Berangkat Mengaji Hanya Untuk Cari Makan Gratisan, Sebuah Pengakuan Imam al-Ghazali

0
185
Berangkat Mengaji Hanya Untuk Cari Makan Gratisan, Sebuah Pengakuan Imam al-Ghazali

Harakah.idPengakuan Imam al-Ghazali bahwa awalnya ia belajar dan mengaji dengan niat untuk mencari makanan enak dan gratis ini cukup menarik. Kisah yang menunjukkan bahwa niat juga akan menentukan hasil akhir belajar.

Hujjatul Islam Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali at-Thusi asy-Syafi’i. Sosok yang menempati peranan penting dalam perkembangan Islam. Ulama yang mencintai filsafat, tasawuf, dan berbagai cabang-cabang ilmu yang lain ini menularkan pemikiran-pemikirannya ke seluruh seantero dunia.

Nama al-Ghazali bukanlah nama yang asing dikalangan umat Islam. Ulama kelahiran Thus tahun 450 H, wafat 14 Jumadil Akhir 505 H, dan ditinggal wafat ayahnya sejak kecil merupakan seorang filsuf dan teolog muslim yang mempunyai gelar Hajjatul Islam, gelar tersebut beliau dapatkan sebab semangatnya dalam mencari ilmu dan kegigihannya dalam melawan keyakin-keyakinan syubhat dalam masalah aqidah, serta sikap telatennya dalam membantah kerancuan cara berpikir pilsuf.

Al-Ghazali ulama terkemuka dan tersohor di antara ulama-ulama klasik, juga memiliki cerita yang tidak kalah heroik. Kisah kegigihannya dalam mencari ilmu merupakan sejarah kepahitan dan kesedihan. Bahkan, sama sekali tidak ada catatan bahagia dalam perjalanannya ketika mencari ilmu. Pasalnya, orang tua al-Ghazali hanyalah tukang tenun biasa, jauh dari kata mewah dan sempurna, dimana penghasilan dari memintal benang tenun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Betapapun itu sebagai kekurangan, semangat al-Ghazali dalam mencari ilmu justru tidak membuatnya menyerah untuk mendapatkan ilmu. Karena, meskipun hidup dalam keadaan serba kekurangan, ia adalah sosok yang haus akan ilmu pengetahuan.

Kesederhanaan yang dirasakan al-Ghazali ternyata cukup berdampak pada tujuannya ketika mencari ilmu. Pasalnya, ia pernah menyampaikan sebuah pengakuan bahwa motivasinya berangkat ke sekolah adalah agar mendapatkan makanan. Pengakuan Imam al-Ghazali yang sangat mengejutkan. Sebab, ia menyadari di rumahnya tidak menjumpai makanan yang enak. Syekh Tajuddin as-Subuki menceritakan pengakuan Imam al-Ghazali, dalam kitabnya menyebutkan,

طلبنا العلم لغير الله فأبى أن يكون الا لله

Artinya, “Dahulu kami (al-Ghozali) mencari ilmu dengan niat selain Allah, tetapi ilmu tersebut enggan (padanya) kecuali dengan niat karena Allah.” (Lihat, Thabqatu asy-Syafi’iyah, juz 6, hlm 194)

Pengakuan Imam al-Ghazali di atas beliau sampaikan karena kesadaran atas keterbatasan finansial keluarganya. Sebagai anak yang serba kekurangan, terlahir dari keluarga yang kurang mampu, kehidupan serba sederhana, bahkan al-Ghazali berangkat ke sekolah dengan uang yang pas-pasan, menginginkan makanan yang enak seperti yang dirasakan oleh temannya yang lain, sehingga ia memutuskan untuk sekolah dengan tujuan itu.

Dalam kehidupan yang serba terbatas, ia mendapatkan pendidikan gratis dari beberapa guru. Namanya gratis, tentu fasilitasnya juga kurang begitu layak. Namun, dengannya al-Ghozali tidak menyia-nyiakan pendidikan itu, meski ditempatkan ditempat yang kurang memadai layaknya teman seperjuangan lainnya yang cukup. Justru al-Ghazali lebih unggul dari yang lain, bahkan melebihi mereka yang mendapatkan fasilitas lebih. Terbukti, di tempat yang jauh dari kata layak, ia mampu menguasai dua bahasa, yaitu, bahasa Arab dan bahasa Persia.

