara normatif.

Tentu kita masih ingat ketika Gus Dur dicerca oleh sebagian kelompok orang karena telah mengganti ucapan “assalamualaikum” dengan “selamat pagi”. Atau ketika Gus Dur dengan tegasnya tidak mempermasalahkan pengucapan “selamat natal”-nya orang muslim kepada komunitas kristiani. Tentu, pendapat ini bertentang dengan keputusan MUI waktu yang mengatakan haram mengucapkan “selamat natal”, dengan alasan ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang ma’shiat yang mensyirikkan Allah. ini contoh orang yang menurut Gus Dur tidak merasakan nikmatnya memahami Islam.

Pembahasan-pembahasan itu anehnya tidak hanya terjadi sekali. Bagaikan buah, ia juga mengalami siklus musiman. Ketika natal tiba, orang-orang mulai membicarakan tentang hukum mengucapkan natal. Ketika awal dan akhir ramadlan tiba, orang-orang muslim mulai ramai membicarakan dan memperdebatkan metode ru’yatu-l-hilal. Karena itu menurut Gus Dur, umat Islam tidak pernah sampai pada buah dan bijinya. Sepanjang hidup mereka, mereka hanya berputar dan mengais kulit luarnya saja.

Untuk masalah ibadah, Gus Dur tidak bisa berbuat apa-apa. Ketentuannya sudah jelas. Shalat subuh 2 rakaat dan ashar 4 rakaat. Tidak akan ada yang bisa merubah, mujtahid mutlak sekalipun. Masalah muamalah beda lagi. Itu tergantung kebutuhan pasar dan tunturan situasi-kondisi yang ada.

Sebenarnya ulama salaf sudah memberikan petunjuk mengenai hal itu. Dalam qaidah fiqh kita mengenal dua qaidah “al-ashlu fi-l-ibadah tahrimuha illa idza dalla-a-dalil ‘ala tajwiziha” dan “al-ashlu fi-l-mu’amalah tajwizuha illa idza dalla-d-dalil ‘ala tahrimiha”. Dua qaidah ini mendudukkan secara eksplisit posisi ibadah dan mu’amalah dalam partisipasi bersama mewujudkan masyarakat yang taat beragama tanpa memancung daya kreatifitas sebagai poros utama pembentuk unsur-unsur kebudayaan manusia.

Jadi permasalahan remeh seperti arabisasi kata-kata yang sudah lumrah di kalangan masyarakat kita tidak lagi menjadi menakutkan sebagaimana ancaman teroris dan ISIS. Perubahan kata sembahyang dengan shalat, langgar dengan mushalla, selamat pagi dengan assalamualaikum adalah problem yang sama sekali tidak patut menjadi sumber perpecahan, apalagi sampai muncul kegiatan pengkafiran dan pembid’ahan.

Melalui pandangan semacam itu, Islam mazhab humanis ala Gus Dur menunjukkan kalau Islam adalah agama yang damai dan plural. Tidak mentang-mentang lain agama, lalu main bunuh-bunuhan tanpa dasar hukum yang jelas. Ada beberapa wilayah dalam interaksi yang dibangun antar manusia, di mana agama hanya memiliki otoritas di level individualitasnya saja, bukan pada hal mengarahkan ke mana interaksi itu akan menghilir. Untuk itu Gus Dur selalu mengatakan agar Islam seyogyanya menghindari eksklusivisme dan lebih menekankan pada agenda nasional bagi kepentingan semua kelompok masyarakat, termasuk minoritas dan non-pribumi.

Oleh karena itu, pemosisian manusia sebagai mahluk yang mulia dan harus dihargai apapun agama yang dipeluknya, merupakan agenda utama dalam membentuk pola sosial yang multikultural. Ini prinsip kunci dalam Islam mazhab humanis ala Gus Dur.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Gus Dur mengurasi dan menyimpulan bahwa ada tiga nilai dasar ajaran agama Islam yang mesti menjadi poros bagi segenap aktifitas keberagamaan secara teknis operasionalnya. Yaitu nilai-nilai yang mendasari kehidupan masyarakat dalam bingkai keadilan, persamaan dan demokrasi (syura). Prinsip dasar inilah yang menurut Gus Dur sudah terakomodir dalam qaidah “Tasharrufu-l-Imam ‘ala-r-ra’iyah manuthun bi-l-mashlahah”. Karena hanya dengan membingkai ketiganya itulah, Islam mampu mewujudkan dirinya sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.      

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...