Dengan modal dua bahasa itu, al-Ghazali mamu melahap berbagai disiplin ilmu yang menarik minat perhatiannya. Ia bisa memahami ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, ilmu filsafat, ilmu fiqih, bahkan ia juga mempelajari ilmu fiqih perbandingan empat mazhab, hingga ia mampu menguasai keseluruhannya.

Setelah semua itu telah dikuasai, sosok haus akan ilmu tak membuatnya berhenti untuk semakin mendalami, al-Ghazali melanjutkan rihlah pengembaraannya ke negeri Jurjan untuk menimba ilmu kepada Imam Abu Nashr al-Ismaili. Ia juga mendalami fiqih dengan berguru kepada Syekh Ahmad al-Razkani, dan berguru pada Imam Haramain di Naisabur tentang fiqih mazhab Syafi’i dan berbagai fiqih yang masih dalam perdebatan ulama, yaitu fiqih khilaf.

Sayangnya, masa al-Ghazali berguru pada Imam Haramain tidaklah lama, ia harus pulang dikarenakan Imam Haramain wafat. Kemudian, al-Ghazali pindah ke Baghdad. Di sana, ia sering berdebat dengan banyak ahli ilmu agama dan ulama tersohor pada masanya, dan nyatanya, al-Ghazali selalu memenangkan perdebatan itu tanpa ada yang menyanggahnya kembali. Karena kecerdasannya inilah, pemerintah di Baghdad langsung mengangkatnya menjadi salah satu tenaga pengajar di Madrasah yang ada di kota Baghdad.

Tepat pada tahun 484 H, al-Ghazali resmi hijrah ke Baghdad untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang telah ia pelajari, dan resmi menjadi pengajar di Madrasah an-Nidzamiyah, yaitu madrasah layaknya universitas yang didirikan oleh perdana mentri kota Baghdad. Selain sebagai pengajar yang setara dengan mahaguru, al-Ghazali juga dilantik sebagai Wakil rektor di sekolah tersebut.

Alhasil, hidup al-Ghazali yang pada walnya serba apa adanya, tidak lantas menjadi penyebab ia terhalang dari ilmu pengetahuan. Justru, dari kesederhanaan dan serba berkecukupan itu muncul sosok yang melambung tinggi dengan segala kerendahan hatinya. Apalah arti sederhana jika keinginan mendapatkan ilmu begitu menggelora dalam jiwa? Harta tak menjamin sepenuhnya menjadi orang luar biasa layaknya al-Ghozali. Justru serba kecukupan keluarganya, sederhana dalam kehidupannya, bisa mengantarkannya menjadi tokoh masyhur di dunia.

Imam al-Ghazali telah sukses menjadi tokoh dunia yang sangat menginspirasi dan memberikan inspirasi. Rihlah perjalannya dalam mencari ilmu layak diberikan apresiasi yang tinggi. Selain sebagai pengajar dan pendakwah, ia juga berhasil menelurkan berbagai karya dari cabang-cabang ilmu yang bisa dibaca oleh umat Islam setelahnya.

Karya al-Ghazali tidak sebatas hanya dalam satu cabang ilmu. Sebagai tokoh dan ulama besar, Imam al-Ghazali mempunyai tulisan-tulisan yang cukup banyak, dan terbagi menjadi beberapa bagian. Pertama, karyanya dalam bidang aqidah, yaitu, al-Munqidh min adh-Dhalal (penyelamat dari kesesatan). Kedua, karyanya dalam bidang tasawuf, yaitu, Ihya Ulumiddin (Kebangkitan ilmu-ilmu agama), yang merupakan kitab karyanya yang paling masyhur di kalangan umat Islam. Ketiga, karyanya dalam bidang Filsafat, yaitu, Maqasid al-Falasifah (tujuan para filusuf), kitab ini merupakan karya pertama al-Ghazali yang berisikan masalah-masalah filsafat. Keempat, karyanya dalam bidang fiqih, yaitu, al-Mushtasfa min ‘Ilm al-Ushul al-Mankhul min Ta’liqah al-Ushul (pilihan yang yang tersaing dari noda ushul fiqih). Kelima, karyanya dalam bidang logika, yaitu, Mi’yar al-Ilm (The standard measure of knowledge/kriteria ilmu).

Sebenarnya, karya al-Ghazali tidak hanya yang telah disebutkan di atas. Karyanya tidak sebatas puluhan, bahkan mencapai ratusan. Hanya saja, di antara kitab yang paling terkenal dari pelbagai cabang ilmu yang ditulis olehnya, yaitu kitab yang disebutkan di atas.